Amazon Siap PHK Ribuan Karyawan Lagi, Andy Jassy Ingin Gantikan Manusia dengan AI?
Raksasa teknologi Amazon kembali dikabarkan akan melakukan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran. Setelah dua tahun terakhir memangkas lebih dari 27.000 posisi korporat, perusahaan yang dipimpin Andy Jassy ini dikabarkan tengah bersiap memberhentikan hingga 15 persen dari tim sumber daya manusia (HR), atau sekitar 1.500 pegawai dari total 10.000 karyawan di divisi tersebut.
Menurut laporan Fortune yang mengutip sumber internal, pemangkasan kali ini tidak hanya akan menyasar divisi HR, yang secara internal dikenal sebagai PXT (People eXperience Technology), tetapi juga berpotensi meluas ke beberapa unit bisnis inti lainnya, termasuk ritel konsumen dan teknologi internal Amazon.
Kabar ini muncul di tengah langkah agresif Amazon berinvestasi besar-besaran di bidang kecerdasan buatan (AI) dan infrastruktur cloud. Perusahaan dikabarkan akan mengalokasikan US$100 miliar atau sekitar Rp1.650 triliun untuk belanja modal tahun ini, sebagian besar untuk pengembangan pusat data dan produk berbasis AI.
Langkah PHK ini disebut sebagai bagian dari upaya Amazon untuk menekan biaya tenaga kerja sambil mempercepat transformasi digital berbasis AI. Menurut dua sumber Fortune, tim HR akan menjadi divisi yang paling terdampak, namun belum ada rincian pasti mengenai total jumlah pegawai yang akan terkena dampak atau kapan gelombang pemutusan hubungan kerja itu akan dimulai.
Bos Amazon Andy Jassy
Amazon sendiri menolak memberikan komentar resmi. Namun diketahui bahwa divisi PXT di bawah pimpinan Beth Galetti, memiliki ribuan staf rekrutmen, tim teknologi, serta peran HR tradisional lainnya di seluruh dunia.
Pemangkasan kali ini menambah panjang daftar efisiensi di bawah kepemimpinan Andy Jassy, yang menggantikan Jeff Bezos sebagai CEO pada 2021. Jassy dikenal tegas dalam menekan biaya dan mengembalikan efisiensi setelah masa ekspansi besar-besaran selama pandemi.
Sebelumnya, Amazon sudah memangkas karyawan di divisi perangkat konsumen, podcast Wondery, serta Amazon Web Services (AWS).
Dalam email internal yang juga dipublikasikan di blog resmi Amazon pada Juni lalu, Jassy menegaskan bahwa perubahan besar berbasis AI akan membawa dampak signifikan terhadap struktur tenaga kerja.
“Mereka yang mau beradaptasi dengan perubahan ini, belajar tentang AI, membantu membangun dan meningkatkan kemampuan AI kami di dalam perusahaan, serta memberikan hasil bagi pelanggan, akan berada di posisi terbaik untuk membawa dampak besar dan membantu kami menata ulang Amazon,” tulis Jassy, sebagaimana dikutip dari Fortune, Rabu, 22 Oktober 2025.
“Kami memperkirakan hal ini akan mengurangi jumlah total tenaga kerja korporat kami seiring meningkatnya efisiensi dari penggunaan AI secara luas di seluruh perusahaan.”
Pernyataan tersebut memperkuat sinyal bahwa Amazon memang sedang beralih menuju otomatisasi proses bisnis dengan memanfaatkan kecerdasan buatan, terutama untuk tugas administratif dan rekrutmen yang sebelumnya bergantung pada manusia.
Di bawah kepemimpinan Jassy, Amazon dikenal dengan sistem evaluasi “unregretted attrition” (URA), yakni target tahunan mengenai persentase karyawan yang dianggap “layak dilepas.” Namun sumber Fortune menyebutkan bahwa pemangkasan kali ini berbeda dari praktik URA biasa, artinya, ini adalah keputusan strategis skala besar, bukan sekadar rotasi tahunan.
Pada akhir 2022 hingga 2023, Amazon telah melakukan PHK terbesar dalam sejarahnya dengan memangkas 27.000 karyawan korporat atau sekitar 8 persen dari total staf kantoran. Gelombang itu terjadi bersamaan dengan langkah efisiensi besar di berbagai perusahaan teknologi lain seperti Meta, Google, dan Microsoft, yang juga tengah menyesuaikan diri setelah lonjakan perekrutan di masa pandemi.
Menariknya, di tengah kabar PHK korporat, Amazon tetap membuka lowongan besar-besaran untuk pekerja musiman menjelang musim belanja akhir tahun. Perusahaan berencana merekrut 250.000 karyawan gudang dan logistik di AS, sebuah langkah rutin yang dilakukan setiap tahun untuk memenuhi lonjakan permintaan selama periode liburan.
Saham Amazon sendiri tercatat turun sekitar 1 persen sejak awal 2025, namun masih naik 15 persen dibanding tahun lalu. Perusahaan dijadwalkan melaporkan kinerja keuangan kuartal ketiganya pada akhir bulan ini, yang kemungkinan akan menjadi ajang bagi investor untuk mencari kepastian arah bisnis di tengah gelombang otomasi dan pemangkasan karyawan.