Pari Mahulu, Badak Kalimantan Terakhir akan Jalani Program Bayi Tabung
Pari Mahulu, satu-satunya badak Kalimantan yang masih hidup bebas di alam liar di Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, akan ditranslokasi ke Suaka Badak Kelian dan dipersiapkan untuk menjalani program reproduksi berbantuan atau bayi tabung sebagai upaya penyelamatan spesies yang terancam punah.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi konservasi setelah populasi badak Kalimantan (Dicerorhinus sumatrensis harrissoni) tersisa dua ekor betina.
Selain Pari Mahulu yang hidup liar di hutan, satu badak lainnya bernama Pahu saat ini berada dalam pengawasan di Suaka Badak Kelian, Kalimantan Timur.
"Kalau kita tidak bertindak sekarang, mungkin 10 tahun lagi kita hanya bisa melihatnya di buku sejarah," ujar Kasubdit Pengawetan Spesies dan Genetik Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan Budi Mulyanto, dilansir dari Antara, Kamis (11/6/2026).
Pari Mahulu merupakan badak Kalimantan betina yang ditemukan di Kabupaten Mahakam Ulu. Nama "Pari" merujuk pada individu badaknya, sedangkan "Mahulu" diambil dari nama wilayah Mahakam Ulu, tempat satwa tersebut hidup.
satunya badak Kalimantan yang masih bertahan di alam liar, keberadaan Pari dinilai sangat penting untuk menjaga kelangsungan subspesies langka tersebut.
Pari Mahulu, harapan terakhir badak Kalimantan di Indonesia
Badak di Kalimantan Timur
Pari Mahulu menjadi perhatian dunia konservasi karena merupakan harapan terakhir untuk mempertahankan keberadaan subspesies badak Kalimantan di Indonesia.
Keberadaan Pari Mahulu dinilai sangat penting karena badak betina tersebut hidup sendirian tanpa pasangan di habitat alaminya.
Kondisi tersebut membuatnya tidak memiliki peluang berkembang biak secara alami.
Jika Pari Mahulu mati tanpa sempat diselamatkan, Indonesia berisiko kehilangan materi genetik terakhir dari badak Kalimantan yang masih tersisa di alam liar.
Karena itu, pemerintah bersama lembaga konservasi dan para peneliti sepakat memindahkan Pari ke lokasi yang lebih aman.
Translokasi dilakukan bukan sekadar memindahkan satwa, tetapi juga untuk menyelamatkan warisan genetik yang dimilikinya.
Akan menjalani program bayi tabung
Setelah dipindahkan ke Suaka Badak Kelian di Kabupaten Kutai Barat, Pari akan menjalani masa adaptasi dan pemeriksaan kesehatan secara intensif.
Usianya yang masih relatif muda serta kondisi fisik yang dinilai baik menjadi modal penting untuk memasuki tahap berikutnya, yakni program reproduksi berbantuan.
Melalui teknologi tersebut, sel telur Pari akan diambil dan disimpan untuk dikembangkan dengan bantuan ilmu pengetahuan modern.
Program ini diharapkan dapat membuka peluang lahirnya keturunan baru badak Kalimantan meski saat ini tidak tersedia pejantan.
Habitat asli tetap dijaga
Meski Pari Mahulu akan dipindahkan, kawasan hutan di Mahakam Ulu tetap akan dilindungi. Wilayah tersebut bahkan diusulkan menjadi kawasan preservasi yang dapat menjadi habitat bagi keturunan badak Kalimantan pada masa mendatang.
"Kita tidak mengambil badak lalu meninggalkan hutannya begitu saja. Hutan ini tetap dijaga agar tidak rusak karena diusulkan menjadi kawasan preservasi," kata Kepala BKSDA Kalimantan Timur Ari Wibawanto, dikutip dari Antara, Kamis (11/6/2026).
Melansir dari Antara, Kamis (11/6/2026), BKSDA mengatakan bahwa upaya penyelamatan tidak hanya berfokus pada satwa, tetapi juga pada perlindungan habitatnya agar tetap layak dihuni apabila populasi badak Kalimantan berhasil dipulihkan.
Persiapan translokasi Pari Mahulu
Saat ini berbagai persiapan tengah dilakukan untuk memindahkan Pari Mahulu dari hutan Mahakam Ulu ke Suaka Badak Kelian.
Di lokasi tujuan, kandang karantina dan paddock, kandang eksklosur berukuran besar sedang disiapkan sebagai tempat tinggal sementara, maupun permanen bagi Pari.
Proses pemindahan juga dirancang dengan standar keamanan tinggi, termasuk penggunaan helikopter untuk mengurangi risiko dan tingkat stres satwa selama perjalanan.
Melalui translokasi, perlindungan habitat, serta pemanfaatan teknologi bayi tabung, para pihak berharap kisah badak Kalimantan belum berakhir.
Upaya tersebut diharapkan dapat membuka peluang lahirnya generasi baru sehingga wisatawan dan generasi mendatang masih dapat menyaksikan salah satu satwa langka Indonesia ini di hutan Kalimantan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang