Pakai AI untuk Balas Chat Gebetan? Ahli Ungkap Dampaknya pada Hubungan
Semakin banyak orang menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu urusan kencan online, mulai dari membuat profil hingga menyusun pesan pertama.
Tren ini makin populer, tetapi para ahli mengingatkan bahwa penggunaan AI yang berlebihan bisa menghilangkan keaslian diri.
Laporan Today (14/2/2026) menegaskan, AI boleh dipakai, asalkan tidak menggantikan kejujuran dalam membangun hubungan.
Tren AI dalam dunia kencan
Penggunaan AI seperti ChatGPT dalam aplikasi kencan kini bukan hal baru. Pelatih kencan asal New York, Erika Ettin, mengatakan sekitar setengah kliennya mengaku pernah menggunakan AI untuk merangkai pesan.
Namun ia tidak menyarankan ketergantungan tersebut.
“AI jelas menghambat sisi autentik diri Anda. Itu bukan Anda, dan Anda tidak bisa membawa AI ke dalam kencan,” ujar Ettin.
Menurutnya, banyak orang terlihat sangat komunikatif lewat pesan, tetapi berbeda saat bertemu langsung. Perbedaan ini sering menimbulkan kekecewaan.
Risiko pesan yang terasa tidak autentik
Ilustrasi chat dengan seseorang di dating apps. Semakin banyak orang memakai AI untuk merangkai pesan kencan, tetapi para ahli mengingatkan ada batas yang tidak boleh dilanggar agar hubungan tetap autentik.
Terapis seks dan pasangan, Shawntres Parks, Ph.D., menilai AI bisa membantu dalam kondisi tertentu, misalnya bagi individu yang kesulitan memahami isyarat sosial. Namun ia menekankan pentingnya keterbukaan.
“Masalah muncul ketika pesan terasa tidak autentik atau terkesan menipu karena orang tersebut tidak benar-benar hadir sebagai dirinya sendiri,” kata Parks.
Ia menambahkan, banyak kliennya merasa tertarik pada pesan yang terdengar rapi dan manis, tetapi kecewa ketika komunikasi langsung tidak sesuai dengan kesan awal.
6 aturan jika ingin menggunakan AI untuk kencan
Para ahli membagikan enam panduan agar penggunaan AI tetap sehat dan tidak merugikan hubungan:
-
Tulis draf sendiri terlebih dahulu
Ettin menyarankan untuk berpikir dan menulis sendiri sebelum meminta AI memberi masukan.
“Berpikir sendiri dulu. Jangan biarkan AI menulis semuanya dari awal,” ujarnya.
-
Hindari pesan genit atau seksual
Menurut Parks, AI belum mampu menyampaikan nuansa romantis dengan baik.
“Komputer itu tidak seksi,” katanya.
-
Gunakan untuk latihan percakapan
Ilmuwan perilaku Leslie John menyarankan AI dipakai untuk role-play sebelum kencan.
“Tidak ada kalimat yang sempurna,” ujarnya.
-
Jangan jadikan AI sebagai filter utama
AI sebaiknya membantu memahami pola komunikasi, bukan menyaring semua pesan secara otomatis.
-
Lebih baik pakai AI daripada menghilang
Leslie John menilai, jika harus memilih, menggunakan AI untuk menyusun pesan penolakan lebih baik daripada melakukan ghosting.
-
Jadikan AI sebagai pelatih, bukan penopang
Parks menyarankan untuk bertanya pada diri sendiri apakah AI membantu mengekspresikan diri atau justru menutupi diri.
“Apakah ini membantu saya menjadi lebih autentik atau malah menghindari kejujuran?” katanya.
Autentisitas tetap kunci hubungan
Para ahli sepakat bahwa teknologi tidak bisa menggantikan kehadiran nyata. AI dapat membantu menyusun kata, tetapi tidak bisa membangun koneksi emosional.
Membangun citra diri yang terlalu sempurna mungkin terasa aman. Namun dalam jangka panjang, hubungan yang sehat tetap membutuhkan kejujuran, konsistensi, dan keberanian untuk tampil apa adanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang