Mengapa Ponorogo Disebut Bumi Reog? Simak Sejarahnya

Ponorogo, sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, dikenal luas sebagai Kota Reog atau Bumi Reog. Julukan ini tak lepas dari kekayaan budaya yang dimiliki daerah ini, terutama kesenian tradisional Reog Ponorogo, yang menjadi identitas khas masyarakatnya.
Selain itu, Ponorogo juga terkenal sebagai Kota Santri karena keberadaan banyak pondok pesantren, termasuk Pondok Modern Darussalam Gontor di Desa Gontor, Kecamatan Mlarak.
Namun, di balik kesenian Reog yang memikat dan julukan santri, terdapat sejarah panjang yang menjadikan Ponorogo sebagai kota dengan identitas budaya dan spiritual yang kuat.
Sejarah Awal Ponorogo: Bathoro Katong dan Kadipaten Ponorogo
Sejarah Ponorogo tak bisa dilepaskan dari Bathoro Katong, atau dikenal juga sebagai Raden Katong, tokoh yang dinobatkan sebagai adipati pertama Kadipaten Ponorogo.
Menurut buku Babad Ponorogo karya Poerwowidjojo (1997), Bathoro Katong memiliki nama asli Lembu Karnigoro, putra kelima Prabu Brawijaya V sekaligus adik Raja Demak, Raden Patah.
Agar masyarakat yang masih menganut Hindu-Buddha dapat menerima kehadirannya, Raden Patah memberi nama Bathoro Katong.
Nama Bathoro Katong berasal dari kata “batara” yang berarti dewa dan “katon” yang berarti menampakkan diri, sehingga secara harfiah berarti dewa yang mewujud dalam bentuk manusia.
Kedatangan Bathoro Katong di wilayah Wengker menjadi titik awal berdirinya Ponorogo. Ia memilih lokasi yang kini berada di Dusun Plampitan, Kelurahan Setono, Kecamatan Jenangan, karena dianggap memenuhi syarat untuk pemukiman.
Dengan ditemani Selo Aji, Ki Ageng Mirah, dan pengikutnya, Bathoro Katong mulai membangun pemukiman serta melakukan konsolidasi wilayah sejak 1482 Masehi.
“Antara tahun 1482-1486 M, Raden Bathoro Katong mulai menyusun kekuatan dan melakukan pendekatan dengan Ki Ageng Kutu serta seluruh penduduknya. Dengan dukungan banyak pihak, akhirnya Kadipaten Ponorogo berdiri pada 11 Agustus 1496 Masehi, dan Bathoro Katong menjadi adipati pertama,” tulis Poerwowidjojo.
Tanggal ini kini diperingati sebagai Hari Jadi Kota Ponorogo, yang ditetapkan berdasarkan kajian benda purbakala dan sumber sejarah seperti Handbook of Oriental History.
Asal Usul Nama Ponorogo
Festival Nasional Reog Ponorogo 2023, Aloon-Aloon Ponorogo, Jawa Timur, (15/7/2023). Reog Ponorogo menjadi Warisan Budaya Tak Benda UNESCO.
Nama Ponorogo berakar dari musyawarah antara Bathoro Katong, Kyai Mirah, Selo Aji, dan Joyodipo. Mereka sepakat menamai wilayah baru ini Pramana Raga, yang kemudian berubah menjadi Ponorogo.“Pramana” berarti daya kekuatan, rahasia hidup, permono, atau wadi, sedangkan “Raga” berarti badan atau jasmani. Gabungan keduanya mengandung makna mawas diri, atau kemampuan mengendalikan diri dan sifat batin agar dapat menempatkan diri di mana pun dan kapan pun.
Selain sejarahnya yang kaya, Ponorogo terkenal dengan kesenian Reog Ponorogo. Kesenian ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga simbol identitas budaya dan spiritual masyarakat Ponorogo.
Setiap tahun, pada bulan Suro, Ponorogo menggelar Grebeg Suro, pesta rakyat yang menampilkan Festival Reog Nasional, Pawai Lintas Sejarah dan Kirab Pusaka, serta Larungan Risalah Doa di Telaga Ngebel.
Julukan Kota Reog atau Bumi Reog semakin menguat karena seni tradisi ini menjadi kebanggaan daerah, sekaligus menarik wisatawan lokal maupun mancanegara.
Geografi dan Administrasi Ponorogo
Secara geografis, Ponorogo terletak di sebelah barat Provinsi Jawa Timur, berbatasan dengan Jawa Tengah, sekitar 200 km barat daya dari Surabaya. Kabupaten ini memiliki luas 1.371,78 km², terbagi menjadi 21 kecamatan, 279 desa, dan 26 kelurahan. Ibukotanya berada 27 km selatan Kota Madiun, di jalur Madiun–Pacitan.
Kabupaten Ponorogo memiliki dua sub area: dataran tinggi (meliputi Kecamatan Ngrayun, Sooko, Pulung, dan Ngebel) serta dataran rendah. Wilayah ini dilalui 14 sungai, menjadi sumber irigasi untuk pertanian padi dan hortikultura, sementara sisanya didominasi hutan dan lahan tegal pekarangan.
Iklim Ponorogo terbagi menjadi musim penghujan dan kemarau, mendukung aktivitas pertanian sekaligus pelestarian budaya.
Dari akar sejarah Bathoro Katong hingga seni Reog yang mendunia, Ponorogo adalah kota dengan identitas kuat, kaya budaya, dan nilai spiritual.
Julukan Kota Reog bukan sekadar simbol, tetapi cermin perjalanan sejarah, budaya, dan karakter masyarakat Ponorogo yang tetap lestari hingga kini.
Sebagian Artikel Telah Tayang di Kompas.com dengan Judul
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.