Dokter Ungkap Upaya Menurunkan Stadium Kanker dan Meningkatkan Harapan Hidup Pasien di Indonesia
Kanker masih menjadi tantangan besar dalam sistem kesehatan Indonesia. Banyak pasien datang dalam kondisi stadium lanjut, sehingga peluang kesintasan atau harapan hidup menjadi lebih rendah. Karena itu, berbagai pihak mulai mendorong perubahan pendekatan, tidak hanya fokus pada pengobatan, tetapi juga membangun ekosistem yang mampu menurunkan stadium penyakit sejak awal dan meningkatkan kualitas hidup pasien secara menyeluruh.
Salah satu perhatian utama adalah kanker payudara, yang menjadi kasus kanker terbanyak pada perempuan Indonesia dengan lebih dari 66.000 kasus baru per tahun. Tingginya angka kematian sering kali disebabkan oleh keterlambatan diagnosis dan akses terapi yang belum optimal.
Pendekatan yang diusung adalah strategi disease down-staging atau penurunan stadium penyakit. Artinya, pasien diupayakan terdiagnosis dan ditangani pada tahap lebih awal agar peluang kesembuhan meningkat.

"Misi kami adalah memberikan kepastian dan harapan bagi setiap pasien. Kami menyadari bahwa teknologi medis tercanggih sekalipun tidak akan efektif tanpa sistem pendukung yang kuat. Oleh karena itu, kami memimpin inisiatif ini untuk membangun ekosistem onkologi yang utuh, mulai dari deteksi dini, navigasi pasien, hingga akses terhadap terapi inovatif,” ujar Dr. Edy Gunawan, CEO MRCCC Siloam Hospitals Semanggi saat penandatanganan kerja sama dengan Roche Indonesia di Jakarta pada pada Jumat, 13 Februari 2026.
Dr. Edy menjelaskan bahwa hal ini adalah untuk membangun ekosistem menyeluruh berbasis patient first. Pendekatan ini mencakup end-to-end patient journey, mulai dari diagnosis, biopsi, operasi, kemoterapi, hingga radiasi. Setiap tahap harus sesuai standar dan pasien dibantu menavigasi prosesnya agar tidak terhenti di tengah jalan.
"Kita berangkat dari kita sebut sebagai end-to-end patient journey, dalam hal ini adalah pasien kanker, karena MRCCC adalah rumah sakit kanker,” ujarnya lagi.
Masalah lost to follow up atau pasien yang berhenti berobat juga menjadi perhatian. Untuk mengatasinya, dibangun komunitas penyintas yang saling mendukung agar pasien tetap menjalani terapi hingga tuntas.
Keterbatasan tenaga perawat onkologi di Indonesia juga menjadi tantangan tersendiri. Oleh sebab itu, pelatihan khusus termasuk program nurse navigator didorong untuk membantu pasien memahami tahapan terapi secara lebih terarah.
Selain itu, riset klinis di populasi Indonesia diperluas. Hal ini penting karena efektivitas obat yang diteliti di luar negeri belum tentu sepenuhnya sesuai dengan karakter genetik masyarakat Indonesia. Melalui uji klinis, pasien yang tidak lagi memiliki opsi terapi dapat memperoleh akses terhadap pengobatan terbaru.
"Oleh karena itu kita juga mendorong untuk lebih banyak dilakukan clinical research di populasi Indonesia,” kata Dr. Edy.
Perkembangan teknologi juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas terapi. Salah satunya penggunaan alat radiasi terbaru seperti CT-Linac yang memungkinkan proses perencanaan dan radiasi dilakukan secara simultan dengan akurasi lebih tinggi.
Teknologi yang juga sudah ada di MRCCC Siloam Semanggi ini bahkan dilengkapi kecerdasan buatan (AI) yang memungkinkan sinar radiasi mengikuti pergerakan tumor, sehingga meminimalkan paparan pada jaringan sehat di sekitarnya.
Data menunjukkan angka kesintasan kanker di Indonesia masih sekitar 52–54 persen, tertinggal dibandingkan negara tetangga yang telah mencapai 70–80 persen. Kondisi ini menjadi alarm bahwa perbaikan sistem harus dilakukan bersama.
Deteksi dini melalui pemeriksaan mandiri (SADARI), edukasi tenaga kesehatan, penguatan registri kanker, hingga peningkatan kesadaran publik menjadi bagian dari strategi jangka panjang.
Pada akhirnya, tujuan utama dari seluruh upaya ini adalah memperbaiki angka kesintasan dan kualitas hidup pasien kanker di Indonesia. Transformasi ini menandai pergeseran paradigma, dari sekadar mengobati menjadi mendampingi pasien secara menyeluruh dalam perjalanan panjang melawan kanker.