Profil Wakil Ketua DPR Cucun Ahmad Syamsurijal: Minta Maaf Usai Blunder soal Ahli Gizi di Program MBG
Polemik terkait penggunaan istilah ahli gizi dalam proses rekrutmen petugas SPPG MBG berawal dari forum konsolidasi SPPG se-Kabupaten Bandung.
Dalam forum tersebut, seorang peserta mengusulkan agar istilah ahli gizi tidak lagi digunakan jika tenaga yang direkrut bukan berasal dari latar belakang pendidikan gizi.
Usulan itu kemudian memicu respons Wakil Ketua DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal. Pernyataannya yang terekam dalam video dan tersebar di media sosial memancing reaksi publik, khususnya dari kalangan ahli gizi.
Dalam video itu, Cucun menilai istilah tersebut bisa diganti dengan diksi lain seperti tenaga yang menangani gizi.
Namun, respons tersebut dianggap sebagian pihak sebagai bentuk pengabaian terhadap pentingnya kompetensi gizi. Menanggapi dinamika itu, Cucun kemudian menyampaikan permohonan maaf.
Siapa Cucun Ahmad Syamsurijal?
Cucun Ahmad Syamsurijal adalah Wakil Ketua DPR RI periode 2024–2029 dari Fraksi PKB. Ia lahir pada 8 November 1972 di Bandung dan telah menjadi anggota DPR selama tiga periode berturut-turut sejak 2014.
Perjalanan pendidikan Cucun dimulai dari pondok pesantren milik Ilyas Ruhiat setelah ia lulus SMP. Ia kemudian menempuh pendidikan peradilan agama di Institut Agama Islam Cipasung dan lulus pada 1996.
Tahun 2016, ia melanjutkan pendidikan S-2 Administrasi Publik di Universitas Padjadjaran, kemudian meraih gelar doktor di bidang yang sama pada 2022.
Secara organisasi, Cucun aktif di Nahdlatul Ulama sejak 1998 dan berkarier di PKB hingga menjadi Ketua DPC PKB Kabupaten Bandung.
Dalam karier politiknya, ia pernah menjadi sekretaris fraksi, anggota Komisi IV, Komisi V, Komisi III, serta Ketua Fraksi PKB.
Pada Pemilu 2024, Cucun menjadi salah satu anggota DPR dengan perolehan suara terbesar di dapilnya, yakni 267.788 suara.
Cucun juga beberapa kali menjadi sorotan publik, termasuk saat ia walkout dalam sidang hak angket KPK pada 2017 dan ketika meninggalkan acara pelantikan rektor UPI karena penggunaan bahasa asing.
Mengapa Cucun Menyampaikan Permohonan Maaf?
Usai pertemuan tertutup bersama perwakilan BGN dan Persagi, Cucun menegaskan dirinya tak bermaksud menyinggung profesi ahli gizi.
Ia menjelaskan bahwa responsnya saat forum justru bertujuan mengingatkan risiko jika nomenklatur ahli gizi dihilangkan.
“Saya menyampaikan permohonan maaf apabila dinamika pembahasan di dalam ruangan terkait tuntutan aspirasi sempat menjadi konsumsi publik dan dianggap menyinggung profesi ahli gizi,” ujarnya.
Cucun mengatakan diskusi soal istilah itu mulanya muncul karena pemerintah dan DPR sedang mencari solusi atas kelangkaan tenaga ahli gizi serta profesi lain seperti akuntan.
Ada masukan agar dilakukan perubahan istilah menjadi quality control atau pengawas makanan bergizi untuk mempermudah pencarian tenaga. Namun, ia menilai perubahan itu justru berpotensi menghilangkan peran penting ahli gizi.
Apa Risiko Jika Nomenklatur Ahli Gizi Dihilangkan?
Menurut Cucun, penghilangan istilah ahli gizi dapat membuka peluang bagi tenaga dengan kompetensi yang tidak sesuai untuk memasuki ruang profesi tersebut.
Hal ini, menurutnya, dapat berdampak pada kualitas pengawasan gizi dalam program Makanan Bergizi Gratis.
“Kalau mau diganti, jangan pakai embel-embel ahli gizi. Kita respons, kita akan bawa, kalau memang misalkan seperti ini, nanti justru profesinya yang akan tereliminir sama yang profesi-profesi lain,” ujarnya.
Ia menegaskan pentingnya menjaga nomenklatur profesi untuk menjamin kualitas layanan gizi dan keamanan pangan.
Melalui pernyataan di akun Instagram @Cucun_Center, ia kembali menegaskan bahwa tujuannya sejak awal adalah memastikan kualitas pengawasan makanan bergizi tetap terjaga.
“Sejak awal, tujuan saya adalah meluruskan bahwa apabila terjadi perubahan diksi terdapat kekhawatiran bahwa kualitas makanan bergizi, termasuk aspek pengawasannya, menjadi tidak dapat dipastikan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa wacana penggantian istilah masih sebatas usulan dan belum tentu diterapkan.
Apa yang Terjadi dalam Forum Konsolidasi SPPG?
Dalam rekaman yang beredar, seorang peserta forum menyampaikan bahwa BGN kesulitan merekrut ahli gizi dan mengusulkan penggantian istilah jika tenaga yang dipilih bukan dari latar belakang gizi. Peserta itu menilai posisi tersebut dapat disebut pengawas kualitas atau QA/QC.
Namun, sebelum penjelasannya selesai, Cucun memotong pembicaraan. Ia menilai peserta itu berbicara terlalu panjang dan bahkan menyebut peserta tersebut arogan.
“Kamu itu terlalu panjang. Yang lain kasihan,” ujar Cucun saat itu.
Ia juga menyinggung bahwa tenaga pengganti ahli gizi bisa berasal dari lulusan SMA yang hanya menjalani pelatihan selama tiga bulan.
Pernyataan ini kemudian memperkuat polemik dan mendorong reaksi publik yang semakin besar.
Cucun memastikan bahwa DPR akan menampung seluruh aspirasi dari tenaga kesehatan dan publik.
Setiap masukan akan disampaikan kepada pemerintah sebagai bagian dari penguatan program MBG.
Sebagian artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dan Kompas.com dengan judul "Wakil Ketua DPR Cucun Syamsurijal Minta Maaf soal Polemik Respons Usulan Ahli Gizi".
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.