Peringati Hari Pahlawan, PDIP: Generasi Muda Pegang Kunci Wujudkan Indonesia Emas 2045
Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan (PDIP), I Wayan Sudirta mengatakan semangat Hari Pahlawan tanggal 10 November adalah pengejawantahan dari seruang Presiden ke-1 RI, Soekarno (Bung Karno) tentang ‘Jas Merah’ atau jangan sekali-kali meninggalkan sejarah dan menjadi pengingat bahwa komitmen abadi adalah menjaga cita-cita konstitusi.
“Oleh karena itu, Hari Pahlawan menuntut kita untuk menjadi pahlawan masa kini dengan mengisi kemerdekaan melalui pembangunan karakter dan intelektual, sesuai pesan Soekarno yakni perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri,” kata Wayan melalui keterangannya pada Senin, 10 November 2025.
Menurut dia, medan pertempuran masa kini telah berevolusi dan menjadi lebih kompleks. Musuh yang dihadapi tidak lagi berupa invasi militer, melainkan ancaman multidimensional yang bersifat non-konvensional, meliputi kemiskinan, kebodohan, korupsi, radikalisme digital, perpecahan, dan krisis moral.
“Oleh karena itu, definisi pahlawan pun harus meluas. Kepahlawanan kontemporer adalah perjuangan tanpa senjata untuk mengatasi tantangan tersebut dan mewujudkan cita-cita bangsa. Pahlawan Masa Kini adalah mereka yang berjuang dengan integritas, inovasi, serta nilai-nilai Pancasila dan kemanusiaan,” jelas dia.
Contohnya adalah pahlawan integritas, di mana mereka yang terlepas dari jabatan dan profesinya, menegakkan kejujuran dan transparansi secara konsisten. Mereka yang berani melaporkan korupsi, menolak suap, dan mengedepankan moralitas adalah pejuang sejati yang mempertahankan keadilan sosial di ranah publik.
“Pahlawan Inovasi dan Sains, contohnya Ilmuwan, insinyur, dan developer muda yang bekerja siang malam menciptakan teknologi, melawan ketertinggalan teknologi, dan menjaga kedaulatan digital bangsa. Mereka adalah pahlawan yang mewujudkan Hikmat Kebijaksanaan dalam bentuk kemajuan IPTEK,” ungkapnya.
Selanjutnya, pahlawan kemanusiaan dan lingkungan seperti tenaga kesehatan di garda terdepan, relawan bencana, guru di pelosok negeri, atau aktivis lingkungan yang berjuang tanpa pamrih. Terakhir, pahlawan ekonomi dan kreativitas yang merupakan pelaku UMKM yang ulet, gigih, dan mampu membuka lapangan kerja.
“Mereka adalah sosok yang membangun kemandirian ekonomi, menunjukkan patriotisme ekonomi di era global. Intinya, pahlawan masa kini mereka yang mengimplementasikan nilai-nilai luhur Pancasila dalam profesi dan peran masing-masing, selalu konsisten dengan semangat pengorbanan demi kepentingan bangsa yang lebih besar,” kata dia.
Menurut dia, tujuan akhir dari menghayati Hari Pahlawan adalah mengobarkan semangat untuk mencapai visi besar Indonesia Emas 2045, di mana Indonesia genap berusia satu abad. Visi ini proyeksi konkret menempatkan Indonesia sebagai negara maju, berdaulat, adil, dan makmur, sejajar dengan negara-negara adidaya.
“Generasi muda, yang akan menjadi 'Generasi Emas 2045,' memegang kunci historis ini. Mereka harus menerjemahkan semangat 10 November ke dalam tiga mandat perjuangan,” ujarnya.
Pertama, penguatan karakter dan SDM unggul untuk melawan kemalasan dan ketidakjujuran dengan disiplin, kreativitas, dan integritas. Ini adalah revolusi karakter ala Bung Karno. Kedua, kedaulatan teknologi dan Inovasi dengan menggantikan perlawanan fisik dengan pertempuran di bidang riset, inovasi, dan penguasaan teknologi. Jadilah pahlawan yang memimpin, bukan mengekor.
Ketiga, memperkokoh persatuan nasional dengan menjadikan Pancasila sebagai benteng ideologi di tengah polarisasi. Melawan radikalisme digital dan berita palsu (hoax) yang mengancam persatuan Indonesia. Kata dia, jalan pahlawan adalah jalan perjuangan tanpa akhir (No Journey’s End).
“Tugas kita bukanlah mengenang masa lalu, melainkan melanjutkan nyala api semangat 45 ke dalam konteks tantangan modern. Dengan menjadikan Pancasila sebagai kompas dan semangat Bung Karno sebagai energi abadi, kita akan memastikan bahwa pengorbanan para pahlawan akan terbayar lunas dengan terwujudnya Indonesia Emas 2045,” imbuhnya.
Secara fundamental, semangat yang diwariskan oleh para pahlawan adalah komitmen abadi terhadap tegaknya tujuan bernegara yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 yaitu melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.
“Dengan melawan korupsi dan kebodohan, pahlawan masa kini secara langsung mewujudkan janji konstitusi untuk keadilan sosial,” ucapnya.
Oleh karena itu, perjuangan melawan musuh non-konvensional adalah pertempuran untuk mempertahankan raison d'être negara hukum Pancasila dan menjamin bahwa kedaulatan yang direbut dengan darah tidak digadaikan oleh kelemahan moral internal. Lanjut dia, estafet kepahlawanan menuntut generasi bangsa untuk mengubah paradigma sejarah menjadi etika sosial.
“Tugas historis kita adalah memastikan bahwa narasi "Indonesia Emas 2045" adalah puncak pembayaran lunas atas janji kemerdekaan, bukan sekadar slogan. Ini hanya dapat dicapai melalui Gerakan Revolusi Mental dan Penguatan Karakter yang berbasis Pancasila,” imbuhnya.
Di samping itu, ia mengatakan Hari Pahlawan memiliki korelasi esensial dengan Pancasila, sebab Pancasila adalah Philosofische Grondslag (dasar filosofis) yang menjadi matriks epistemologis dan etis bagi perjuangan mereka.
Cermin Ketuhanan Yang Maha Esa (Sila Pertama) merupakan keyakinan spiritual yang menjadi sumber kekuatan moral. Pahlawan berjuang atas dasar iman, bahwa perjuangan membela tanah air adalah panggilan suci.
Selanjutnya, kemanusiaan yang adil dan beradab (Sila Kedua) menggambarkan bahwa perlawanan terhadap penjajahan adalah perwujudan nyata dari penolakan atas segala bentuk ketidakadilan, eksploitasi, dan ketidakberadaban kolonial.
Lalu, Persatuan Indonesia (Sila Ketiga) dapat terlihat bahwa Peristiwa 10 November menunjukkan bagaimana suku, agama, dan golongan bersatu-padu tanpa memandang perbedaan, melawan musuh bersama.
Selanjutnya, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan (Sila Keempat) merupakan semangat kerakyatan dalam pengertian energi kolektif yang menggerakkan perlawanan.
Terakhir, melalui keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia (Sila Kelima) tercipta cita-cita kemerdekaan yang diperjuangkan adalah mewujudkan masyarakat adil dan makmur, di mana kekayaan alam dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat.
“Inilah motivasi utama para pahlawan untuk berjuang hingga titik darah penghabisan. Dengan demikian, nilai-nilai kepahlawanan yang kita peringati adalah aktualisasi praksis dan heroik dari lima sila Pancasila itu sendiri,” pungkasnya.