PSSI Diminta Turunkan Ego, Timnas Indonesia Bukan Milik Pribadi
Penasihat Semen Padang FC, Andre Rosiade, kembali lantang menyuarakan aspirasinya agar PSSI segera memulangkan Shin Tae-yong (STY) ke kursi pelatih Timnas Indonesia.
Menurut Andre, sudah saatnya federasi menyingkirkan ego pribadi dan mendengar aspirasi publik yang ingin melihat pelatih asal Korea Selatan itu kembali menukangi Garuda.
“Harapan saya tentu tidak salah mengambil lagi coach Shin Tae-yong ke Timnas Indonesia,” tegas Andre kepada awak media.
Politikus asal Sumatera Barat itu menilai, PSSI seharusnya lebih terbuka dan bijak dalam mengambil keputusan, terutama setelah kegagalan di putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026.
Ia menilai, mengembalikan Shin Tae-yong bukan hal mustahil karena dalam sejarah Timnas Indonesia, sudah ada beberapa pelatih yang sempat kembali setelah dipecat.
“Mantan pelatih seperti Alfred Riedl, Benny Dolo, dan Ivan Kolev juga pernah mengalami hal yang sama. Jadi masa tidak mungkin Shin Tae-yong yang sudah dipecat balik lagi?” tambahnya.
Andre juga menegaskan agar PSSI tidak mengedepankan ego dalam pengambilan keputusan. “Sebenarnya demi bangsa dan negara, ego itu harus ditaruh ke belakang. Timnas Indonesia milik bersama, bukan milik pribadi,” ujarnya.
Andre berharap, momentum kosongnya kursi pelatih usai pemecatan Patrick Kluivert bisa dimanfaatkan PSSI untuk kembali memanggil STY.
Namun, ia juga menekankan pentingnya PSSI memberi target yang jelas jika Shin benar-benar dipercaya kembali. “PSSI harus punya beberapa target yang wajib dicapai oleh Shin Tae-yong, misalnya di Piala Asia 2027 nanti,” ungkapnya.
Pendapat Berbeda dari Pengamat: ‘Kembalinya STY Bisa Jadi Masalah’
Meski banyak yang mendukung, tak semua pihak sependapat dengan Andre Rosiade. Pengamat sepak bola nasional Akmal Marhali justru menilai kembalinya STY bisa menimbulkan masalah baru.
“Saya berbeda dengan Bang Andre. Kembalinya STY, dengan situasi sekarang yang terlalu masif di media dan fans, justru bisa jadi masalah,” kata Akmal dalam diskusi Media Cup 2025 di Jakarta Selatan.
Menurut Akmal, jika nanti STY gagal pada periode kedua, reputasinya bisa rusak di mata publik. “Nama dia yang sudah bagus bisa jatuh,” ujarnya.
Akmal juga menyarankan agar PSSI mencari pelatih baru yang tidak harus punya nama besar, tapi punya hoki dan komitmen tinggi untuk tinggal di Indonesia.
“Pelatih Timnas itu harus mau kerja 24 jam untuk sepak bola Indonesia. Jangan lagi yang tinggal di luar negeri. Dia harus paham budaya dan pemain kita,” tegasnya.