Dear Cewek, Kopi dan Matcha Jadi Mood Booster Kamu? Hati-hati Anemia!
Kopi dan matcha kini bukan sekadar minuman, tapi sudah jadi bagian dari gaya hidup anak muda, terutama perempuan. Nongkrong di kafe rasanya belum lengkap tanpa segelas iced latte atau matcha latte.
Namun di balik sensasi “mood booster dalam bentuk cair” itu, ada risiko kesehatan yang kerap tak disadari, yaitu anemia akibat gangguan penyerapan zat besi. Benarkah?
dr. Rovy Pratama, MBA, menjelaskan bahwa tren minum kopi dan matcha bersamaan dengan makanan kini bisa berdampak pada kesehatan, terutama bagi perempuan muda.
“Kopi ini menghambat penyerapan zat besi. Jadi makannya cukup tapi gak diserap,” ujarnya di acara Kalbe Luncurkan Sakatonik Activ Gummy Zat Besi: Gummy Anemia Pertama, Cara Enak Atasi Anemia, di Mall Kelapa Gading, Jakarta Utara, baru-baru ini.
Konferensi pers Sakatonik Aktiv.
Dokter Rovy menambahkan, popularitas kopi dan matcha sebagai simbol gaya hidup modern justru membuat banyak orang, terutama wanita dan gen Z tanpa sadar rentan terhadap anemia.
“Sekarang banyak yang bilang, matcha itu mood dalam bentuk cair. Karena fenomena ini orang berbondong-bondong mengonsumsinya, padahal lifestyle seperti ini bisa menyebabkan anemia,” jelas dr. Rovy.
Menurut sang dokter, mayoritas pengunjung coffee shop justru didominasi oleh perempuan muda—kelompok yang secara fisiologis justru lebih berisiko kehilangan darah setiap bulan akibat menstruasi.
Selain karena penyerapan zat besi yang terganggu, dr. Rovy juga mengingatkan penyebab lain yang kerap diabaikan: kehilangan darah secara halus akibat kebiasaan makan pedas ekstrem.
“Sekarang banyak fenomena makan level-level, seblak mercon dan sebagainya. Itu bisa menyebabkan perlukaan pada lambung yang membuat kehilangan darah tanpa disadari,” ujarnya.
Gejala anemia sendiri menurut dokter Rovy, sering kali tak disadari karena dianggap sekadar kelelahan biasa.
“Kalau kita lemas, susah konsentrasi, atau napas terasa pendek, itu bisa tanda anemia. Begitu juga kalau wajah, bibir, dan kuku tampak pucat, atau rambut mudah rontok,” tambahnya.
Oleh karena itu, dr. Rovy menyarankan masyarakat melakukan pemeriksaan hemoglobin minimal setahun sekali, terutama saat ulang tahun sebagai momen refleksi kesehatan.
“Normalnya itu harus di atas 12 (hemoglobin). Kalau turun, hati-hati, bisa jadi anemia dan perlu ditangani,” ujarnya.
Davina Karamoy Tak Sadar Alami Anemia
Pengalaman pribadi datang dari Davina Karamoy, aktris muda yang kini menjadi wajah kampanye kesadaran anemia bersama Sakatonik Activ. Ia mengaku dulu tak menyadari bahwa rasa lelah dan sulit fokus saat menstruasi adalah tanda-tanda anemia.
“Awalnya aku pikir wajar aja karena lagi menstruasi. Tapi ternyata itu gejala anemia,” ungkap Davina di acara yang sama.
Sejak rutin mengonsumsi Sakatonik Activ Gummy, Davina merasa kondisinya membaik.
“Aku jadi lebih aware dan lebih semangat karena bentuknya gummy, rasanya enak banget. Aku bawa ke mana-mana, bahkan suka aku bagi-bagi ke teman syuting,” ceritanya sambil tertawa.
Prevalensi Anemia pada Perempuan
Menurut Head of Vitamin Category Kalbe Consumer Health, Adelia Theresia, fenomena anemia pada remaja perempuan di Indonesia memang masih mengkhawatirkan.
“Berdasarkan Riskesdas 2018, prevalensi anemia pada perempuan usia 15–24 tahun mencapai 32 persen, sementara pada ibu hamil angkanya bahkan 48,9 persen,” ungkapnya.
Lebih lanjut Adelia mengungkapkan, salah satu penyebab utamanya adalah rendahnya konsumsi rutin tablet tambah darah karena rasa yang tidak enak. Melihat kondisi ini, Kalbe menghadirkan inovasi Sakatonik Activ Gummy, suplemen zat besi pertama di Indonesia dalam bentuk gummy.
“Kandungannya tinggi zat besi, asam folat, dan vitamin B12 dengan rasa mixed berry juice yang enak tanpa bau besi. Praktis dikonsumsi di mana saja, cukup dua gummy sehari,” jelas Adelia.