Kluivert Pergi, Timnas Indonesia Harus Cari Pelatih yang Paham Sepak Bola Asia
Setelah pemutusan kerja sama PSSI dengan Patrick Kluivert dan seluruh staf kepelatihannya, kini perhatian beralih pada siapa sosok juru taktik yang akan memimpin timnas Indonesia selanjutnya.
Bagi pengamat sepak bola nasional Rizal Pahlevi, keputusan PSSI berpisah dengan Patrick Kluivert itu memang sudah tepat.
Namun ia menegaskan, tantangan yang sesungguhnya justru baru dimulai, yaitu menentukan arah baru dan figur pelatih yang sesuai dengan karakter sepak bola Indonesia.
“Menurut saya ada yang jauh lebih menarik adalah mau ke arah mana nih setelah ini. Apakah penggantinya pelatih sekaliber berpengalaman lagi atau pelatih justru mengenal kultur sepak bola Asia? Akan menjadi pertanyaan ke depan,” tuturnya kepada Kompas.com.
Ia menilai, pelatih timans Indonesia selanjutnya sebaiknya bukan hanya memiliki reputasi internasional, tetapi juga memahami kultur sepak bola Asia yang sangat berbeda dengan Eropa.
Dalam konteks inilah, ia memerhatikan pentingnya pelatih yang bisa beradaptasi dengan karakter pemain lokal dan tekanan khas sepak bola Indonesia.
“Saya pribadi mengharapkan sosok karakter yang kenal dengan sepak bola Asia, karakter yang memiliki CV bagus dalam menangani timnas dan juga menangani ruang ganti. Menurut saya itu sesuatu yang miss dalam Patrick Kluivert,” ujar Rizal Pahlevi.
Meski Patrick Kluivert mempunyai pengalaman sebagai asisten pelatih di timnas Belanda tahun 2014 dan sempat menangani Timnas Curacao, ia menilai rekam jejak itu belum cukup kuat untuk membawa Indonesia bersaing di level tertinggi.
“Tapi saya rasa untuk level pelatih di Curacao itu belum cukup untuk bisa diterjunkan menangani timnas Indonesia apalagi dengan misi meloloskan timnas Indonesia ke Piala Dunia 2026,” imbuhnya.
Pelatih timnas Indonesia asal Belanda, Patrick Kluivert.
Kebutuhan Akan Pelatih yang Paham Kultur Pemain Indonesia
Bagi Rizal Pahlevi, kegagalan timnas Indonesia kali ini seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi PSSI.
Ia menekankan agar proses pemilihan pelatih berikutnya dilakukan dengan analisis mendalam, bukan hanya berdasarkan nama besar atau reputasi di Eropa.
“Langkah-langkah yang dilakukan seperti kemarin itu tidak boleh terulang lagi. Harus cermat, pendekatan by data, untuk bisa memilih pelatih yang cocok dan juga memiliki rekam jejak yang positif serta memiliki rekam jejak yang tebal dalam urusan menangani timnas,” tegas pengamat asal Jakarta itu.
Rizal Pahlevi berharap, siapa pun pelatih yang akan datang nantinya harus menjadi bagian dari rencana jangka panjang yang berkesinambungan.
Pelatih idealnya bukan sekadar figur yang mampu mempersembahkan kemenangan dalam jangka pendek, tetapi juga memahami bagaimana membangun tim dengan fondasi kuat dan berkarakter Asia.
“Kita butuh pelatih yang bukan hanya pintar melatih, tapi juga paham bagaimana mengelola ruang ganti, mengenali kultur pemain Indonesia, dan menyesuaikan strategi dengan kekuatan khas Asia Tenggara,” pungkas Rizal Pahlevi.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.