Hari Batik Nasional Diperingati Tanggal Berapa? Simak Sejarahnya
Setiap tahun, masyarakat Indonesia merayakan Hari Batik Nasional sebagai bentuk penghormatan terhadap salah satu warisan budaya yang masih dilestarikan hingga saat ini.
Namun, sebenarnya kapan Hari Batik Nasional diperingati dan bagaimana sejarahnya hingga ditetapkan pemerintah?
Kapan diperingatinya Hari Batik Nasional?
Seorang pengunjung mencoba membatik di Rumah Batik Palbatu, Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (28/9/2024).
Dikutip situs resmi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Rabu (1/10/1015), Hari Batik Nasional ditetapkan setiap 2 Oktober, bertepatan dengan tanggal ketika UNESCO mengakui batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada tahun 2009.
Penetapan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional dilakukan melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 33 Tahun 2009, yang dikeluarkan pada 17 November 2009.
Meskipun diperingati secara nasional, tanggal ini bukan hari libur nasional atau cuti bersama.
Sejarah penetapan Hari Batik Nasional
Pendaftaraan batik ke UNESCO
Seorang pengunjung anak mencoba membatik di Rumah Batik Palbatu, Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (28/9/2024).
Upaya agar batik diakui dalam daftar warisan budaya dunia dimulai dengan pendaftaran ke UNESCO.
Pada 4 September 2008, Indonesia mengajukan batik sebagai kandidat “Intangible Cultural Heritage” (Warisan Budaya Tak Benda) di Jakarta.
Kemudian, pada 9 Januari 2009, pengajuan tersebut diterima secara resmi, dan batik kemudian dikukuhkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda dalam sidang ke-4 Komite Antar Pemerintah UNESCO yang berlangsung di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada 2 Oktober 2009.
Menindaklanjuti pengukuhan tersebut, Presiden Ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2009 (ditetapkan pada 17 November 2009).
Pemerintah kemudian mengeluarkan imbauan kepada instansi pusat, provinsi, dan kabupaten agar pegawai mengenakan batik pada hari tersebut sebagai wujud penghargaan terhadap budaya bangsa.
Perkembangan batik di Indonesia
Kata “batik” diyakini berasal dari bahasa Jawa “amba” (menulis) dan “tik” (titik), sehingga batik sering diartikan sebagai menulis dengan titik-titik.
Pada mulanya, batik berkembang di lingkungan keraton. Batik keraton memiliki aturan (pakem) tertentu dalam motif, warna, dan teknik.
Terdapat beberapa jenis batik yang hanya boleh digunakan oleh raja atau keluarg kerajaan pada perayaan tertentu, salah satunya yang paling populer yaitu Batik Parang.
Seiring waktu, batik menyebar ke kalangan non-keraton dan berkembang menjadi ragam motif dari berbagai daerah.
Beberapa daerah kemudian dikenal sebagai pusat batik pesisir atau daerah pengembangan motif bebas, seperti Cirebon, Pekalongan, dan lain-lain.
Setiap motif batik biasanya mengandung simbol atau filosofi tertentu. Misalnya motif grompol (Yogyakarta) yang melambangkan kebersamaan atau harapan agar segala sesuatu berkumpul dan harmonis.
Ragam motif batik tiap daerah melambangkan identitas lokal dan kearifan budaya daerah tersebut.
Cara memperingati Hari Batik Nasional
Beberapa cara menarik yang bisa dilakukan untuk merayakan Hari Batik Nasional. Simak beberapa caranya berikut ini.
1. Mengenakan batik
Pegawai negeri, pelajar, dan masyarakat umum dianjurkan memakai batik pada tanggal 2 Oktober sebagai penghormatan terhadap warisan budaya bangsa.
2. Pameran, workshop, dan lomba batik
Pemerintah dan komunitas budaya di beberapa daerah umumnya akan menyelenggarakan pameran batik, lokakarya membatik, atau lomba desain batik di sekolah dan masyarakat.
3. Dukungan terhadap perajin lokal
Membeli produk batik lokal menjadi cara nyata mendukung keberlangsungan industri batik di berbagai daerah.
4. Edukasikan generasi muda
Melalui workshop membantik atau kurikulum membatik di sekolah, siswa dikenalkan teknik, motif, dan filosofi batik sebagai bagian dari pelestarian budaya.