Jangan Salah Kaprah! Dokter Ungkap Liposuction Bukan Jalan Pintas Menurunkan Berat Badan, Kenapa?
Di tengah maraknya tren perawatan tubuh, liposuction sering disalahpahami sebagai cara cepat untuk menjadi kurus. Banyak orang datang dengan harapan bahwa sekali tindakan, semua masalah berat badan selesai.
Padahal menurut Dr. Ida Bagoes Insani dari RS Pondok Indah (RSPI), anggapan itu keliru sejak awal. Scroll untuk info lebih lanjut, yuk!
“Liposuction bukan untuk menurunkan berat badan, bukan untuk menggantikan healthy lifestyle, dan bukan untuk menggantikan olahraga,” ujarnya di Menteng, Jakarta Pusat, baru-baru ini.

Selama mindset ini belum benar, tindakan apa pun berisiko membuat pasien kecewa atau mengalami rebound. Pengalaman Dr. Bagoes menunjukkan bahwa kurangnya edukasi sering menjadi akar masalah.
Ia berkali-kali menjumpai pasien yang baru pulang operasi dari luar negeri tetapi justru kembali dengan tubuh lebih besar daripada sebelumnya. Mereka mengira lemak sudah hilang selamanya, lalu kembali ke pola hidup lama yang tidak teratur.
“Saya sering lihat pasien yang operasi di luar negeri: hari ini lipo, pulang ke Indonesia, makan sembarangan, lifestyle nggak dijaga, akhirnya malah tambah gemuk dari sebelum dilipo,” ujarnya.
Karena itu, di RSPI, pendekatan yang diberikan bukan semata-mata tindakan operasi, melainkan pemahaman holistik. “Goal kami bukan supaya pasien pasti operasi di kami. Yang penting, pasien punya pemahaman yang benar dulu sehingga dia bisa memutuskan yang baik untuk dirinya.”
Sebelum tindakan dilakukan, setiap pasien harus melalui proses screening ketat demi keamanan. Pemeriksaan fisik, laboratorium, rekam jantung, rontgen, hingga konsultasi spesialis dilakukan untuk memastikan tubuh benar-benar siap.
Tidak semua orang dapat menjalani liposuction. Pasien dengan diabetes atau hipertensi yang tidak terkontrol, penyakit jantung berat, pengguna pengencer darah, ibu hamil, maupun ibu menyusui harus menunda atau bahkan tidak dapat menjalani prosedur ini.
Bagi Dr. Bagoes, keselamatan jauh lebih penting daripada sekadar memenuhi permintaan estetika. Hasil liposuction pun tidak sama pada setiap usia.
Pada pasien usia 20-an, kulit biasanya lebih elastis sehingga lebih mudah kembali menempel setelah lemak diambil. Sementara pada usia 50-an, kulit cenderung mengendur. Teknologi laser-assisted liposuction membantu mengencangkan kulit agar tidak bergelambir, tetapi pemulihan kulit tetap bergantung pada usia dan kualitas jaringan masing-masing.
Namun inti terpenting dari liposuction justru berada di luar ruang operasi. Setelah lemak dibantu dihilangkan, semua kembali ke gaya hidup yang dijalani pasien.
“Prosedur ini membantu ‘mem-bypass’ hal yang paling sulit—menghilangkan lemak. Tapi setelah itu untuk mempertahankannya: olahraga harus teratur, makan tinggi protein, rendah lemak, aktivitas fisik harian harus cukup.”
Untuk membantu pasien memahami prosesnya secara lebih konkret, RSPI menggunakan Dexa Scan, baik sebelum maupun setelah tindakan. Data visual tentang persentase lemak tubuh memberi dorongan psikologis kuat.
Dr. Bagoes sering melihat bagaimana kebiasaan pasien berubah setelah melihat sendiri progresnya. “‘Misalnya, 'kemarin lemak saya 34 persen. Setelah enam bulan menjalani hidup sehat, sekarang 26 persen.’ Apakah setelah melihat data itu pasien mau makan sembarangan lagi? Enggak. Karena dia melihat tren positif.”
Pemantauan berbasis data ini terbukti membuat pasien lebih disiplin dalam menjaga gaya hidupnya. “Pasien saya sejauh ini tidak ada yang rebound lebih gemuk dari sebelum lipo. Umumnya stabil.”
Pada akhirnya, liposuction bukan tentang mengecilkan angka timbangan, melainkan memulai proses baru dalam merawat tubuh. Tindakan ini hanya bekerja secara maksimal bila pasien memahami perannya, menjaga kesehatannya, dan membangun kebiasaan yang konsisten.