Hari Ibu 22 Desember 2025, Tiga Pahlawan Perempuan dari Sulawesi yang Mengubah Sejarah

Peringatan Hari Ibu 22 Desember 2025 menjadi momentum penting untuk mengenang perjuangan perempuan Indonesia yang tidak hanya berperan di ranah domestik, tetapi juga berdiri di garis depan perlawanan, pendidikan, dan politik.
Dari Sulawesi, tercatat sejumlah pahlawan perempuan Indonesia yang jejak perjuangannya masih relevan hingga kini.
Di antaranya adalah Maria Walanda Maramis dari Sulawesi Utara, Agung Hajjah Andi Depu dari Sulawesi Barat, serta Opu Daeng Risadju dari Sulawesi Selatan.
Ketiganya menunjukkan bahwa perjuangan perempuan Indonesia berlangsung lintas medan yakni pendidikan, organisasi, hingga perlawanan bersenjata.
Artikel ini dikutip dari buku Tokoh dan Pahlawanku dari Sulawesi.
Maria Walanda Maramis, Pelopor Emansipasi Perempuan Minahasa
Maria Walanda Maramis merupakan salah satu pahlawan nasional perempuan dari Sulawesi Utara yang dikenal sebagai pelopor perjuangan emansipasi perempuan di awal abad ke-20.
Maria Walanda Maramis lahir di Kema, Sulawesi Utara, pada 1 Desember 1872. Ia merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara, pasangan Maramis dan Sarah Rotinsulu. Kehidupan Maramis berubah drastis ketika kedua orang tuanya meninggal dunia saat ia berusia enam tahun.
Ia kemudian diasuh oleh pamannya, Rotinsulu, yang saat itu menjabat sebagai Hukum Besar di Maumbi.
saudaranya, Maramis dibawa ke Maumbi dan mengenyam pendidikan di Sekolah Melayu Maumbi, sekolah yang mengajarkan kemampuan dasar membaca, menulis, serta pengetahuan umum dan sejarah.
Pendidikan tersebut menjadi satu-satunya pendidikan formal yang diterima Maramis.
Pada masa itu, perempuan dianggap cukup dipersiapkan untuk menikah dan mengurus rumah tangga. Namun, Maria Walanda Maramis justru tampil sebagai pendobrak adat.
Ia dikenal sebagai pejuang kemajuan dan emansipasi perempuan, terutama melalui tulisan-tulisannya di surat kabar lokal Tjahaja Siang di Menado.
Melalui media, Maramis menyuarakan pentingnya pendidikan dan peran perempuan di ruang publik, termasuk politik.
Pada 8 Juli 1917, Maramis mendirikan organisasi PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunannya) dan menjadi pemimpinnya.
Organisasi ini berkembang pesat dengan mendirikan cabang di berbagai wilayah Minahasa, seperti Maumbi, Tondano, dan Motoling, bahkan meluas hingga Pulau Jawa.
Cabang PIKAT di Jawa terbentuk berkat peran aktif kaum ibu di kota-kota seperti Batavia, Bogor, Bandung, Cimahi, Magelang, dan Surabaya. Tak hanya itu, PIKAT juga membuka Sekolah Manado pada 2 Juni 1918, sebagai wujud konkret perjuangan pendidikan perempuan.
Maria Walanda Maramis terus aktif dalam PIKAT hingga akhir hayatnya. Ia wafat di Maumbi, Sulawesi Utara, pada 22 April 1924, dalam usia 51 tahun.
Sebagai penghormatan, Patung Maria Walanda Maramis didirikan di Kelurahan Komo Luar, Kecamatan Wenang, Kota Manado. Setiap 1 Desember, masyarakat Minahasa memperingati Hari Ibu Maria Walanda Maramis.
Dalam penerbitan Nederlandsche Zendeling Genootschap (1981), Nicholas Graafland menyebut Maramis sebagai perempuan teladan Minahasa yang memiliki “bakat istimewa untuk menangkap dan mengembangkan daya pikirnya, sehingga sering lebih maju daripada kaum lelaki.”
Agung Hajjah Andi Depu, Perempuan Mandar yang Memeluk Tiang Merah Putih
Ibu Agung Hajjah Andi Depu
Dari Sulawesi Barat, lahir sosok Agung Hajjah Andi Depu, pahlawan perempuan dari Mandar yang dikenal luas karena keberaniannya melawan penjajahan Belanda dan NICA.Andi Depu lahir di Tinambung, Polewali Mandar, pada 1907. Ia merupakan Raja Balanipa ke-51, putri dari Laqju Kanna Idoro, Raja Arajang Balanipa ke-50, dan Samaturu dari Mamuju. Ia menyandang gelar Maraqdia Kinena.
