BB Anak Seret? Dokter Ingatkan Jangan Sembarang Beri Susu Tinggi Kalori

sutingkal, Sutingkal adalah, susu tinggi kalori, BB Anak Seret? Dokter Ingatkan Jangan Sembarang Beri Susu Tinggi Kalori

Menghadapi kondisi berat badan rendah pada anak sering kali membuat para orangtua merasa khawatir. Di media sosial, istilah "sutingkal" atau susu tinggi kalori masih populer di kalangan para orangtua sebagai solusi untuk mendongkrak berat badan anak.

Untuk diketahui, sutingkal masuk dalam kategori Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK). Berbeda dengan susu formula biasa, sutingkal memiliki kepadatan energi yang jauh lebih tinggi untuk memenuhi kebutuhan kalori anak yang tertinggal pertumbuhannya.

"Sutingkal adalah nutrisi yang memiliki kalori lebih tinggi daripada susu formula biasa. Kalau susu formula biasa 0,7 kalori per mililiter, kalau susu tinggi kalori harus di atas 0,8 atau bahkan 1 kalori per mililiter," ungkap dokter spesialis anak dr. Ian Suryadi Suteja, Sp.A dalam acara Health Corner bertajuk "Pejuang Berat Badan Anak: Nutrisi Tepat, Tumbuh Hebat" di Jakarta Pusat, Jumat (6/3/2026).

Syarat medis pemberian sutingkal

Meski efektif menaikkan berat badan, sutingkal tidak bisa diberikan secara instan setiap kali anak susah makan.

Berdasarkan aturan medis, terdapat tiga syarat utama anak boleh mendapatkan intervensi ini, yaitu berat badan tidak naik selama dua bulan berturut-turut, kondisi stunting, atau anak dengan gizi kurang.

sutingkal, Sutingkal adalah, susu tinggi kalori, BB Anak Seret? Dokter Ingatkan Jangan Sembarang Beri Susu Tinggi Kalori

dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med Sc, Sp.A (ujung kanan) dalam acara Health Corner bertajuk Pejuang Berat Badan Anak: Nutrisi Tepat, Tumbuh Hebat di Jakarta Pusat, Jumat (6/3/2026).

Menurut dr. Ian, dokter akan melakukan evaluasi mendalam terlebih dahulu sebelum meresepkan PKMK. Jika berat badan anak baru stagnan selama satu bulan, biasanya akan dicari tahu penyebabnya, misalnya apakah anak baru saja sembuh dari sakit.

"Jadi enggak langsung kita buru-buru pakai susu tinggi kalori. Tapi kalau sudah diintervensi (dengan cara lain), dicoba edukasi segala macam, tetap enggak naik juga dua bulan berturut-turut, apalagi garisnya (kurva tumbuh kembang anak di buku Kesehatan Ibu dan Anak) sudah turun ke bawah, itu sudah saatnya diberikan PKMK," terang dr. Ian.

Bahaya inisiatif membeli sendiri

Selain harganya yang tidak murah, dr. Ian sangat tidak menyarankan orangtua membeli sutingkal secara mandiri, misalnya melalui platform belanja daring.

Penggunaan tanpa resep dokter sering kali berujung pada kegagalan intervensi. Doketr Ian menceritakan pengalamannya menangani pasien yang datang dengan sutingkal hasil beli sendiri, tetapi berat badan anaknya tetap tidak naik.

"Ternyata, cara pengadukan dan cara pembuatannya salah, ya berat badannya nggak naik-naik. Itu pasti berpengaruh, makanya sebaiknya konsultasikan dulu ke dokter," tutur dr. Ian.

Ia menekankan bahwa pengawasan dokter sangat penting karena sutingkal mengandung konsentrasi protein, mineral, dan vitamin yang sangat tinggi, sehingga harus disesuaikan dengan kondisi fisik anak.

Memiliki risiko obesitas

Pengawasan ketat juga bertujuan agar orangtua tahu kapan harus menghentikan konsumsi susu tersebut. Dalam sebuah kasus nyata, dr. Ian menemukan orangtua yang terlalu panik dan terus memberikan sutingkal, meski berat badan anak sudah mencapai target normal.

Karena tidak melakukan kontrol rutin dan terus memberikan susu tersebut selama lima bulan tanpa pengawasan, anak yang tadinya kekurangan gizi justru berubah menjadi obesitas.

"Harusnya kita setop, tapi ternyata orang tuanya enggak kontrol. Akhirnya jadi kelebihan berat badan, hampir obesitas. Ingat, yang paling bagus adalah normal. Enggak bagus kalau kelebihan berat badan, tapi enggak bagus juga kalau gizi kurang," uca dr. Ian.

Sutingkal bikin anak ogah makan?

Terkait kekhawatiran orangtua bahwa sutingka akan membuat anak kenyang dan menolak makan nasi, dr. Ian menuturkan bahwa hal tersebut tidak benar.

Pasalnya, jika jadwal pemberiannya benar, sutingkal justru akan memperbaiki struktur saluran cerna anak.

"Dengan pemberian sutingkal, berat badan anak naik dengan cepat, ukuran lambung dan penyerapan ususnya jadi bagus. Setelah perbaikan gizi, saluran cernanya jadi lebih baik secara strukturnya. Dia jadi lebih nafsu makan," papar dia.

Dengan pencernaan yang sudah membaik, nafsu makan anak diharapkan tetap stabil, bahkan setelah terapi susu dihentikan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang