Evaluasi Pelatih Timnas Indonesia, Harus Siap Risiko Bakar Uang

Patrick Kluivert, timnas Indonesia, Shin Tae-yong, Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia, Alex Pastoor, Evaluasi Pelatih Timnas Indonesia, Harus Siap Risiko Bakar Uang

Langkah timnas Indonesia di putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 resmi terhenti. Setelah dua kekalahan beruntun dari Arab Saudi dan Irak tidak hanya memupus mimpi Garuda ke Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, tetapi seharusnya memantik evaluasi besar-besaran di tubuh federasi.

Pengamat sepak bola nasional Erwin Fitriansyah, menegaskan bahwa tanggung jawab utama atas kegagalan ini ada di tangan tim pelatih.

“Ya memang harus dievaluasi, terutama pelatih dan stafnya. Kalau pemain itu kan hanya menjalankan perintah dari pelatih, tidak bisa dimintain pertanggungjawaban,” tuturnya kepada Kompas.com.

"Namanya prajurit tempur, yang tanggung jawab komandannya yaitu pelatih. Ya harus, tapi bagaimana evaluasi orangnya pulang, masa pakai Zoom? Ya haruslah dievaluasi."

Evaluasi Bukan Formalitas

Menurutnya evaluasi mesti dilakukan secara langsung dan menyeluruh, bukan hanya formalitas jarak jauh.

Untuk itu federasi harus cermat karena keputusan mengganti pelatih di tengah jalan tidak sesederhana menekan tombol reset.

“Sekarang begini, oke diganti tapi itu kan harus bayar kompensasi lagi. Kompensasi ini tidak hanya 10–20 juta atau 50 juta, tapi ratusan juta hingga miliaran."

"Sementara kewajiban kompensasi STY dengar-dengar belum selesai karena dicicil. Atau kalau sudah selesai, ya masa bayar kompensasi lagi untuk Patrick Kluivert?” ujar mantan wartawan Tabloid BOLA itu.

Ia juga mengingatkan bahwa setiap keputusan mempunyai konsekuensi finansial besar.

“Kecuali federasi tidak masalah dan uangnya banyak, tidak apa-apa bakar duit lalu cari pelatih lagi, terserah sih. Tapi yang jelas kalau diputus di tengah jalan pasti ada konsekuensinya: bayar kompensasi, denda, atau penalti,” imbuhnya.

Ragu Kapasitas Alex Pastoor, Timnas Beda dengan Klub

Setelah Patrick Kluivert menuai kritik akibat dua kekalahan beruntun di putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026, kini ramai dibicarakan asistennya di timnas Indonesia Alex Pastoor cicalonkan sebagai pengganti.

Namun, ia justru mempertanyakan kapasitas pelatih asal Belanda tersebut.

“Misalnya diganti dengan Alex Pastoor, memang dia sehebat apa sih? Rekam jejaknya di timnas? Ini timnas ya, bukan klub. Rekam jejaknya ini belum cukup, apalagi klub-klubnya yang semenjana saja kalau menurut saya,” kata Erwin Fitriansyah.

“Kalau memang Alex Pastoor hebat, kenapa kemarin tidak membantu temannya, si Patrick Kluivert, buat timnas Indonesia tampil lebih baik dibanding dua laga sebelumnya? Kenapa sekarang dia diajukan, sehebat apa?” sambungnya.

Baginya, menangani timnas jauh berbeda dengan melatih klub yang tiap minggu bertanding dan tiap hari bisa latihan serta melakukan evaluasi.

"Kalau timnas ketemunya sekali-sekali saja. Apa pembuktiannya tiap musim kemarin menangani timnas apa sebagai head coach?” ucap jurnalis senior olahraga itu.

Patrick Kluivert, timnas Indonesia, Shin Tae-yong, Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia, Alex Pastoor, Evaluasi Pelatih Timnas Indonesia, Harus Siap Risiko Bakar Uang

Asisten pelatih Timnas Indonesia Alex Pastoor.

Selain itu juga terus muncul wacana CLBK (cinta lama balik kembali) Timnas Indonesia dengan mantan pelatih Shin Tae-yong yang kembali ramai di sosial media.

“Apakah dia mau setelah dipecat dengan cara seperti itu? Iya kan. Apakah STY diterima pemain-pemain setelah ada turbulensi seperti itu?” imbuhnya.

"Kalau memang bisa, ya lebih baik STY, karena rekam jejaknya yang paling penting."

Ganti Pelatih Risiko Tim Tidak Siap

Sehingga wacana pergantian pelatih terus menguat mengingat ada sejumlah agenda yang akan dijalani timnas Indonesia menanti setelah dua hasil buruk melawan Arab Saudi dan Irak.

“Kalau mau ganti jangan mepet-mepet dengan Piala AFF. Kalau FIFA Matchday masih bisa ditoleransi kalau mau ganti, karena kan persiapannya mepet kalau dekat-dekat,” kata Erwin Fitriansyah.

“Mau ganti pelatih ya sekarang-sekarang ini, tapi dengan pertimbangan yang harus dipikirkan. Memecat Patrick Kluivert dengan memberi kompensasi dan mencari gantinya siapa,” imbuhnya.

Namun jika federasi memilih mempertahankan Patrick Kluivert, ia menegaskan pentingnya rencana jangka pendek yang jelas.

“Kalau tetap sama Patrick Kluivert dengan berbagai konsekuensinya, game plan-nya seperti apa dan apakah diterima pemain dan sebagian masyarakat, terutama fans,” ucap pengamat asli Surabaya itu.

“Kalau diputus di tengah jalan pasti ada konsekuensinya, yaitu bayar kompensasi, denda atau penalti,” sambungnya.

Sebab di tengah kritik dan tekanan saat ini, ia menilai yang paling dibutuhkan saat adalah kejelasan arah.

“Federasi harus cepat memutuskan, bukan cuma siapa pelatihnya, tapi bagaimana membangun kepercayaan publik lagi,” pungkas Erwin Fitriansyah.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.