Iran Siaga Perang, Pemerintah Bersiap Hadapi Potensi Serangan Militer AS
Otoritas Iran telah memberi sinyal untuk menjaga wilayahnya di tengah ancaman serangan militer Amerika Serikat. Dalam menjalankan misi itu, hari ini Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi dijadwalkan akan menggelar pertemuan tingkat tinggi di Turki.
Berdasarkan keterangan juru bicara Kementerian Luar Negeri, Iran, Esmaeil Baghaei Teheran ingin terus memperkuat hubungan dengan negara-negara tetangga berdasarkan kepentingan bersama.
Kunjungan ini berlangsung di tengah intensnya pertemuan para pemimpin kawasan, yang berharap bisa membujuk Amerika Serikat agar tidak melancarkan serangan, sekaligus mendorong kedua pihak menemukan titik kompromi. Namun, di sisi lain, armada militer AS dikethaui terus mengambil posisi di dekat perairan Iran, dipimpin oleh kapal induk USS Abraham Lincoln.
Di dalam negeri, para pejabat politik, militer, dan kehakiman Iran terus mengirimkan pesan perlawanan, menegaskan bahwa fokus Iran saat ini adalah pertahanan, bukan perundingan.
“Prioritas Teheran sekarang bukan bernegosiasi dengan Amerika Serikat, melainkan bersiaga 200 persen untuk membela negara kami,” kata anggota senior tim perunding Iran, Kazem Gharibabadi seperti dikutip media pemerintah pada Rabu.
Gharibabadi menyebutkan bahwa belakangan ini pesan-pesan telah disampaikan kepada AS melalui perantara. Namun, ia menegaskan bahwa sekalipun kondisi memungkinkan untuk berunding, Iran tetap akan sepenuhnya siap membela diri. Ia mengingatkan bahwa Iran sebelumnya diserang oleh Israel, lalu oleh AS pada Juni lalu, tepat saat perundingan hendak dimulai.
Militer Disiagakan
Dalam beberapa hari terakhir, Iran menonjolkan kekuatan militernya, menyusul serangkaian latihan militer yang digelar sejak perang 12 hari pada Juni lalu, ketika sejumlah pejabat militer senior tewas dan fasilitas nuklir diserang.
Kamis lalu, militer Iran mengumumkan bahwa 1.000 drone “strategis” baru telah bergabung dengan angkatan bersenjata. Drone-drone tersebut mencakup drone bunuh diri satu arah, serta pesawat tanpa awak untuk tempur, pengintaian, dan perang siber yang mampu menyerang target tetap maupun bergerak di darat, laut, dan udara.
“Seiring dengan besarnya ancaman yang kami hadapi, agenda angkatan darat mencakup upaya menjaga dan meningkatkan keunggulan strategis untuk pertempuran cepat serta respons tegas terhadap setiap agresi,” ujar Panglima Angkatan Darat Iran, Amir Hamati, dalam pernyataan singkat.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebelumnya juga menegaskan kemampuannya untuk tetap bertahan dari serangan dan terus meluncurkan rudal balistik maupun jelajah ke arah Israel, serta aset-aset AS di kawasan jika diperlukan.
Kesiapsiagaan Warga
Pemerintah juga berupaya meningkatkan kesiapan warga sipil jika perang benar-benar terjadi.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mendelegasikan sebagian kewenangan kepada para gubernur di provinsi perbatasan, sehingga mereka bisa mengimpor kebutuhan pokok, terutama pangan, jika situasi perang terjadi.
Perhatian juga tertuju pada kebutuhan mendesak akan tempat perlindungan umum untuk melindungi warga dari serangan udara.
Wali Kota Teheran, Alireza Zakani, yang dikenal berhaluan keras, menyatakan pada Kamis bahwa pemerintah kota akan membangun tempat perlindungan di area parkir bawah tanah sebagai proyek prioritas.
Namun, Zakani menyebut proyek tersebut baru akan rampung dalam beberapa tahun ke depan. Artinya, jika konflik pecah dalam waktu dekat, warga Iran kembali akan memiliki sangat sedikit tempat aman untuk berlindung dari serangan udara.
Konflik baru juga kemungkinan besar akan diikuti dengan pemadaman komunikasi, seperti yang terjadi saat perang Juni lalu dan selama gelombang protes terbaru.
Akses internet dan jaringan seluler di seluruh Iran sempat diputus total oleh pemerintah pada malam 8 Januari, saat puncak demonstrasi nasional, dalam salah satu periode paling berdarah sejak Revolusi 1979.
Setelah hampir tiga pekan pemadaman total yang berdampak pada lebih dari 90 juta orang pemerintah Iran mulai memulihkan sebagian akses internet dalam beberapa hari terakhir. Namun, bagi banyak warga, komunikasi masih terputus atau sangat terganggu.
Mereka yang berhasil terhubung ke internet kini melihat kembali gambar-gambar kekerasan dalam beberapa pekan terakhir dan khawatir akan terulangnya pertumpahan darah jika perang benar-benar pecah.
“Saya takut sebentar lagi kami akan kembali terbangun di malam hari oleh suara ledakan keras karena perang,” kata seorang perempuan muda di Teheran.
Ia mengaku terus dibanjiri gambar dan video memilukan tentang para demonstran yang tewas di berbagai daerah.
“Namun, bahkan tanpa perang pun, kematian sudah ada di mana-mana.”