Bill Gates Disebut Pernah Infeksi Menular Seksual, Dokter Ungkap Fakta IMS dan Gejalanya
Nama Bill Gates kembali menjadi sorotan setelah dokumen terkait Jeffrey Epstein memunculkan tudingan bahwa pendiri Microsoft itu pernah tertular infeksi menular seksual (IMS).
Meski Gates membantah keras tuduhan tersebut, isu ini memicu perhatian publik terhadap penyakit menular seksual yang kerap luput dari pembahasan terbuka.
Infeksi menular seksual tidak selalu menimbulkan gejala, tetapi dapat berdampak serius jika tidak terdeteksi dan diobati.
Dokter menegaskan bahwa pemahaman soal infeksi menular seksual penting bagi semua orang yang aktif secara seksual, tanpa memandang usia atau latar belakang.
Isu yang menyeret Bill Gates
Laporan CNBC TV 18 mengungkap klaim dalam dokumen Departemen Kehakiman AS yang dikaitkan dengan mendiang Jeffrey Epstein, menyebut Bill Gates tertular penyakit menular seksual dari perempuan asal Rusia.
Dokumen tersebut memuat tangkapan layar email yang diduga ditulis Epstein pada 2013, termasuk tuduhan bahwa Gates meminta antibiotik untuk diberikan secara diam-diam kepada mantan istrinya, Melinda Gates.
Namun, laporan media Inggris yang mengutip dokumen itu juga menegaskan tidak ada verifikasi independen atas klaim tersebut.
Melalui juru bicaranya, Gates menyebut tudingan itu “absurd dan sepenuhnya tidak benar,” serta menilai dokumen tersebut hanya mencerminkan upaya pencemaran nama baik.
Apa itu infeksi menular seksual?
Ilustrasi buang air kecil. Isu yang menyeret Bill Gates membuka kembali pembahasan soal infeksi menular seksual yang sering terjadi tanpa disadari.
Infeksi menular seksual atau IMS adalah infeksi yang menyebar terutama melalui kontak seksual, baik vaginal, anal, maupun oral.
American Medical Association (AMA) menyebut IMS dapat disebabkan oleh bakteri, virus, atau parasit, dan jumlah kasusnya terus meningkat setiap tahun.
Dokter spesialis penyakit infeksi dari Columbia University Irving Medical Center, Dr. Jason Zucker, menjelaskan bahwa IMS terbagi menjadi dua kelompok utama, yaitu infeksi bakteri dan infeksi virus.
“Infeksi bakteri seperti klamidia, gonore, dan sifilis bisa disembuhkan dengan antibiotik, sedangkan infeksi virus seperti herpes, HIV, dan HPV tidak bisa dihilangkan sepenuhnya,” kata Zucker dalam laporan AMA.
Mengapa infeksi menular seksual sering tidak disadari?
Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan infeksi menular seksual adalah banyak kasus tidak menunjukkan gejala.
Dr. Jason Zucker menegaskan seseorang tetap bisa membawa dan menularkan infeksi menular seksual meski merasa tubuhnya sehat.
“Tidak adanya gejala bukan berarti tidak ada infeksi, dan itu sebabnya pemeriksaan rutin sangat penting,” ujarnya.
Mengutip Mayo Clinic, IMS kerap baru terdeteksi ketika sudah menimbulkan komplikasi atau saat pasangan terdiagnosis lebih dulu.
Gejala infeksi menular seksual yang perlu diwaspadai
Gejala infeksi menular seksual dapat bervariasi, tergantung jenis infeksinya dan lokasi penularan.
Tanda umum IMS meliputi:
- Nyeri saat buang air kecil
- Keluarnya cairan tidak normal dari penis atau vagina
- Luka atau benjolan di area genital, mulut, atau anus
Zucker menambahkan infeksi menular seksual seperti gonore dan klamidia juga dapat menyerang tenggorokan dan rektum, dengan gejala berupa sakit tenggorokan, nyeri dubur, atau keluarnya cairan dari anus.
Beberapa penderita juga mengalami demam, nyeri perut bawah, pembengkakan kelenjar getah bening, hingga ruam pada kulit.
Risiko dan dampak jangka panjang infeksi menular seksual
Infeksi menular seksual yang tidak ditangani dapat memicu komplikasi serius.
Mayo Clinic mencatat infeksi menular seksual berisiko menyebabkan infertilitas, penyakit radang panggul, gangguan kehamilan, hingga kanker tertentu yang berkaitan dengan HPV.
Zucker menekankan bahwa penundaan pengobatan juga meningkatkan risiko penularan ke pasangan lain.
“Semakin lama dibiarkan, dampaknya tidak hanya ke diri sendiri, tetapi juga ke orang lain,” katanya.
Pencegahan dan pemeriksaan rutin
Dokter sepakat bahwa pencegahan infeksi menular seksual tidak cukup hanya mengandalkan satu cara.
Penggunaan kondom secara konsisten, vaksinasi HPV, serta pemeriksaan rutin menjadi langkah utama untuk menurunkan risiko penularan.
Zucker menyarankan pemeriksaan infeksi menular seksual setiap tiga hingga enam bulan bagi mereka yang aktif secara seksual dengan pasangan baru.
“Tes dan pengobatan IMS relatif mudah, jadi jangan menunggu sampai muncul gejala,” ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang