Hari Pahlawan: Kisah Frans Kaisiepo, Pejuang yang Perjuangkan Irian Barat untuk Indonesia

— Dalam sejarah perjuangan bangsa, nama Frans Kaisiepo menjadi salah satu simbol penting dari Tanah Papua. Lahir di Wardo, Biak, Papua, pada 10 Oktober 1921, Frans Kaisiepo tumbuh dalam lingkungan keluarga terpandang.
Ayahnya, Albert Kaisiepo, adalah seorang kepala suku di Biak Numfor sekaligus pandai besi, sedangkan ibunya bernama Alberthina Maker.
Sebagai anak kepala suku, Frans mendapatkan pendidikan kolonial yang cukup baik. Saat Jepang menduduki sebagian besar wilayah Indonesia, Biak menjadi salah satu daerah pertama di Papua yang terbebas dari penjajahan Jepang pada tahun 1944.
Di Hari Pahlawan 10 November ini, mari mengenal Frans Kaisiepo, pahlawan dari Tanah Papua.
Mengenal Nasionalisme dari Soegoro Atmoprasojo
Tahun 1944, Belanda mendirikan Papua Bestuur School (Sekolah Pegawai Papua) di Hollandia, kini Jayapura, untuk mencetak pegawai pemerintahan lokal. Sekolah itu dipimpin oleh Residen J.P. van Eechoud, yang dijuluki “Bapak Orang Papua” (van der Papoea’s).
Dari sinilah lahir generasi terpelajar Papua yang kelak menjadi pelopor perjuangan kemerdekaan.
Di sekolah inilah Frans Kaisiepo berkenalan dengan Soegoro Atmoprasojo, mantan murid Ki Hajar Dewantara di Taman Siswa. Pertemuan ini menjadi titik balik penting. Soegoro memperkenalkan nilai-nilai nasionalisme Indonesia kepada para siswa Papua.
“Soegoro Atmoprasojo adalah orang pertama yang memperkenalkan nilai-nilai nasionalisme Indonesia kepada para siswa,” tulis Corinus Krey, seperti dikutip dari buku Nasionalisme Ganda Orang Papua (Bernarda Meteray, 2012).
Dari perkenalan itu, tumbuhlah semangat kebangsaan di kalangan pemuda Papua.
Mereka mengadakan rapat-rapat rahasia, membentuk dewan perwakilan, dan menolak kembalinya kekuasaan Belanda. Beberapa tokoh di antaranya adalah Frans Kaisiepo, Marthen Indey, Silas Papare, G. Saweri, dan S.D. Kawab.
Lahirnya Nama “Irian” dan Semangat Melawan Penjajahan
Potret Frans Kaisiepo saat menjabat sebagai Gubernur Irian Jaya
Dikutip dari buku "Tokoh dan Pahlawanku dari Papua", Frans Kaisiepo dikenal sebagai sosok yang mencintai bangsanya sekaligus cerdas dalam berpikir. Ia menilai istilah “Papua” kala itu mengandung konotasi penghinaan terhadap masyarakat asli.Karena itu, ia mengusulkan nama “Irian”, yang dalam bahasa Biak berarti “berjemur” atau “terpapar sinar matahari” yang melambangkan semangat keterbukaan dan persatuan.
Bahkan, di akhir masa sekolahnya, Frans menyuruh saudaranya Markus Kaisiepo mengganti papan nama sekolah dari Papua Bestuurschool menjadi Irian Bestuurschool.
Beberapa hari menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia (14 Agustus 1945), Frans dan kawan-kawan memperdengarkan lagu “Indonesia Raya” secara sembunyi-sembunyi di Kampung Harapan, Jayapura.
Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945 dikumandangkan oleh Soekarno-Hatta, semangat itu menjalar luas ke seluruh tanah Papua.
Frans bersama Silas Papare, Albert Karubuy, dan Marthen Indey bertekad memperjuangkan agar Papua bersatu dengan Republik Indonesia.
Perjuangan Mengibarkan Merah Putih di Tanah Irian
Pada 31 Agustus 1945, bertepatan dengan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina, Frans dan kawan-kawan mengadakan upacara pengibaran bendera Merah Putih di Biak. Tindakan berani itu membuat Belanda marah besar.
