Merasa Tak Bahagia hingga Muncul Keinginan Untuk Selalu Resign? Hati-hati Bisa Jadi Kamu Alami Quite Cracking

Ilustrasi 'burnout' di tempat kerja
Ilustrasi 'burnout' di tempat kerja

 Pernah merasakan ketidakbahagiaan yang terus menerus di tempat kerja? Jika iya bisa jadi kamu mengalami Quite cracking. Quite Cracking sendiri digambarkan sebagai situasi ketika karyawan meras tidak bahagia secara terus menerus di tempat kerja hingga membuat seseorang makin tidak terlibat, performanya menurun, dan keinginan untuk resign meningkat.

Quite cracking muncul sebagai respons atas stres dan burnout, dan dalam beberapa kasus, quiet cracking bisa berkembang menjadi quiet quitting. Sebagai informasi, quite quitting menggambarkan situasi ketika karyawan bekerja sekadar memenuhi kewajiban minimum dari pekerjaannya.

Fenomena quite craking sendiri sudah ramai menjadi sorotan di kalangan pekerja sejak pertengahan tahun 2025 ini. Bahkan dalam laporan TalentLMS, pada Maret lalu setidaknya dari 1.000 responden karyawan di berbagai industri di AS sebanyak 54 persen diantaranya mengaku mengalami quite craking.

“Ini merupakan respons terhadap burnout di tempat kerja, dan bisa jadi masalah besar bagi perusahaan jika dibiarkan,” Chief Wellbeing Officer di kantor EY kawasan Amerika, Frank Giampietro dikutip dari laman CNBC Internasional, Jumat 14 November 2025.

Istilah seperti quiet cracking, quiet quitting, hingga fenomena great resignation mencerminkan tren besar yang sedang terjadi di pasar tenaga kerja, kata ekonom senior di Indeed, Cory Stahle. Dia menjelaskan jika melihat great resignation, banyak orang berpindah kerja dan itu sejalan dengan data yang terlihat saat itu.

Namun, kondisi pasar kerja sekarang tidak seideal dulu kini lebih banyak orang bertahan di posisi mereka, dan tidak banyak ruang untuk keluar dari pengalaman quiet cracking.

Quiet cracking pada dasarnya menggambarkan kondisi ketika karyawan merasa makin jauh secara emosional dari pekerjaan.

”Lebih tidak terhubung, kurang puas dengan perusahaan, dan lebih mungkin mencari pekerjaan lain,” kata pakar dunia kerja dari Gallup, Jim Harter.

Harter menjelaskan, mereka yang mengalami quite craking merasa terlepas, tapi juga merasa terjebak, dan ini jelas bukan situasi yang baik bagi perusahaan.  Menurut laporan Gallup Agustus lalu, biaya ketidakaktifan karyawan di AS diperkirakan mencapai sekitar 2 triliun dolar AS dalam bentuk produktivitas yang hilang.

‘Orang kini tidak lagi terdorong untuk pindah kerja’

Di akhir 2021 hingga sepanjang 2022, ketika gelombang great resignation memuncak, pekerja yang ingin pindah kerja punya banyak pilihan, kata Stahle. Pada saat yang sama, upah sedang naik cepat sehingga banyak orang memilih lompat kerja. Kondisi itu mendorong orang untuk resign, kata Stahle.

Menurut laporan Pew Research Center tahun 2022, sekitar 60 persen pekerja yang pindah kerja antara April 2021 hingga Maret 2022 mengalami kenaikan pendapatan riil dibanding tahun sebelumnya. Di antara mereka yang tetap bertahan di pekerjaan lama, 47 persen juga menikmati kenaikan gaji.

Namun sekarang ekonomi mulai melambat. Ketidakpastian ekonomi membuat lebih sedikit pekerja yang berani resign, dan perusahaan juga mengerem perekrutan.

Peluang menaikkan pendapatan lewat pindah kerja pun berbalik arah . Sejak Februari, upah pekerja yang bertahan justru tumbuh lebih cepat dibanding mereka yang pindah kerja, menurut data Federal Reserve.

“Karena lowongan kerja kini tidak sebanyak dulu, dan kenaikan gaji mulai melambat, orang-orang jadi kurang terdorong untuk pindah kerja,” kata Stahle.

Hubungan dua arah

Ada banyak hal yang bisa memicu disengagement dan burnout, seperti tujuan kerja yang tidak jelas, beban kerja berlebihan, atau hubungan kerja yang kurang sehat.

Meski begitu, pekerja tetap punya ruang untuk mengambil kendali, kata Harter. Ia menyarankan agar karyawan yang merasa tidak terlibat atau frustrasi segera menghubungi atasan, dan menjelaskan apa yang mereka rasakan, seerta meminta arahan bila perlu. Namun, ini juga harus menjadi hubungan dua arah, katanya.

Di tengah tantangan bisnis yang mungkin juga dihadapi perusahaan, para pemimpin tetap punya peran besar dalam membentuk lingkungan kerja yang lebih sehat.

“Perusahaan bisa melakukan banyak hal jika memiliki kepemimpinan yang kuat dan manajemen yang benar-benar memahami kondisi karyawannya,” ujar Harter.