Krisis Shutdown AS Picu Pengurangan Ribuan Penerbangan Domestik
— Pemerintah Amerika Serikat (AS) akan memangkas kapasitas penerbangan hingga 10 persen di 40 bandara utama mulai Jumat (7/11/2025) jika penutupan (shutdown) pemerintahan yang sudah berlangsung lebih dari sebulan tidak segera berakhir.
Keputusan ini diumumkan oleh Menteri Transportasi AS Sean Duffy, yang menegaskan langkah tersebut diambil demi menjaga keselamatan penerbangan di tengah krisis tenaga kerja pengatur lalu lintas udara (air traffic controllers).
Langkah drastis ini terjadi ketika shutdown memasuki hari ke-36, menjadikannya yang terpanjang dalam sejarah Amerika Serikat.
Penutupan tersebut membuat 13.000 pengatur lalu lintas udara dan 50.000 petugas keamanan bandara harus tetap bekerja tanpa gaji sejak 1 Oktober 2025.
“Kami tidak bisa mengabaikan tekanan yang meningkat di sistem penerbangan ini. Keputusan ini kami ambil agar sistem tetap aman hari ini dan esok hari,” ujar Bryan Bedford, Kepala Federal Aviation Administration (FAA), dilansir dari BBC.
Pengurangan penerbangan bertahap
Menurut FAA, pengurangan kapasitas akan dilakukan secara bertahap, dimulai dengan 4 persen pada Jumat, meningkat menjadi 5 persen pada Sabtu, 6 persen pada Minggu, dan mencapai 10 persen penuh pada pekan depan.
Pemangkasan ini diperkirakan dapat berdampak pada 3.500 hingga 4.000 penerbangan per hari, atau setara dengan sekitar 268.000 kursi penumpang di seluruh jaringan penerbangan domestik AS.
Daftar lengkap bandara yang terdampak, termasuk bandara di New York, Washington D.C., Chicago, Atlanta, Los Angeles, dan Dallas, akan diumumkan oleh FAA pada Kamis.
Sementara itu, penerbangan internasional akan dikecualikan dari kebijakan pemangkasan terebut.
Krisis tenaga kerja dan risiko keselamatan
Kondisi ini berakar dari kekurangan tenaga kerja di sektor pengatur lalu lintas udara. FAA dilaporkan kekurangan sekitar 3.500 pengatur lalu lintas udara dari jumlah ideal.
Sementara banyak petugas yang kini bekerja lembur enam hari dalam seminggu bahkan sebelum shutdown terjadi.
Ilustrasi Bandara di Atlanta, Amerika Serikat.
Beberapa petugas juga dilaporkan mengambil pekerjaan sampingan seperti mengemudi Uber untuk menutupi kebutuhan hidup.
“Banyak dari mereka mengirim pesan bahwa mereka bahkan tak punya cukup uang untuk membeli bensin agar bisa datang ke tempat kerja,” kata Nick Daniels, Presiden serikat pekerja pengatur lalu lintas udara AS, dilansir dari BBC.
Kelelahan dan stres tinggi di kalangan pengatur lalu lintas udara menimbulkan kekhawatiran serius terhadap keselamatan penerbangan.
“Kami masih memiliki sistem penerbangan yang aman. Namun keputusan pengurangan ini perlu agar keselamatan dan efisiensi tetap terjaga,” kata Duffy.
Maskapai bereaksi
Keputusan ini membuat maskapai penerbangan utama seperti American Airlines, Delta, United, dan Southwest segera mengevaluasi dampaknya terhadap jadwal mereka.
American Airlines menyatakan masih menunggu rincian dari FAA sebelum menentukan penerbangan mana yang akan dibatalkan, tetapi memperkirakan mayoritas pelanggan tidak akan terlalu terdampak.
Sementara Southwest Airlines menyebut sedang menilai pengaruh kebijakan tersebut terhadap jadwal penerbangannya dan mendesak Kongres untuk segera mengakhiri kebuntuan politik yang memicu penutupan pemerintahan.
“Kami terus mendorong Kongres untuk segera menyelesaikan kebuntuan ini dan mengembalikan sistem udara nasional ke kapasitas penuh,” kata juru bicara Southwest.
Dampak ekonomi dan politik
Penutupan pemerintahan AS telah menyebabkan sekitar 750.000 pegawai federal dirumahkan dan menutup berbagai layanan publik, termasuk bantuan pangan bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Ilustrasi Gedung Putih
Kebuntuan ini terjadi karena pertikaian antara Partai Republik dan Partai Demokrat terkait rancangan anggaran dan subsidi kesehatan.
Pemerintahan Presiden Donald Trump disebut berupaya meningkatkan tekanan pada Demokrat dengan menyoroti dampak shutdown terhadap masyarakat luas, termasuk gangguan besar di sektor penerbangan.
Saham sejumlah maskapai besar seperti United dan American tercatat turun sekitar 1 persen dalam perdagangan setelah jam bursa, seiring kekhawatiran investor terhadap penurunan pemesanan tiket jika situasi berlanjut.
Menteri Duffy sebelumnya telah memperingatkan bahwa jika shutdown terus berlanjut, pemerintah mungkin terpaksa menutup sebagian wilayah udara nasional dan membatasi peluncuran roket serta penerbangan umum.
“Jika dibiarkan, sistem ini akan mencapai titik di mana keselamatan publik tidak bisa lagi kami jamin sepenuhnya,” ujar dia dilansir dari Reuters.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.