Sindikat Penipuan di Gunung Everest, Pendaki Dipaksa Turun demi Evakuasi Palsu

penipuan asuransi, Sindikat Penipuan di Gunung Everest, Pendaki Dipaksa Turun demi Evakuasi Palsu

Sindikan penipuan di Gunung Everest terungkap dari investigasi kepolisian Nepal. Para pemandu diduga sengaja membuat pendaki asing sakit agar bisa dievakuasi dengan helikopter demi keuntungan pribadi.

Kepolisian Nepal sedang menyelidiki skandal penipuan asuransi yang diperkirakan mencapai 20 juta dollar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp 315 miliar.

Skandal ini melibatkan jaringan luas dari berbagai profesi di sektor pariwisata, termasuk pemandu.

Sindikat penipuan di Gunung Everest

Pemandu diduga racuni pendaki agar dievakuasi dengan helikopter

penipuan asuransi, Sindikat Penipuan di Gunung Everest, Pendaki Dipaksa Turun demi Evakuasi Palsu

Polisi ungkap sindikat penyelamatan palsu di Gunung Everest. Pemandu diduga racuni makanan pendaki agar bisa klaim evakuasi helikopter

Pihak penyidik menemukan, beberapa pemandu diduga sengaja menaruh baking powder dalam jumlah banyak ke makanan pendaki, dilansir dari The Independent, Jumat (3/4/2026).

Efeknya bisa membuat mereka merasakan sakit perut yang luar biasa. Gejala ini sengaja dibuat agar mirip dengan penyakit ketinggian atau altitude sickness.

Selain baking powder, ada laporan pendaki diberi air minum berlebih atau obat tertentu secara paksa. 

Saat pendaki merasa sakit, pemandu akan menyarankan evakuasi darurat menggunakan helikopter. Padahal evakuasi tersebut mungkin tidak benar-benar diperlukan secara medis.

Dilansir dari Kathmandu Post, klaim asuransi nantinya akan diajukan, yang mana tidak sesuai dengan peristiwa sesungguhnya. 

Perlu dicatat adanya kesulitan verifikasi oleh perusahaan asuransi asing, yang biasanya beroperasi di Australia dan Inggris. Apalagi bila peristiwa tersebut terjadi di ketinggian 3.000 meter di atas permukaan tanah dan terpencil. 

penipuan asuransi, Sindikat Penipuan di Gunung Everest, Pendaki Dipaksa Turun demi Evakuasi Palsu

puncak gunung yang berada di pegunungan Himalaya, termasuk Gunung Everest. Polisi ungkap sindikat penyelamatan palsu di Gunung Everest. Pemandu diduga racuni makanan pendaki agar bisa klaim evakuasi helikopter

Adapun terdapat dua metode untuk menciptakan keadaan "darurat".

Metode pertama biasanya untuk pendaki yang kelelahan setelah menyelesaikan pendakian berhari-hari. Pemandu akan menawarkan alternatif pura-pura sakit, lalu dievakuasi oleh helikopter. 

Metode kedua adalah memanfaatkan altitude sickness yang biasa mendera di ketinggian di atas 3.000 meter. Sakit kepala, kesemutan, dan penurunan saturasi oksigen bisa terjadi, yang mana terkadang bisa diringankan dengan istirahat, hidrasi, atau turun secara bertahap.

Namun, berdasarkan investigasi CIB, pihak hotel diduga "membuat" pendaki cemas dengan menuturkan bahwa mereka bisa meninggal sehingga harus dievakuasi. 

Dalam sejumlah kasus, penyelidik menemukan suatu obat, yang digunakan untuk mencegah altitude sickness, diberikan berbarengan dengan asupan air berlebihan sehingga menciptakan gejala yang membuat pendaki merasa "harus" dievakuasi.

Tak cuma dilakukan satu orang

penipuan asuransi, Sindikat Penipuan di Gunung Everest, Pendaki Dipaksa Turun demi Evakuasi Palsu

Polisi ungkap sindikat penyelamatan palsu di Gunung Everest. Pemandu diduga racuni makanan pendaki agar bisa klaim evakuasi helikopter

Penipuan ini tidak dilakukan oleh satu orang saja. Kepolisian Nepal menyebutkan adanya ekosistem yang bekerja sama dalam kejahatan ini.

Jaringan ini melibatkan pemilik perusahaan pendakian, operator helikopter, dan eksekutif rumah sakit.

Sejauh ini, polisi telah mendakwa 32 orang dan menangkap 11 orang lainnya. Mereka dituduh memalsukan dokumen medis dan catatan penerbangan.

Menurut Biro Investigasi Pusat (CIB) Nepal, tindakan ini merusak martabat dan harga diri nasional Nepal di mata dunia.

Ribuan pendaki Gunung Everest jadi korban penipuan

Skala penipuan ini cukup luas. Antara tahun 2022 hingga 2025, sebanyak 4.782 pendaki internasional terkena dampaknya. Polisi pun telah menemukan lebih dari 300 kasus evakuasi palsu.

Para pelaku menggandakan biaya dengan cara yang curang. Mereka menagih biaya asuransi untuk setiap penumpang helikopter secara terpisah, padahal beberapa pendaki seringkali terbang bersama dalam satu helikopter yang sama.

Rumah sakit juga diduga turut berperan dengan membuat laporan perawatan palsu bagi pendaki yang sebenarnya sehat.

Masalah evakuasi palsu ini sebenarnya bukan hal baru. Kathmandu Post pada tahun 2018 pernah mengungkap masalah senada.

Saat itu, Pemerintah Nepal menjanjikan reformasi besar-besaran. Namun, penipuan ini tetap tumbuh subur hingga saat ini.

Kepala CIB, Manoj Kumar KC menuturkan, kasus ini kembali terjadi akibat sanksi yang lemah dan tidak ada tindakan tegas. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang