Refleksi Hari Pahlawan 10 November: 21 Pesan Pahlawan yang Penuh Semangat
Setiap tahun, 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan untuk mengenang peristiwa pertempuran di Surabaya, Jawa Timur yang berlangsung pada tanggal yang sama pada tahun 1945.
Peringatan ini didasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959, yang menetapkan 10 November sebagai Hari Pahlawan Nasional.
Momen ini bertujuan untuk selalu mengenang perjuangan para pahlawan dalam mempertahankan kemerdekaan dari penjajah di Surabaya, Jawa Timur.
Dalam perjuangan mereka membela kemerdekaan Indonesia, banyak pesan yang mereka tinggalkan.
pesan tersebut bisa dibaca saat upacara bendera atau digunakan sebagai ucapan Hari Pahlawan yang diunggah di media sosial.
Deretan pesan pahlawan nasional untuk Hari Pahlawan 10 November
Berikut sejumlah pesan pahlawan nasional yang dapat menjadi bahan renungan dan inspirasi pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 2025, sebagaimana tercantum dalam laman resmi kemensos.go.id:
- Abdul Muis: “Jika orang lain bisa, saya juga bisa, mengapa pemuda-pemuda kita tidak bisa, jika memang mau berjuang.” (Menceritakan pengalamannya di luar negeri kepada para pemuda di Sulawesi, ketika Abdul Muis melakukan kunjungan ke Sulawesi sebagai anggota Volksraad dan sebagai wakil SI).
- Ki Hajar Dewantara: “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.” (Semboyan yang diajarkan saat Ki Hajar Dewantara merintis Taman Siswa yang didirikan pada tahun 1922 dan hingga kini masih dipakai dalam dunia pendidikan).
- Dokter Cipto Mangunkusumo: “Hari kemudian dari pada tanah kita dan rakyat kita terletak dalam hari sekarang, hari sekarang itu ialah kamu, hari Generasi Muda!"
- Tjut Nyak Dien: “Kita tidak akan menang bila kita masih terus mengingat semua kekalahan.”
- Gubernur Suryo: “Berulang-ulang telah kita katakan, bahwa sikap kita ialah lebih baik hancur daripada dijajah kembali.” (Pidato Gubernur Suryo di radio menjelang pertempuran 10 November 1945 di Surabaya).
- R.A. Kartini: “Tahukah engkau semboyanku? Aku mau! Dua patah kata itu sudah beberapa kali mendukung dan membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan.”
- Jenderal Sudirman: “Tempat saya yang terbaik adalah di tengah-tengah anak buah. Saya akan meneruskan perjuangan.” (Disampaikan pada jam-jam terakhir sebelum jatuhnya Yogyakarta dan Jenderal Sudirman dalam keadaan sakit, ketika menjawab pernyataan Presiden yang menasihatinya supaya tetap tinggal di kota untuk dirawat sakitnya).
- Prof. Moh. Yamin, SH: “Cita-cita persatuan Indonesia itu bukan omong kosong, tetapi benar-benar didukung oleh kekuatan-kekuatan yang timbul pada akar sejarah bangsa kita sendiri “. (Disampaikan pada kongres II di Jakarta tanggal 27-28 Oktober 1928 yang dihadiri oleh berbagai perkumpulan pemuda dan pelajar, dimana ia menjabat sebagai sekretaris).
- Pattimura: “Pattimura-pattimura tua boleh dihancurkan, tetapi kelak Pattimura-Pattimura muda akan bangkit.” (Disampaikan pada saat akan digantung di Kota Ambon tanggal 16 Desember 1817).
- Nyi Ageng Serang: ‘Untuk keamanan dan kesentausaan jiwa, kita harus mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, orang yang mendekatkan diri kepada Tuhan tidak akan terperosok hidupnya, dan tidak akan takut menghadapi cobaan hidup, karena Tuhan akan selalu menuntun dan melimpahkan anugerah yang tidak ternilai harganya“. (Disampaikan pada saat Nyi Ageng Serang mendengarkan keluhan keprihatinan para pengikut/rakyat, akibat perlakuan kaum penjajah).
- I Gusti Ngurah Rai: “Kami sanggup dan berjanji bertempur terus hingga cita-cita tercapai” (surat I Gusti Ngurah Rai kepada Letnan Kolonel Termeulen, seperti tersalin dalam Bali Berjuang)
- Supriyadi: “Kita yang berjuang jangan sekali-kali mengharapkan pangkat, kedudukan ataupun gaji yang tinggi “. (Disampaikan pada saat Supriyadi memimpin pertemuan rahasia yang dihadiri beberapa anggota Peta untuk melakukan pemberontakan melawan Pemerintah Jepang).
- Ir. Soekarno: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.” (Pidato Hari Pahlawan 10 November 1961) “Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka” (Pidato HUT Proklamasi 1963)
- Mohammad Hatta: “Pahlawan yang setia itu berkorban, bukan buat dikenal namanya, tetapi semata-mata untuk membela cita-cita.” “Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekedar nama dan gambar seuntaian pulau di peta. Jangan mengharapkan bangsa lain respek terhadap bangsa ini, bila kita sendiri gemar memperdaya sesama saudara sebangsa, merusak dan mencuri kekayaan Ibu Pertiwi.”
- Bung Tomo: “Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapapun juga.” (Pidato Bung Tomo di radio pada saat pertempuran menghadapi Inggris di Surabaya bulan November 1945)
- Sutan Sjahrir: “Perjuangan untuk kebebasan harus terus dilakukan. Jangan berhenti berkarya untuk bangsa.” (Disampaikan pada tahun 1946, dalam pertemuan dengan para pemuda di Jakarta).
- H.O.S Tjokroaminoto: “Setiap individu memiliki tanggung jawab untuk berbuat baik dan membantu masyarakat yang kurang beruntung.“ (Disampaikan Dalam ceramah-ceramahnya pada awal 1920-an, saat memimpin Sarekat Islam).
- Pangeran Diponegoro: “Hanya dengan kerja keras dan kejujuran kita bisa mengubah nasib dan mencapai tujuan bersama.“ (Disampaikan Dalam Dalam pidato kepada pengikutnya menjelang Perang Jawa pada tahun 1825, menginspirasi untuk berjuang secara tulus).
- Raden Dewi Sartika: “Kecintaan terhadap bangsa ini harus diwujudkan dengan mencerdaskan generasi penerusnya.” (Disampaikan saat mendirikan Sakola Istri di Bandung pada 1904).
- Syafruddin Prawiranegara: “Tanah air adalah amanah yang harus kita jaga dengan segenap jiwa dan raga.” (Disampaikan saat memimpin Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatera Barat pada 1948).
- Tan Malaka: “Rakyat adalah kunci dari setiap perubahan sosial yang berarti.” (Disampaikan dalam bukunya “Madilog” pada 1943).
Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.tv dengan judul "29 Pesan-Pesan Pahlawan Nasional untuk Peringatan Hari Pahlawan 10 November 2024".
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.