Ini Makna Gending Lir Ilir dalam Sungkeman Ruwatan di Jawa

sungkeman, ruwatan, Lir Ilir, Sunan Kalijaga, tradisi ruwatan, Gending Lir Ilir, Ini Makna Gending Lir Ilir dalam Sungkeman Ruwatan di Jawa

Saat momen sungkeman dalam tradisi ruwatan masyarakat Jawa, lagu "Gending Lir Ilir" kerap dinyanyikan. Adakah makna khusus di balik tembang tersebut?

Untuk diketahui, sungkeman merupakan momen ketika seseorang memohon maaf dan meminta doa restu kepada orangtua dan sesepuh. 

Dalam tradisi ruwatan, sungkeman termasuk bagian penting karena melambangkan penghormatan, sekaligus harapan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

Apa makna "Gending Lir Ilir" dalam sungkeman?

Mengandung pesan moral dan spiritual

sungkeman, ruwatan, Lir Ilir, Sunan Kalijaga, tradisi ruwatan, Gending Lir Ilir, Ini Makna Gending Lir Ilir dalam Sungkeman Ruwatan di Jawa

Ilustrasi sungkeman. Gending Lir Ilir lebih dari sekadar tembang. Syairnya menyimpan pesan introspeksi, perbaikan diri, dan makna sungkeman.

Dilansir dari buku Ruwatan Tradisi di Kadilangu, Jumat (12/6/2026), "Gending Lir Ilir" diciptakan oleh Sunan Kalijaga. Tembang tersebut diawali dengan lirik "lir ilir", yang diambil dari kata "ngilir" dalam bahasa Jawa yang artinya "bangun".

Tembang ini dikenal luas karena syairnya mengandung pesan moral dan spiritual yang masih relevan hingga saat ini

Dalam tradisi ruwatan, tembang tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pengiring prosesi. Syair-syairnya mengandung ajakan agar manusia selalu mengevaluasi diri dan meningkatkan kualitas hidupnya.

Saat bersimpuh di hadapan orangtua atau sesepuh, seseorang mengakui kesalahan yang pernah dilakukan, memohon maaf, sekaligus meminta doa restu untuk masa depan yang lebih baik.

Makna utama tembang ini terdapat pada lirik "lir ilir". Dalam filosofi Jawa, makna "bangun" tidak hanya soal membuka mata dari tidur, tapi juga membangunkan kesadaran diri.

Melalui syair tersebut, manusia diajak untuk keluar dari sifat malas, memperbaiki perilaku, dan semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Pesan itu selaras dengan tujuan ruwatan yang pada dasarnya merupakan upaya membersihkan diri secara lahir dan batin.

Oleh karena itu, "Gending Lir Ilir" sering dianggap sebagai pengingat agar seseorang tidak hanya menjalani ritual secara simbolis, tapi juga memahami makna di baliknya.

sungkeman, ruwatan, Lir Ilir, Sunan Kalijaga, tradisi ruwatan, Gending Lir Ilir, Ini Makna Gending Lir Ilir dalam Sungkeman Ruwatan di Jawa

Ilustrasi Ruwatan. Gending Lir Ilir lebih dari sekadar tembang. Syairnya menyimpan pesan introspeksi, perbaikan diri, dan makna sungkeman.

Makna mendalam juga tersimpan dalam bait "Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi".

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Sulawesi Selatan, Sulwesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (Sulselterabar), Ekka S. Sukadana mengatakan, dari bait pembuka tembang tersebut, terdapat makna manusia untuk bergerak dan bangun, serta berubah demi kebaikan, dilansir dari laman DJKN Kemenkeu.

Tidak hanya itu, bait tersebut menggambarkan anak gembala yang diminta untuk memanjat pohon belimbing.

Buah belimbing yang memiliki lima sisi dan dimaknai sebagai simbol nilai-nilai kehidupan dan pengingat untuk terus belajar, serta menggali ilmu.

Sementara itu, bait "Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro" mengajarkan agar manusia tetap berusaha meskipun menghadapi berbagai kesulitan. '

Adapun bait "Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore" mengandung pesan untuk memperbaiki kekurangan dan membenahi diri selagi masih memiliki kesempatan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang