Hari Pahlawan: Mengenang Johanes Abraham Dimara, Pejuang dari Tanah Papua

Pada peringatan Hari Pahlawan 10 November, nama Johanes Abraham Dimara layak dikenang sebagai salah satu sosok penting dalam sejarah perjuangan bangsa.
Ia dikenal sebagai pahlawan nasional asal Papua yang berperan besar dalam perjuangan pembebasan Irian Barat dari tangan kolonial Belanda.
Johanes Abraham Dimara lahir pada 16 April 1916 di Korarima, Pulau Biak, Papua, dari pasangan Dimara dan Katemba.
Sejak muda, ia dikenal sebagai sosok yang disiplin, teguh, dan memiliki jiwa kepemimpinan. Setelah menempuh pendidikan dasar di Biak, Johanes melanjutkan pendidikan ke Sekolah Guru Kristen di Serui.
Awal Perjuangan dan Semangat Kebangsaan
Semangat nasionalisme Johanes mulai tumbuh saat ia menjadi guru. Di tengah tekanan kolonial Belanda, ia sering menyisipkan nilai-nilai perjuangan kepada murid-muridnya.
Ia mengajarkan tentang pentingnya persatuan bangsa dan semangat merdeka dari penjajahan.
Pada masa pendudukan Jepang, Johanes sempat ditawan karena menolak bekerja sama. Namun, pengalaman itu justru menambah tekadnya untuk memperjuangkan kemerdekaan tanah kelahirannya, Papua.
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Johanes Abraham Dimara segera bergabung dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Ia terlibat dalam berbagai pertempuran melawan Belanda, termasuk di wilayah Papua dan Maluku.
Memimpin Perlawanan di Papua dan Seram
Dikutp dari buku berjudul "Tokoh dan Pahlawanku dari Papua", pada akhir 1940-an, Johanes aktif dalam perjuangan bersenjata di daerah Seram Selatan. Ia menjadi komandan pasukan rakyat yang menentang kembalinya kekuasaan Belanda. Dalam perjuangan itu, Johanes menunjukkan keberanian luar biasa.
“Lebih baik mati di tanah sendiri daripada hidup dalam penjajahan,” demikian prinsip hidup yang sering ia ucapkan di hadapan rekan-rekan seperjuangannya.
Namun perjuangan itu harus dibayar mahal.
Johanes Abraham Dimara akhirnya ditangkap oleh Belanda pada tahun 1946 dan dijatuhi hukuman penjara di Digul, Papua, selama beberapa tahun.
Bebas dan Terus Berjuang untuk Irian Barat
Setelah bebas, Johanes tidak menyerah. Ia kembali berjuang bersama pemerintah Indonesia untuk memasukkan Irian Barat (kini Papua) ke dalam wilayah Republik Indonesia.
Pada tahun 1950, ia diangkat menjadi anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) dengan pangkat Mayor dan bergabung dalam operasi pembebasan Irian Barat.
Salah satu momen penting dalam sejarah perjuangannya terjadi pada 19 Desember 1961. Saat itu, Johanes Abraham Dimara ikut hadir dalam Upacara Trikora (Tri Komando Rakyat) yang dipimpin langsung oleh Presiden Soekarno di Yogyakarta.
Dalam upacara itu, Soekarno memerintahkan rakyat Indonesia untuk mengibarkan Sang Merah Putih di seluruh Irian Barat, menolak pembentukan negara boneka Papua buatan Belanda, dan memperkuat pertahanan nasional.
Semangat Johanes yang pantang menyerah membuat Soekarno menjadikannya simbol perjuangan rakyat Irian Barat.
Bahkan, dalam salah satu pidatonya, Soekarno menyebut Dimara sebagai “Putra terbaik dari Timur yang berjuang tanpa pamrih untuk keutuhan Indonesia.”