Pendidikan Andi Depu ditempuh hingga tingkat Volkschool (sekolah rakyat). Sejak remaja, ia telah aktif dalam berbagai organisasi kepemudaan dan kemasyarakatan.
Pada 1940, ia mendirikan Jong Islamieten Bond (JIB) di Mandar dan menjadi penyokong utama organisasi tersebut.
Pada 1944, Andi Depu mendirikan organisasi Pujingkai, wadah pelatihan dan penggemblengan semangat juang perempuan Mandar dalam menghadapi pendudukan militer Jepang.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, kabar kemerdekaan sampai ke Mandar pada 19 Agustus 1945 melalui Mysta Taico, seorang kapten Angkatan Darat Jepang. Andi Depu segera menyebarkan kabar tersebut ke seluruh wilayah Mandar.
Pada 21 Agustus 1945, dibentuk organisasi kelaskaran KRIS MUDA (Kebaktian Rahasia Islam Muda) dengan Andi Depu sebagai pimpinan. Untuk pertama kalinya, bendera Merah Putih dikibarkan di depan Istana Kerajaan Balanipa dengan tiang setinggi 9 meter.
Peristiwa heroik terjadi pada 28 Oktober 1946, ketika tentara Belanda memaksa menurunkan bendera Merah Putih. Andi Depu berlari ke tiang bendera, memeluknya, dan berseru:
“Lumbangpai Batangngu, Muliai Pai Bakkeu Anna Lumbango Bandera”
(“Biarlah saya gugur, mayatku terlangkahi, baru bendera kau tumbangkan”).
Perjuangan Andi Depu membuatnya harus berpisah dari suami dan meninggalkan istana. Ia bergerilya, keluar-masuk penjara, hingga akhir hayatnya.
Agung Hajjah Andi Depu wafat pada 18 Juni 1985 di Rumah Sakit Pelamonia Makassar, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Panaikang, Makassar.
Opu Daeng Risadju, Bangsawan Luwu yang Memilih Perlawanan
Opu Daeng Risadju, Pahlawan Perempuan dari Sulawesi Selatan
Dari Sulawesi Selatan, muncul Opu Daeng Risadju, pejuang perempuan yang rela kehilangan gelar kebangsawanan demi menentang penjajahan.Ia lahir di Palopo pada 1880, dengan nama kecil Famajjah, putri dari Muhammad Abdullah To Barengseng dan Opu Daeng Mawellu.
Gelar Opu Daeng Risadju diperolehnya setelah menikah dengan H. Muhammad Daud, seorang ulama yang pernah bermukim di Mekkah.
Sejak kecil, Opu Daeng Risadju mempelajari Al-Qur’an dan ilmu keislaman, termasuk fiqih dari karya Khatib Sulaeman Datuk Patimang.
Pada 1927, ia bergabung dengan Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) dan terpilih sebagai Ketua PSII Wilayah Tanah Luwu Palopo pada 14 Januari 1930.
Aktivitas politiknya dianggap ancaman oleh Belanda. Pada 1932, gelar kebangsawanannya dicabut, dan pada 1934 ia dipenjara selama 14 bulan. Selama penahanan, ia dipaksa melakukan kerja kasar.
Pada 1946, Opu Daeng Risadju memobilisasi pemuda melawan NICA. Ia ditangkap, disiksa, dipenjara tanpa pengadilan selama 11 bulan, hingga telinganya mengalami tuli permanen.
Opu Daeng Risadju wafat di Palopo pada 10 Februari 1964.
Hari Ibu dan Warisan Perjuangan Perempuan Sulawesi
Kisah Maria Walanda Maramis, Agung Hajjah Andi Depu, dan Opu Daeng Risadju menegaskan bahwa Hari Ibu 22 Desember adalah peringatan perjuangan perempuan Indonesia dalam arti yang sesungguhnya.
Mereka membuktikan bahwa perempuan mampu menjadi pemimpin, pendidik, penggerak politik, dan pejuang kemerdekaan.
Warisan mereka tetap hidup dan relevan, terutama dalam memperjuangkan kesetaraan gender, pendidikan perempuan, dan keadilan sosial di Indonesia hingga hari ini.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang