Pahitnya Realitas di Jeddah, Pengamat Soroti Mandeknya Konversi Peluang Timnas Indonesia

Kekalahan 0-1 dari Irak pada laga kedua grup B putaran keempat menutup perjalanan panjang Timnas Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia.
Mimpi besar Garuda untuk terbang ke ajang sepak bola paling bergengsi dunia itu pupus di Stadion King Abdullah Sports City Jeddah, Minggu (12/10/2025) dini hari WIB.
Namun di balik skor tipis tersebut, pengamat sepak bola nasional Rizal Pahlevi menilai ada satu masalah mendasar yang belum mampu diselesaikan yaitu rendahnya konversi peluang dan tumpulnya produktivitas dari open play.
“Ya hasil 1-0 dari Irak sekaligus menutup impian timnas Indonesia dan memang ada peningkatan dari segi penampilan dibandingkan Arab Saudi, tapi itupun belum cukup untuk menghantarkan Indonesia menang dari Irak ya,” ujar asal Jakarta itu kepada Kompas.com.
“Karena memang ada peluang, kita bisa menciptakan peluang menghadapi Irak tapi konversi masih rendah dan ini melanjutkan tren beberapa game terakhir kita memang cukup buruk dalam konservasi peluang dari open play terlebih dari bulan Juni saya catat,” imbuhnya
Efektivitas Serangan yang Menurun Sejak Pertengahan Tahun
Menurutnya, penurunan efektivitas serangan Indonesia sudah tampak sejak pertengahan tahun.
Pola yang seharusnya menjadi kekuatan dalam membangun serangan terbuka justru kehilangan tajinya.
Ia menyoroti bahwa sejak laga melawan China dan Arab Saudi, gol-gol Indonesia hanya datang dari titik putih (penalti) bukan hasil kombinasi permainan terbuka.
“Kita juga sudah mulai kesulitan bisa menciptakan gol di skema open play karena saat menghadapi China berlanjut ke laga menghadapi Arab Saudi kita mendapatkan dua gol dari titik putih juga,” kata Rizal Pahlevi.
“Jadi di laga melawan Irak apabila tidak mendapatkan gol itu cukup familier masalahnya karena sesuatu menjadi masalah walaupun dibulan lalu kita sempat melakukan dua ujicoba unggul lebih banyak saat melawan Taiwan tapi tidak bisa menjadi benchmark lawan yang kita hadapi,” sambungnya.
Kapten Timnas Indonesia, Jay Idzes, dalam laga kontra Arab Saudi pada pekan pertama Grup B putaran keempat Kualifikasi Piala Dunai 2026 Zona Asia, Kamis (9/10/2025) dini hari WIB.
Masalah Dominasi tanpa Efektivitas
Untuk itu ia menegaskan bahwa dominasi permainan tidak cukup jika tidak dibarengi efektivitas di depan gawang.
Meski Indonesia bisa bermain dominan, kemampuan untuk mengonversi peluang menjadi gol masih menjadi pekerjaan rumah yang besar.
“Lalu saat melawan Lebanon kita juga tahu permasalahannya, bisa main dominan tapi tidak bisa mengkonversi peluang. Jadi saya rasa itu sesuatu yang mempersulit situasi kita menghadapi putaran keempat ini untuk lolos dari tim seperti Irak dan Arab Saudi yang di atas kertas jauh lebih berpengalaman di atas kita,” tuturnya.
Bagi Rizal Pahlevi, kegagalan ini bukan hanya soal hasil, tapi juga soal pembelajaran.
Ia menyebut bahwa tim masih memiliki potensi besar untuk berkembang, terutama dalam menata ulang strategi serangan jelang Piala Asia 2027.
“Jadi ini hasil yang mengecewakan dan saya rasa tentunya setelah ini akan ada evaluasi. Tapi saya rasa tim ini masih bisa berkembang dan masih ada beberapa turnamen seperti Piala Asia 2027,” pungkasnya.