Begadang dan Makan Larut Malam Bisa Ganggu Usus, Ahli Ungkap Bahaya Jam Biologis yang Berantakan

Ilustrasi Begadang
Ilustrasi Begadang

 Kebiasaan begadang, makan tidak teratur, hingga terlalu lama menatap layar gadget pada malam hari ternyata bukan hanya berdampak pada kualitas tidur. Gaya hidup modern tersebut juga dapat mengganggu kesehatan usus dan metabolisme tubuh secara keseluruhan.

Hal itu berkaitan dengan ritme sirkadian atau jam biologis tubuh, yakni sistem alami yang mengatur berbagai fungsi tubuh selama 24 jam, mulai dari pola tidur, rasa lapar, hingga proses metabolisme. Ketika ritme ini terganggu, sistem pencernaan menjadi salah satu organ pertama yang terdampak. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Nutrition Education and Training Lead – Asia Pacific, Herbalife, Dr. Vipada Sae-Lao, menjelaskan bahwa kesehatan usus memiliki hubungan erat dengan jam biologis tubuh.

“Tantangannya adalah gaya hidup modern secara perlahan mengganggu komunikasi alami tersebut. Begadang, jadwal makan yang tidak teratur, kerja shift, hingga kebiasaan menatap layar di malam hari dapat mengacaukan ritme jam biologis tubuh. Ketika jam biologis tidak lagi sinkron, kondisi usus pun ikut terganggu, sehingga meningkatkan risiko kenaikan berat badan, ketidakseimbangan gula darah, dan peradangan dalam jangka panjang,” jelas Dr. Vipada, dalam keterangannya, dikutip Senin 25 Mei 2026.

Menurutnya, bakteri baik di dalam usus ternyata terus berkomunikasi dengan jam biologis tubuh untuk menjaga berbagai fungsi penting tetap optimal, termasuk metabolisme, sensitivitas insulin, kesehatan jantung, hingga sistem kekebalan tubuh.

Karena itu, menjaga pola hidup yang selaras dengan ritme alami tubuh dinilai penting untuk mendukung kesehatan pencernaan dan keseimbangan tubuh secara keseluruhan.

Salah satu langkah sederhana yang disarankan adalah memperbaiki pola makan harian. Sarapan bergizi disebut menjadi momen penting karena sistem pencernaan berada dalam kondisi optimal setelah tubuh berpuasa semalaman.

Mengatur waktu makan secara konsisten juga dinilai membantu menjaga kestabilan energi dan mendukung metabolisme tubuh bekerja lebih efisien. Idealnya, waktu makan dilakukan dalam rentang delapan hingga 12 jam setiap hari dengan asupan nutrisi yang seimbang.

Selain pola makan, waktu minum air juga memiliki peran penting terhadap sistem pencernaan. Segelas air putih di pagi hari sebelum makan pertama dapat membantu mengaktifkan sistem pencernaan sekaligus memberi sinyal pada jam biologis tubuh untuk mulai aktif.

Sebaliknya, konsumsi cairan berlebihan di malam hari sebaiknya mulai dikurangi agar tubuh lebih siap memasuki fase istirahat dan pemulihan saat tidur.

Tak kalah penting, kualitas tidur juga menjadi faktor utama dalam menjaga kesehatan usus. Dr. Vipada mengingatkan bahwa sistem pencernaan membutuhkan waktu untuk melambat sebelum tubuh benar-benar tidur.

“Hindari mengonsumsi makanan berat, kafein, makanan tinggi lemak, atau makanan manis menjelang waktu tidur karena sistem pencernaan juga membutuhkan waktu untuk melambat, sama seperti otak,” ujarnya.

Ia menyarankan rutinitas sederhana sebelum tidur seperti membaca buku ringan, peregangan lembut, atau minum teh herbal untuk membantu tubuh lebih rileks dan memberi sinyal bahwa waktu istirahat telah tiba.

Selain pola tidur dan makan, stres juga disebut menjadi faktor besar yang dapat merusak keseimbangan usus dan ritme sirkadian. Hormon kortisol yang meningkat saat stres dapat memengaruhi pergerakan usus dan membuat sistem pencernaan menjadi lebih sensitif.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut Dr. Vipada, menjaga kesehatan tubuh sebenarnya tidak selalu membutuhkan perubahan besar. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten justru menjadi kunci penting untuk membantu tubuh kembali menemukan ritme alaminya.

“Jauh sebelum sains mampu menjelaskannya, kebijaksanaan tradisional telah mengajarkan kita untuk hidup selaras dengan ritme alami kehidupan. Menghadirkan kembali pola hidup tersebut ke dalam gaya hidup perkotaan tidak membutuhkan kesempurnaan, melainkan perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten. Seiring waktu, tubuh akan menemukan kembali keseimbangannya, dan kesehatan yang baik menjadi bukan lagi soal usaha yang berat, melainkan soal keselarasan,” tutup Dr. Vipada.