Tak berhenti di sana, Frans mendirikan Partai Indonesia Merdeka (PIM) di Biak pada 10 Juli 1946. Melalui partai ini, ia terus memperjuangkan kemerdekaan Irian Barat dari cengkeraman kolonial Belanda.
Akhir tahun 1946, Frans diundang oleh Belanda dalam Konferensi Malino di Sulawesi Selatan, yang dipimpin oleh Dr. H.J. van Mook. Dalam forum itu, Frans menjadi satu-satunya wakil Papua.
Ia dengan tegas menolak gagasan pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT) dan justru mengusulkan agar Papua bersatu dengan Sulawesi Utara dalam bingkai Republik Indonesia.
Dalam konferensi itulah, nama “Irian” untuk menggantikan “Papua” resmi diperkenalkan.
Tahun 1948, Frans terlibat dalam gerakan perlawanan di Biak melawan pemerintah kolonial Belanda. Meski ditangkap, Belanda tak berani menghukumnya terlalu keras. Ia tetap menjadi simbol perlawanan rakyat Irian.
Ketika ditunjuk Belanda menjadi anggota Delegasi Nederlands Nieuw Guinea dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag tahun 1949, Frans menolak karena tidak ingin didikte oleh penjajah. Akibatnya, ia dipenjara selama 1954–1961 sebagai tahanan politik.
TRIKORA dan Kemenangan Rakyat Irian Barat
Setelah bebas, Frans mendirikan Partai Politik Irian yang berjuang agar Irian Barat kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Puncak perjuangan itu terjadi pada 19 Desember 1961, saat Presiden Soekarno memproklamasikan TRIKORA (Tiga Komando Rakyat) di Yogyakarta.
Isi TRIKORA antara lain:
- Menggagalkan pembentukan “Negara Papua” buatan Belanda.
- Mengibarkan bendera Merah Putih di Irian Barat.
- Mempersiapkan mobilisasi umum untuk mempertahankan kesatuan bangsa.
Frans Kaisiepo menjadi salah satu tokoh Papua yang aktif membantu para sukarelawan Indonesia dalam operasi rahasia di Irian Barat.
Perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil dengan Perjanjian New York pada 15 Agustus 1962, yang menegaskan bahwa Belanda harus menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia.
Serah terima wilayah dilakukan pada 1 Mei 1963, di bawah pengawasan PBB.
Gubernur Papua dan Pejuang Pepera
Pada tahun 1964, Frans Kaisiepo diangkat menjadi Gubernur Irian Barat (kini Papua), menggantikan Elieser Jon Bonay. Dalam masa kepemimpinannya, ia mendorong terlaksananya Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969, yang akhirnya menetapkan bahwa Papua tetap menjadi bagian dari Republik Indonesia.
Setelah masa jabatannya berakhir, Frans dipercaya menjadi anggota MPR (1972) dan kemudian Hakim Tertinggi Dewan Pertimbangan Agung (1973–1979).
Frans Kaisiepo wafat pada 10 April 1979 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cendrawasih, Jayapura. Namanya kini diabadikan sebagai:
- Bandara Frans Kaisiepo di Biak,
- Kapal Republik Indonesia (KRI) Frans Kaisiepo,
- serta gambar pada uang kertas Rp10.000 terbitan baru.
Atas jasa-jasanya, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1993, bersama penghargaan Bintang Mahaputera Adipradana kelas dua.
Frans Kaisiepo bukan hanya tokoh politik, melainkan lambang persatuan dan kebangsaan dari Timur Indonesia. Ia membuktikan bahwa semangat cinta tanah air tidak mengenal batas geografis.
Dalam momentum Hari Pahlawan 10 November, kisah Frans Kaisiepo mengingatkan bangsa Indonesia bahwa kemerdekaan tidak diraih hanya dengan senjata, tetapi juga dengan keberanian berpikir dan tekad mempertahankan persatuan.
“Irian bukan sekadar nama, tetapi semangat yang berjemur di bawah matahari Indonesia.”
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.