Hari Pahlawan 10 November: Mengenang Silas Papare, Pejuang Papua yang Setia pada Merah Putih

Nama Silas Papare tercatat dalam sejarah sebagai salah satu pahlawan nasional asal Papua yang berjuang keras agar Irian Barat (sekarang Papua) kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Kalimat yang paling dikenang darinya, “Jangan sanjung aku, tetapi teruskanlah perjuanganku,” menjadi pesan abadi bagi generasi penerus bangsa.
Lahir dan Tumbuh sebagai Putra Papua
Dikutip dari buku "Tokoh dan Pahlawanku dari Papua", Silas Papare lahir di Serui, Papua, pada 18 Desember 1918. Setelah menamatkan Sekolah Rakyat Tiga, ia melanjutkan ke Sekolah Perawat Empat di Serui dan lulus pada 1935.
Setelah itu, Silas bekerja sebagai pegawai pemerintah Belanda, sebelum akhirnya pindah ke Sorong untuk bekerja di perusahaan minyak hingga awal 1942, saat Jepang mulai menduduki Indonesia.
Ketika Jepang menguasai Papua, Silas Papare bergabung membantu Belanda dan Sekutu melawan tentara Jepang. Karena kemampuannya memahami medan dan strategi, ia diangkat sebagai tenaga intelijen.
Atas jasanya, Silas menerima bintang jasa pangkat Sersan Kelas II pada 4 Juni 1944 dari pemerintah Belanda, serta Bintang Perunggu dari Ratu Wilhelmina pada 5 April 1945.
Ia dikenal berani mengevakuasi warga Indonesia dari hutan selama pendudukan Jepang di wilayah Serui, Biak, dan Manokwari.
Perjuangan Melawan Kembali ke Penjajahan Belanda
Namun, setelah Jepang menyerah dan Papua dibebaskan, kekuasaan daerah itu justru kembali ke tangan Nederlandsch-Indie Civil Administratie (NICA), pemerintahan sipil Hindia Belanda.
Padahal saat itu, Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaannya.
Tidak setuju dengan kembalinya kekuasaan Belanda, Silas memilih kembali ke Serui dan menjadi petani.
Namun semangat nasionalismenya tak padam. Ketika kabar Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia sampai ke Papua, Silas Papare bersama rakyat setempat bangkit melawan penjajahan.
Ia beberapa kali berhadapan dengan aparat keamanan Belanda karena perjuangannya yang gigih menuntut kemerdekaan Papua dan bergabung dengan Indonesia.
Ditangkap Belanda hingga Berkenalan dengan Sam Ratulangi
Silas Papare.
Pada Desember 1945, Silas bersama rekan-rekannya mencoba memengaruhi para pemuda yang tergabung dalam Batalyon Papua agar memberontak kepada Belanda.Namun, rencana itu gagal dan ia ditangkap lalu dipenjara di Jayapura.
Selama masa tahanan di Serui, Silas berkenalan dengan Dr. Sam Ratulangi, Gubernur Sulawesi yang diasingkan oleh Belanda.
Pertemuan ini memperkuat keyakinan Silas bahwa Papua harus menjadi bagian dari Republik Indonesia.
Setelah bebas, Silas Papare mendirikan Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII). Karena aktivitasnya itu, ia kembali ditangkap dan akan dipenjara di Biak.
Namun, Silas berhasil melarikan diri dan berlayar selama dua bulan menuju Yogyakarta.
Kisah heroiknya membuat Presiden Soekarno terkejut dan kagum, menyadari ada putra Papua yang menempuh perjalanan panjang demi memperjuangkan persatuan bangsanya.
Atas perjuangan itu, Silas kemudian ditunjuk sebagai wakil rakyat Japen Waropen/Serui untuk menghadiri Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda, pada 17 Agustus 1949.
Membentuk Organisasi Perjuangan Irian Barat
Setelah kembali ke Indonesia, Silas terus berjuang. Ia mendirikan Badan Perjuangan Irian di Yogyakarta pada Oktober 1949, serta Kompi Irian 17 di Markas Besar Angkatan Darat pada 1951.
Tujuan utamanya adalah membantu politik luar negeri Indonesia dalam memperjuangkan Irian Barat sebagai bagian dari republik di kancah internasional.
Silas juga terlibat dalam pembentukan Front Nasional Pembebasan Irian Barat (FNPIB) dan Biro Irian yang diprakarsai Presiden Soekarno.
Sebagai penghargaan atas perjuangannya, Silas Papare ditunjuk menjadi salah satu wakil Indonesia dalam perundingan New York Agreement pada 15 Agustus 1962, yang menandai berakhirnya konfrontasi Indonesia-Belanda soal Irian Barat.
Irian Barat Resmi Bergabung dengan Indonesia
Berkat kerja keras Silas Papare dan para tokoh bangsa lainnya, Irian Barat secara resmi bergabung dengan Indonesia pada 1 Mei 1963.
Silas menjadi saksi sejarah penyatuan wilayah itu secara de facto dan de jure ke dalam NKRI.
Setelah itu, Silas diangkat menjadi anggota MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara) mewakili Irian Jaya. Ia juga turut menyukseskan pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) pada 1969 yang menegaskan posisi Irian Jaya sebagai bagian sah Republik Indonesia.
Pada 1970, Silas kembali ke kampung halamannya di Serui. Ia wafat pada 7 Maret 1978 di usia 60 tahun. Untuk mengenang jasanya, pemerintah menamai sebuah kapal perang korvet KRI Silas Papare (386).
Selain itu, didirikan pula Monumen Silas Papare di dekat pantai dan pelabuhan laut Serui.
Namanya juga diabadikan dalam bentuk Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Politik (STISIPOL) Silas Papare di Jayapura, serta nama jalan di Kota Nabire.
Atas dedikasi dan perjuangannya, pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Silas Papare pada tahun 1993, bersamaan dengan tokoh-tokoh Papua lainnya, yaitu Marthen Indey dan Frans Kaisiepo.
Dalam rangka Hari Pahlawan 10 November, perjuangan Silas Papare menjadi pengingat bahwa nasionalisme dan cinta tanah air tidak mengenal batas wilayah.
Dari Serui hingga Yogyakarta, dari hutan Papua hingga meja diplomasi dunia, semangat Silas Papare menunjukkan bahwa persatuan Indonesia adalah hasil perjuangan dari seluruh anak bangsa.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.