Top 6+ Penyebab Daya Ingat Turun dan Sering Lupa, Bukan Hanya karena Usia
Sifat pelupa merupakan hal yang wajar terjadi dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari sekadar lupa meletakkan gawai, hingga kesulitan mengingat nama seseorang yang sebenarnya sudah familier.
Namun, jika kondisi ini terjadi terus-menerus, kamu mungkin mulai bertanya-tanya apa pemicu utama di balik penurunan daya ingat tersebut.
Faktor pertambahan usia sering kali dianggap sebagai dalang utamanya. Seiring bertambahnya usia, volume otak manusia memang akan mulai menyusut secara alamiah.
"Inilah sebabnya mengapa butuh waktu semenit lebih lama untuk memikirkan sebuah nama atau kata, atau mungkin butuh waktu lebih lama untuk memecahkan suatu masalah," kata Neuropsikolog di Columbia University Irving Medical Center, Elise Caccappolo, Ph.D, mengutip Prevention, Kamis (4/6/2026).
Memori jangka pendek mungkin tidak akan setajam dulu akibat penuaan. Namun, pertambahan usia bukanlah satu-satunya alasan otak kehilangan fokusnya.
Penyebab menurunnya daya ingat
1. Pengaruh obat-obatan
Ternyata, mengonsumsi beragam obat-obatan bisa berdampak pada daya ingat. Apabila kamu menggabungkannya, obat tersebut dapat saling berinteraksi dan memicu efek samping yang tidak terduga.
"Beri tahu penyedia layanan segalanya yang kamu konsumsi, meskipun itu obat bebas atau suplemen yang kamu anggap tidak berbahaya," ucap asisten profesor psikologi di University of Nevada, Las Vegas, Brenna Renn, Ph.D.
Beberapa jenis obat yang berpotensi memengaruhi fungsi memori meliputi benzodiazepin, statin, obat antikejang, beta blocker, antidepresan, opioid, hingga pil tidur.
Dokter dapat membantu mengevaluasi ulang atau mencari alternatif lain jika pengobatan saat ini sangat mengganggu ingatanmu.
2. Depresi dan kecemasan
Gangguan mental menjadi salah satu penyumbang terbesar terhadap kepikunan pada individu berusia paruh baya.
"Depresi memakan banyak ruang di otak. Saat kamu depresi, otak tidak bekerja 100 persen. Ia tidak memperhatikan hal-hal sebaik biasanya, dan area memori tidak melakukan apa yang biasanya mereka lakukan," jelas Caccappolo.
Selain depresi, ilmuwan di Rush Institute for Healthy Aging, Thomas Holland, M.D menuturkan, kecemasan berlebih juga turut merusak kemampuan menyimpan dan memanggil kembali memori.
"Jika kamu terus-menerus berada di bawah tekanan, tubuhmu selalu dalam keadaan siap, membuang hormon ke dalam darahmu yang dapat membuatmu gelisah. Jika itu terjadi di otak, kita berpotensi akan melihat penurunan fungsi kognitif," kata dia.
Ilustrasi pelupa.
3. Pola makan
Asupan nutrisi sehari-hari memegang kendali besar terhadap kesehatan saraf otak. Dokter Holland mengatakan, mengonsumsi makanan dengan nutrisi yang tepat membantu mencegah kerusakan pada neuron.
Ia dan timnya menemukan dalam sebuah studi bahwa diet kaya flavonoid, seperti sayuran hijau tua, teh, dan tomat, berkaitan dengan perlambatan penurunan kognitif.
Sebaliknya, riset lain menunjukkan bahwa makanan ultraproses yang sarat pemanis dan pewarna buatan berisiko memperburuk fungsi ingatan, bahkan berpotensi memicu demensia.
4. Kualitas tidur
Tidur merupakan fondasi utama bagi kesehatan otak manusia. Berdasarkan data National Institutes of Health, kelelahan yang dibiarkan menumpuk akan menguras sumber daya kognitif, sehingga memicu hilangnya fokus dan kesulitan mempelajari hal baru.
Kondisi henti napas saat tidur yang tidak tertangani, khususnya pada laki-laki, juga memicu gangguan serius.
Sebuah ulasan dalam Sleep Medicine menyebutkan bahwa pengidap kondisi ini kerap mengalami penurunan daya ingat secara signifikan.
"Mereka mengalami kejadian hipoksia berkali-kali setiap malam saat mereka tidak mendapatkan oksigen ke otak, yang dapat menyebabkan masalah ingatan," terang Caccappolo.
5. Gangguan pendengaran
Penurunan kemampuan mendengar memaksa otak bekerja lebih ekstra demi memproses percakapan sehari-hari. Penggunaan alat bantu dengar secara rutin direkomendasikan untuk meringankan beban otak tersebut.
"Memiliki alat bantu dengar yang berfungsi dengan baik dapat sangat membantu meningkatkan dan mempertahankan kognisi seseorang," kata Renn.
Sebuah riset mengonfirmasi pernyataan ini, dengan menghubungkan penggunaan alat bantu dengar terhadap penurunan risiko kepikunan jangka panjang hingga 19 persen.
6. Melakukan banyak pekerjaan sekaligus
Kebiasaan melakukan banyak pekerjaan secara bersamaan alias multitasking, terutama saat menggunakan beberapa perangkat elektronik sekaligus, bisa memperburuk tingkat konsentrasi.
Menurut riset di jurnal Nature, kebiasaan ini membuat penderitanya di usia muda kesulitan mengingat informasi.
Bagi kalangan lanjut usia, dampak yang dirasakan dipastikan akan jauh lebih fatal dan merusak produktivitas harian.
"Karena kecepatan pemrosesan kita melambat, kita secara keseluruhan lebih lambat dalam berpikir dan bergerak. Jika kamu mencoba melakukan dua atau tiga hal pada saat yang sama, kamu akan menjadi sedikit lebih lambat pada masing-masing hal tersebut," terang Caccappolo.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang