Punya Bos Sok Tahu? Hati-Hati, Mungkin Kamu Sedang Berhadapan Dengan God’s Syndrome!
Pernah bekerja dengan atasan atau bos yang selalu merasa dirinya paling benar, bahkan saat jelas-jelas dia salah? Tipe yang menolak masukan, meremehkan keahlian orang lain, dan bertingkah seolah perusahaan adalah kerajaan pribadinya?
Jika iya, berarti kamu sedang berhadapan dengan God’s Syndrome di tempat kerja. Istilah ini bukan istilah medis, tapi lebih ke pola perilaku psikologis yang muncul pada orang-orang yang merasa dirinya tidak pernah salah, lebih unggul dari siapa pun, dan bebas dari tanggung jawab.
Orang seperti itu bukan sekadar percaya diri, melainkan mereka benar-benar yakin bahwa mereka tidak mungkin salah. Padahal, rasa percaya diri memang penting dalam memimpin, tapi kalau berlebihan justru bisa merusak.
Melansir laman Times of India, Rabu 10 Desember 2025, istilah yang awalnya lebih dikenal dengan god complex ini sudah lama dipakai oleh psikoanalis Ernest Jones di awal abad ke-20 untuk menggambarkan seseorang yang merasa dirinya seperti Tuhan.
God’s syndrome biasanya bermula dari kesuksesan awal. Seorang pemimpin mungkin pernah mengambil beberapa keputusan brilian, kariernya melesat, dan mendapatkan banyak penghargaan.
Namun lama-kelamaan, kesuksesan bisa membuat rasa percaya dirinya membesar hingga menjadi racun. Mereka berhenti mendengar, berhenti belajar, dan mulai memerintah seenaknya. Kerendahan hati tergeser oleh ego, kerja sama diganti dengan kontrol.
Di banyak perusahaan, kita sering memberi ruang lebih kepada suara yang paling keras dibanding yang paling bijak, lebih menghargai pengambil risiko dibanding perencana yang teliti, dan lebih terpukau oleh karisma daripada kompetensi. Pada akhirnya, pemimpin seperti ini mulai percaya bahwa merekalah orang paling pintar di setiap ruangan meski kenyataannya tidak.
Ciri-ciri pemimpin dengan God’s Syndrome
Biasanya mereka:
- Mengabaikan saran atau masukan karena merasa sudah tahu semuanya.
- Mengklaim keberhasilan sebagai hasil kerja sendiri, tapi menyalahkan orang lain saat gagal.
- Terlalu mengontrol hal-hal kecil karena yakin hanya mereka yang bisa melakukannya dengan benar.
- Menciptakan lingkungan kerja yang penuh ketakutan, di mana bicara jujur terasa berbahaya.
- Menolak mengakui kesalahan, bahkan saat datanya sudah sangat jelas.
- Mengelilingi diri dengan orang-orang yang selalu berkata “iya”, sehingga tidak ada tantangan.
Mereka bukan cuma percaya diri, namun percaya diri mereka terlalu berlebihan.
Sikap God’s syndrome ini bisa membahayakan perusahaan, karena mereka cenderung mengambil keputusan tanpa kerendahan hati yang pada akhirnya bisa berujung bencana. Pemimpin yang terlalu percaya diri cenderung meremehkan risiko, mengabaikan tanda bahaya, dan bertaruh dengan masa depan bisnis. Ketika mereka gagal, kegagalannya bisa besar dan menyeret tim, sumber daya, dan moral kerja.
Karyawan akhirnya kehilangan motivasi karena:
- Inovasi mandek, tidak ada yang mau mencoba hal baru kalau takut gagal.
- Talenta terbaik memilih pergi karena tidak ingin bekerja dengan pemimpin yang otoriter.
- Produktivitas turun karena ketakutan mematikan kreativitas.
- Kerja sama hilang karena semua orang sibuk menyelamatkan diri masing-masing.
Lingkungan kerja yang dikuasai ego hanya akan melahirkan burnout, rasa jengkel, dan tingkat turnover yang tinggi. Ironisnya, pemimpin seperti ini merasa mereka sedang membangun legacy, padahal justru mempercepat kehancuran.
Bagaimana menghadapi pemimpin dengan God’s Syndrome?
Kamu memang tidak bisa mengubah ego seseorang dalam semalam, tapi kamu bisa bertahan:
- Komunikasikan pendapat dengan tegas tapi tidak menyerang.
- Sajikan fakta dan data, bukan opini pribadi.
- Simpan dokumentasi keputusan agar tidak menjadi kambing hitam.
- Bangun dukungan dengan rekan kerja agar tidak terisolasi.
- Jika memungkinkan, laporkan masalah lewat jalur HR.
Kadang, pilihan paling bijak adalah menyadari bahwa lingkungan itu sudah terlalu toksik dan memilih ketenangan hati dibanding gaji.
Kepemimpinan bukan tentang merasa seperti Tuhan. Kepemimpinan adalah tentang menjadi manusia. Pemimpin terbaik mau mendengar, belajar, berkembang, dan menginspirasi bukan menakut-nakuti. Kepercayaan diri memang membangun tim, tapi kesombongan menghancurkannya. Saat pemimpin berhenti menerima masukan, saat itu pula pertumbuhan berhenti.
Jadi kalau kamu di posisi memimpin, cek egomu. Kalau kamu dipimpin oleh orang seperti itu, jaga kewarasanmu. Dan kalau kamu sedang membangun budaya kerja, pilihlah kerendahan hati. Karena kekuatan terbesar datang dari kesadaran bahwa kamu tidak harus selalu benar.