Tren Nail Art Makin Populer, Dokter Ingatkan Tidak Sembarangan Melepas Kuku Palsu
Industri nail art berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Dari kota besar hingga daerah, salon khusus nail gel dan nail art bermunculan, termasuk di Surabaya, Jawa Timur.
Harga yang ditawarkan bervariasi, mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah tergantung desain dan teknik.
Bagi sebagian perempuan dengan kuku mudah patah atau tipis, kuku palsu menjadi solusi praktis untuk tampil percaya diri. Di sisi lain, peluang usaha di bidang ini terbuka lebar, bahkan bagi pelaku UMKM tanpa latar belakang pendidikan formal khusus.
Namun, di balik pertumbuhan bisnis tersebut, aspek keamanan tetap menjadi perhatian utama.
Dosen Dermatologi dan Venereologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Dr. Medhi Denisa Alinda, dr.,Sp.DVE,Subsp.D.T., menekankan pentingnya prosedur yang benar agar kuku asli tidak rusak.
Mencegah Kerusakan Kuku
Menurutnya, kerusakan kuku paling sering terjadi saat proses pelepasan. Dimana Aseton (dimetil keton) merupakan bahan pelepas yang paling dianjurkan untuk produk kuku palsu.
"Prosesnya dilakukan dengan merendam kuku dalam wadah kecil berisi pelarut hingga lapisan kuku palsu melunak dan terlepas secara perlahan," kata dokter yang biasa disapa Medhi kepada Kompas.com.
Selain aseton, etil asetat dan metil-etil-keton (MEK) juga dapat digunakan, meskipun aseton tetap menjadi pilihan utama.
Sebab jenis nail wraps berbahan sianoakrilat relatif lebih mudah dilepas, karena bukan polimer berikatan silang kuat dan memiliki ketahanan terhadap pelarut yang lebih rendah. Biasanya cukup direndam kurang dari 10 menit hingga terlepas sepenuhnya.
Prefiling atau pengikiran awal dapat membantu mengurangi ketebalan lapisan dan mempercepat proses. Sehingga tindakan ini harus dilakukan hati-hati agar tidak mengikis lempeng kuku asli.
“Mencungkil atau menarik paksa kuku palsu dapat menyebabkan lempeng kuku ikut terangkat dan mengalami kerusakan signifikan,” imbuhnya.
Ilustrasi nail art. Terlalu sering nail art bisa sebabkan infeksi jamur, gangguan pernapasan, hingga kerusakan kuku jika dilakukan tanpa jeda dan tanpa prosedur higienis.
Perlukah Kuku “Istirahat”?
Seperti diketahui sampai kini belum ada batasan durasi optimal yang secara pasti dinyatakan aman untuk penggunaan kuku palsu secara terus-menerus.
Namun, penelitian menunjukkan penggunaan lebih dari enam bulan dapat menurunkan kandungan asam amino pada lempeng kuku. Kondisi tersebut membuat kuku menjadi lebih rapuh.
Selain itu, pemasangan dan pelepasan berulang juga dapat menyebabkan kuku tampak aus, tipis, kasar, dan kusam.
"Jika kondisi tersebut terlihat, sebaiknya beri jeda sebelum pemasangan berikutnya agar kuku memiliki waktu untuk pulih," kata dokter yang juga bertugas di RSUD dr.Soeotmo ,RS Unair dan Erha Ultimate Jemursari.
Dr. Medhi juga meluruskan mitos bahwa kuku harus dilepas secara rutin agar bisa “bernapas”. Sebab kuku bukan jaringan hidup yang bernapas seperti kulit.
"Pelepasan sebaiknya dilakukan hanya bila diperlukan dan dengan teknik yang benar," sambungnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang