Hati-hati, Konten Pamer Fisik di Media Sosial Bisa Picu Masalah Gangguan Makan
Media sosial kini lebih sering menampilkan sisi sempurna seseorang, mulai dari gaya hidup mewah hingga bentuk tubuh yang dianggap ideal. Tak heran jika konten memamerkan aktivitas di gym, atau hasil diet ketat, semakin menjamur.
Sayangnya, paparan konten seperti itu secara terus-menerus dapat menjadi beban mental tersendiri bagi mereka yang sedang berjuang dengan citra tubuhnya. Melihat deretan foto fisik tanpa cela secara perlahan berpotensi mengikis harga diri.
Menanggapi fenomena ini, Konsultan Senior Neurologi dari Rumah Sakit Aster CMI, Bangalore, Dr. Lokesh B, memberikan pandangannya.
"Media sosial dapat memicu gangguan makan (eating disorder) dengan terus-menerus menampilkan gambar tubuh yang diedit, difilter, dan tidak realistis, yang membuat orang membandingkan diri mereka sendiri dengan cara yang tidak sehat," ungkap konsultan senior neurologi dari Aster CMI Hospital, Bangalore, dr. Lokesh B, menyadur Onlymyhealth, Selasa (24/3/2026).
"Ketika unggahan dipenuhi dengan tubuh yang ‘sempurna’, tren diet ketat, tantangan penurunan berat badan, dan komentar yang memuji tubuh kurus, hal itu perlahan dapat memengaruhi harga diri dan menciptakan tekanan untuk terlihat sesuai dengan standar kecantikan yang ada," sambung dia.
Alasan media sosial bisa picu gangguan makan
Menjebak pengguna lewat algoritma
Sistem algoritma platform digital umumnya dirancang untuk menahan audiens agar terus scrolling media sosial. Artinya, pengguna akan dibombardir dengan konten sejenis tanpa henti, yang memperparah rasa tidak aman.
"Algoritma sering kali terus menampilkan konten serupa, yang dapat menjebak pengguna dalam siklus perbandingan, ketidakpuasan terhadap tubuh, dan kebiasaan tidak sehat," ungkap dr. Lokesh B.
Menurut dr. Lokesh B, kelompok usia remaja dan dewasa muda menjadi yang paling rentan terdampak.
Rasa cemas yang muncul akibat melihat standar fisik di media sosial mendorong mereka melakukan tindakan yang tidak sehat, mulai dari membatasi makan secara ekstrem hingga memforsir tubuh dengan olahraga yang melampaui batas.
Terkait hal ini, sebuah riset berjudul "Social Media Use Among Adolescents with Eating Disorders: A Double-edged Sword", mengungkap, masalah gangguan makan sedang mengalami lonjakan secara global dan membawa dampak serius pada kondisi psikologis.
"Penyalahgunaan platform media sosial kemungkinan merupakan faktor penyebab yang signifikan," sebut studi tersebut.
Tanda awal munculnya gangguan makan
Ilustrasi media sosial.
Penting bagi masyarakat untuk mengenali tanda-tanda awal munculnya gangguan ini. Indikasi yang perlu diwaspadai meliputi kebiasaan menghindari jam makan, memaksakan diet tanpa anjuran medis, dan memisahkan menu makan dari keluarga.
Selanjutnya adalah menarik diri dari pergaulan. Selain itu, penderita kerap komplain atau mengkhawatirkan berat badan, terobsesi memeriksa lemak di cermin, mengonsumsi obat pencahar, berolahraga secara ekstrem, hingga sengaja memuntahkan makanan.
Jika kamu melihat orang terdekatmu mengalami kapalan pada buku jari, ini juga perlu diwasadai karena bisa jadi kapalan tersebut muncul karena sering memasukkan jari ke mulut untuk memuntahkan makanan.
Cara mencegah gangguan makan karena media sosial
Untuk mencegah dampak buruk tersebut, ada sejumlah langkah perlindungan mental yang bisa diterapkan.
Kamu disarankan untuk segera berhenti mengikuti akun-akun yang memicu perasaan negatif, dan menggantinya dengan akun yang mendukung penerimaan diri.
Kamu juga harus menyadari bahwa mayoritas foto di media sosial telah melalui proses penyuntingan dan pemilihan sudut terbaik.
Membatasi durasi menatap layar (screen time) dan berfokus pada interaksi sosial di dunia nyata adalah kunci untuk mempertahankan rasa percaya diri.
Mulailah mengapresiasi tubuh berdasarkan kemampuannya, bukan sekadar penampilannya, serta hindari membandingkan realitas kehidupan dengan cuplikan momen terbaik milik orang lain.
"Jika media sosial memengaruhi kebiasaan makan atau kesehatan mentalmu, bicaralah dengan orang dewasa yang kamu percayai, teman, atau profesional kesehatan mental untuk mendapatkan dukungan," pungkas dr. Lokesh B.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang