Dollar AS Menguat, Industri Mobil Nasional Mulai Siaga

Booth Wuling di IIMS 2025
Booth Wuling di IIMS 2025

Kenaikan nilai tukar dollar Amerika Serikat dan suku bunga acuan atau BI-Rate mulai menjadi perhatian pelaku industri otomotif nasional. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memengaruhi harga kendaraan hingga cicilan kredit mobil di Indonesia.

Brand Communications Senior Manager Wuling Motors, Brian Gomgom, mengatakan bahwa pihaknya masih memantau perkembangan situasi ekonomi sebelum mengambil langkah lebih lanjut terkait penyesuaian harga kendaraan.

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut dia, kenaikan kurs dollar menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan karena berkaitan dengan biaya industri otomotif.

“Memang ada beberapa faktor yang memengaruhi harga. Tetapi kami melihat saat ini permintaan mobil masih ada dan masyarakat masih punya semangat membeli kendaraan,” ujar Brian di Purwokerto, Jawa Tengah.

Meski demikian, Wuling belum bisa memastikan apakah akan melakukan penyesuaian harga dalam waktu dekat. Sebab, kenaikan nilai tukar dollar disebut masih tergolong baru sehingga dampaknya belum sepenuhnya terlihat.

“Kami belum bisa bicara lebih lanjut karena kenaikan dollar ini juga baru terjadi. Jadi kami masih melihat langkah apa yang akan dilakukan,” kata dia.

Brian menambahkan, Wuling tetap berupaya menjaga agar produk yang dipasarkan tetap memiliki value for money bagi konsumen Indonesia.

Selain nilai tukar mata uang, kenaikan BI-Rate juga dinilai dapat memengaruhi pasar otomotif nasional. Sebab, perubahan suku bunga acuan biasanya diikuti kenaikan bunga leasing atau pembiayaan kendaraan.

“Dengan naiknya BI-Rate tentu akan berpengaruh ke bunga leasing. Itu nantinya bisa berdampak pada pembelian mobil secara kredit,” ujar Brian.

Sebagaimana diketahui, sebagian besar pembelian kendaraan di Indonesia masih dilakukan melalui skema kredit. Karena itu, perubahan bunga cicilan berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat.

Meski kondisi ekonomi global sedang bergejolak, Wuling melihat minat masyarakat terhadap kendaraan elektrifikasi masih cukup tinggi, terutama untuk model electric vehicle (EV).

Brian mengatakan, saat ini ketertarikan konsumen terhadap mobil listrik Wuling justru terus meningkat.

“Yang kami lihat sekarang, orang yang bertanya dan tertarik dengan EV Wuling semakin banyak,” kata dia.

Menurut Wuling, kondisi tersebut tidak lepas dari perkembangan pasar kendaraan listrik di Indonesia yang tumbuh cukup cepat dalam beberapa tahun terakhir.

Wuling menyebut pangsa pasar EV nasional kini sudah mencapai sekitar 18 persen. Angka itu meningkat signifikan dibanding 2022 ketika populasi kendaraan listrik masih relatif kecil.

Selain EV, Wuling juga mulai melihat pertumbuhan minat terhadap kendaraan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV). Pada model Wuling Eksion, kontribusi varian PHEV disebut sudah mencapai 30 persen dari total pemesanan.

“Jadi kami melihat ada tren baru juga di PHEV,” ujar Brian.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di tengah perubahan pasar otomotif tersebut, Wuling memastikan tetap akan menghadirkan produk yang sesuai kebutuhan konsumen Indonesia, baik kendaraan berbasis mesin bensin, hybrid, PHEV, maupun EV.

Saat ini Wuling masih memasarkan model internal combustion engine (ICE) seperti Almaz, Cortez, dan Alvez. Namun di sisi lain, pabrikan asal China itu juga terus memperkuat lini kendaraan elektrifikasi mereka di Indonesia.