Survei Jobstreet: Gaji Tinggi Tak Menjamin Karyawan Bertahan

Jobstreet, gaji, Survei Jobstreet: Gaji Tinggi Tak Menjamin Karyawan Bertahan

Gaji tinggi ternyata tidak menjadi jaminan karyawan akan bertahan di sebuah perusahaan. 

Temuan ini terungkap dalam laporan terbaru Jobstreet by SEEK yang menyoroti faktor utama kebahagiaan pekerja di Indonesia.

Pasca-Lebaran, tren pencarian kerja biasanya meningkat seiring berakhirnya masa libur dan pencairan Tunjangan Hari Raya (THR). 

Kondisi ini kerap diikuti pertimbangan ulang karier, termasuk keputusan untuk mengundurkan diri.

Meski demikian, fenomena resign setelah Lebaran tidak sebesar yang sering diasumsikan. 

"Fenomena resign sesudah Lebaran ini memang terjadi, akan tetapi tidak dalam jumlah yang signifikan dibanding periode lainnya seperti akhir tahun atau setelah performance review yang biasanya berkaitan dengan promosi dan kenaikan gaji," jelas Talent Acquisition Manager Jobstreet by SEEK, Ria Novita, dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Jumat (27/3/2026). 

"Bagi yang resign setelah Lebaran, biasanya dikarenakan mereka memang sudah berniat sejak jauh hari, namun masih menunggu pembayaran THR agar mendapatkan haknya secara penuh. Jadi, pengunduran dirinya baru dilakukan sesudah THR diterima," tambahnya.

Ia menambahkan bahwa pengunduran diri setelah menerima THR tetap dapat dianggap sah selama karyawan mengikuti prosedur yang berlaku.

Gaji Tinggi Bukan Satu-satunya Faktor Kebahagiaan

Laporan Workplace Happiness Index dari Jobstreet by SEEK menunjukkan bahwa meskipun 54 persen pekerja di Indonesia menilai gaji lebih tinggi dapat meningkatkan kebahagiaan, faktor tersebut bukan satu-satunya penentu.

Dua aspek utama yang memengaruhi kebahagiaan kerja adalah keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance) dan tujuan yang bermakna dalam pekerjaan (purpose at work).

Karyawan yang merasa pekerjaannya memiliki makna cenderung lebih bahagia dan memiliki kemungkinan lebih kecil untuk meninggalkan perusahaan. 

Selain itu, pekerja yang bahagia memiliki peluang 24 persen lebih besar untuk menunjukkan kinerja ekstra.

Untuk diketahui, Workplace Happiness Index dilakukan oleh lembaga riset pasar Nature atas nama SEEK pada Oktober-November 2025 melalui survei daring.

Tanggapan dikumpulkan dari sekitar 1.000 individu yang saat ini berada di pasar tenaga kerja, berusia 18 hingga 64 tahun, dan tinggal di Indonesia.

Untuk memastikan keakuratan,data telah ditimbang agar secara geografis mewakili angkatan kerja di setiap pasar, berdasarkan usia dan jenis kelamin.

Perusahaan Perlu Lakukan Evaluasi

Menurut Ria, periode pasca-Lebaran seharusnya dapat menjadi waktu evaluasi bagi perusahaan dalam mengelola sumber daya manusia.

"Dari kacamata perusahaan, setiap keputusan resign pasti membawa konsekuensi, baik berupa waktu maupun biaya untuk rekrutmen dan pelatihan," ujarnya. 

"Namun, karena fenomena ini biasanya sudah diawali niat sejak jauh hari, hal ini tidak seharusnya menjadi 'kejutan besar' jika komunikasi antara karyawan dan atasan berjalan baik selama ini," lanjut Ria.

Menurutnya, perusahaan perlu memahami alasan di balik keputusan karyawan untuk keluar dan memperbaiki aspek penting seperti jenjang karier, kompensasi, serta budaya kerja.

Perusahaan juga perlu menyeimbangkan gaji yang kompetitif dan membangun lingkungan kerja dengan tujuan (purpose) dan work-life balance yang sehat.

Dengan begitu, tingkat turnover menjadi lebih sehat dan tidak hanya terkonsentrasi di satu periode saja.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang