Konflik di Venezuela Tak Picu Krisis Panjang, Ringgit Menguat Lawan Dolar AS
Pergerakan nilai tukar mata uang Asia kembali menjadi sorotan pada awal 2026, seiring investor global mencermati perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter global. Setelah sempat terjadi lonjakan permintaan safe haven, pasar mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi.
Kondisi ini membuka ruang bagi mata uang emerging market untuk kembali menguat.
Di kawasan Asia Tenggara, ringgit Malaysia mencatatkan penguatan tipis terhadap dolar Amerika Serikat. Sentimen risiko yang membaik, ditopang oleh persepsi bahwa ketegangan geopolitik masih relatif terkendali, mendorong arus modal kembali mengalir ke aset berimbal hasil lebih tinggi.
Situasi ini tercermin pada pergerakan ringgit pada perdagangan Selasa pagi, 6 Januari 2026. Melansir dari The Star, ringgit dibuka sedikit lebih tinggi terhadap dolar AS pada Selasa, ketika investor menilai perkembangan situasi Amerika Serikat dan Venezuela.
Lonjakan awal permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven tercatat tidak berlangsung lama, seiring risiko geopolitik yang dinilai masih terkendali. Pada pukul 08.00 waktu setempat, mata uang lokal menguat ke level 4,0650/0745 terhadap dolar AS, dibandingkan penutupan Senin di level 4,0695/0745.
Direktur strategi investasi dan ekonom negara IPPFA Sdn Bhd, Mohd Sedek Jantan, mengatakan stabilnya sentimen risiko mendorong rotasi arus modal kembali ke mata uang emerging market dan aset berimbal hasil lebih tinggi.
“Semalam, dolar AS awalnya didukung oleh berita geopolitik dan sinyal bank sentral global, tetapi momentumnya memudar. Indeks dolar AS turun 0,17 persen ke level 98,26 pada akhir perdagangan, membuatnya hanya sedikit lebih tinggi secara year to date,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan ringgit turut diperkuat oleh rebound Asia Dollar Index, yang mencerminkan kembalinya minat investor terhadap mata uang emerging market seiring meningkatnya toleransi risiko.
Pelemahan indeks dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang mendukung penguatan ringgit. Setelah sempat menguat akibat dorongan sentimen safe haven, dolar AS kehilangan momentum ketika pasar menilai bahwa dampak geopolitik global belum berkembang menjadi risiko sistemik yang lebih luas.
Penurunan indeks dolar AS ke level 98,26 menunjukkan bahwa investor mulai mengurangi posisi defensif mereka. Dalam kondisi seperti ini, mata uang emerging market cenderung mendapatkan dukungan, terutama ketika imbal hasil yang ditawarkan dinilai lebih menarik dibandingkan aset aman.
Meski menguat terhadap dolar AS, pergerakan ringgit terhadap mata uang utama dunia menunjukkan arah yang berbeda. Ringgit tercatat melemah terhadap yen Jepang ke level 2,5958/6020 dari sebelumnya 2,5932/5965. Mata uang Malaysia juga melemah terhadap pound sterling ke 5,5012/5140 dari 5,4706/4774, serta turun terhadap euro ke 4,7626/7737 dari 4,7540/7598.
Terhadap mata uang regional ASEAN, ringgit menunjukkan pergerakan yang cenderung bervariasi. Ringgit sedikit menguat terhadap rupiah Indonesia ke level 242,8/243,5 dari sebelumnya 243,0/243,5. Mata uang Malaysia juga menguat terhadap baht Thailand ke 12,9773/13,0167 dari 12,9891/13,0109, serta naik terhadap peso Filipina ke 6,87/6,90 dari 6,88/6,90.
Namun demikian, ringgit melemah terhadap dolar Singapura ke level 3,1686/1763 dibandingkan sebelumnya 3,1603/1644. Pelemahan ini mencerminkan kekuatan relatif dolar Singapura di tengah stabilitas ekonomi Singapura dan persepsi risiko yang masih rendah.
Ke depan, pergerakan ringgit diperkirakan akan tetap dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik global, arah kebijakan bank sentral utama, serta dinamika arus modal internasional. Selama sentimen risiko global tetap terjaga dan dolar AS tidak kembali menguat signifikan, mata uang emerging market seperti ringgit berpeluang mempertahankan kinerjanya.