Rantai yang Terputus
Gerhana bulan total atau ''Blood Moon'' terlihat dari Monumen Perjuangan Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Sabtu (28/7/2018). Gerhana Bulan tersebut merupakan yang terlama pada abad ini dengan durasi sepanjang 103 menit dan seluruh proses gerhana sekitar 6,5 jam.
Ketika Presiden Soekarno mengumandangkan Trikora, ia menjadi contoh sosok orang muda Papua dan bersama Bung Karno ikut menyerukan Trikora di Yogyakarta.Ia juga turut menyerukan seluruh masyarakat di wilayah Irian Barat supaya mendukung penyatuan wilayah I rian Barat ke dalam pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pada tahun 1962, diadakanlah Perjanjian New York. Ia menjadi salah satu delegasi bersama Menteri Luar Negeri Indonesia. Isi dari perjanjian itu akhirnya mengharuskan pemerintah Kerajaan Belanda untuk bersedia menyerahkan wilayah Irian Barat ke tangan pemerintah Republik Indonesia.
Maka mulai dari saat itu wilayah Irian Barat masuk menjadi salah satu bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesi.
Pada saat diadakan pawai 17 Agustus di depan i stana , Abraham Damara melakukan pawai dengan mengenakan rantai yang terputus. Saat itu monas belum ada.
Dari sanalah presiden Soekarno terinspirasi membuat patung pembebasan Irian Barat yang lokasinya jarak tidak sampai 1,5 km dari Istana negara, yakni di Lapangan Banteng.
Hal itu diceritakan oleh Abraham Dimara dalam buku yang ditulis oleh Carmelia Sukmawati berjudul, “ Fai Do Ma, Mai Do Fa , Lintas Perjuangan Putra Papua,J.A. Dimara (2000).
Simbol Irian Barat dan Patung di Monas
Kisah perjuangan Johanes Abraham Dimara juga diabadikan dalam bentuk patung yang berdiri di Monumen Nasional (Monas), Jakarta.
Patung yang dikenal sebagai Patung Pembebasan Irian Barat atau Patung Dirgantara Irian Barat menggambarkan sosok pria dengan tangan terbelenggu yang berhasil mematahkan rantai di kedua tangannya, melambangkan semangat pembebasan rakyat Papua dari penjajahan.
Patung ini diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1963, tak lama setelah Irian Barat resmi menjadi bagian dari Indonesia.
Sosok yang menjadi inspirasi patung tersebut adalah Johanes Abraham Dimara.
Johanes Abraham Dimara wafat pada 20 Oktober 2000 di Ambon, Maluku, pada usia 84 tahun.
Atas jasa dan pengorbanannya yang besar bagi bangsa, pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Johanes Abraham Dimara pada tahun 2010.
Gelar tersebut diberikan melalui Keputusan Presiden Nomor 57/TK/2010. Namanya kemudian diabadikan menjadi nama Kapal Perang Republik Indonesia (KRI Johanes Abraham Dimara-365), sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi dan semangat juangnya dalam membela tanah air.
Johanes Abraham Dimara menjadi contoh nyata bagaimana semangat kebangsaan dan cinta tanah air tidak mengenal batas geografis.
Dari ujung timur Indonesia, ia menunjukkan bahwa perjuangan untuk kemerdekaan dan persatuan bangsa adalah tanggung jawab bersama.
Kisah hidupnya mengajarkan pentingnya keteguhan, kesetiaan pada NKRI, dan keberanian menghadapi penindasan.
“Perjuangan belum selesai selama masih ada ketidakadilan,” demikian pesan moral yang selalu melekat dari perjalanan hidupnya.
Pada setiap peringatan Hari Pahlawan, sosok Johanes Abraham Dimara mengingatkan kita bahwa kemerdekaan Indonesia tidak hanya lahir dari darah para pejuang di Jawa atau Sumatera, tetapi juga dari tanah Papua. tempat di mana semangat merah putih berkibar dengan gagah berani.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.