Tanda-Tanda Gangguan Keintiman pada Perempuan yang Sering Diabaikan, Nomor 2 Paling Banyak Dialami!
Hai ladies, pernahkah kamu merasa tidak nyaman saat berhubungan dengan suami belakangan ini? Atau bahkan kamu merasa sudah tidak berminat berhubungan lagi sama sekali dengan suami? Kalau salah satu hal ini terdengar seperti yang kamu alami, kamu mungkin mengalami kondisi yang disebut female sexual dysfunction (FSD) atau disfungsi seksual pada perempuan yang ternyata dialami oleh sekitar 40 persen wanita.
“FSD adalah masalah yang menetap terkait respon seksual, keinginan, gairah, atau rasa sakit saat berhubungan yang menyebabkan stres atau memengaruhi hubungan. Berbeda dengan disfungsi seksual pada pria yang biasanya punya penyebab fisik yang jelas, FSD lebih sering dipengaruhi faktor psikologis, hubungan, dan hormon sehingga lebih kompleks untuk ditangani,” kata ahli gizi senior di My Body Fabulous, Hannah Trueman dikutip dari laman The Sun, Jumat 21 November 2025
Dr Bhavini Shah dari LloydsPharmacy Online Doctor menambahkan bahwa FSD bisa terjadi karena banyak alasan, baik fisik seperti efek samping menopause atau obat maupun psikologis, seperti gangguan mental, masalah hubungan, atau stres baru dalam hidup.
Apakah kamu mengalami FSD? Untuk mencari taunya kamu bisa perhatikan beberapa tiga penanda FSD pada wanita.
1. Gairah berbuhubungan intim menurun drastis
Menurut penelitian dari LloydsPharmacy Online Doctor, 47 persen wanita mengaku tidak menikmati hubungan intim sebanyak yang mereka kira seharusnya.
“Seorang wanita bisa merasa jauh dari pikiran-pikiran seksual atau kehilangan minat pada keintiman. Ini bisa menimbulkan rasa frustrasi, bersalah, atau ketegangan dalam hubungan,” jelas Hannah.
Ada banyak alasan yang bisa membuat libido menurun diantaranya:
- stres, cemas, atau depresi
- kurang makan atau olahraga berlebihan
- efek samping obat seperti antidepresan atau KB hormonal
- masalah hubungan atau kurangnya kedekatan emosional
Dr Anojan Arulananthan dari Holland & Barrett juga menambahkan bahwa perubahan besar dalam hidup seperti kehamilan, menyusui, perimenopause, dan menopause dapat menyebabkan perubahan hormon yang berdampak pada gairah.
Cara mengatasinya:
Tidur cukup, pola makan seimbang, dan manajemen stres bisa sangat membantu meningkatkan libido.
Makanan aphrodisiac seperti cokelat hitam, kacang, atau semangka memang sering disebut-sebut, tapi tidak cukup sendirian. Terapi juga bisa membantu mengatasi hambatan psikologis atau masalah hubungan. Kamu bisa mencari terapis melalui situs UK Council for Psychotherapy.
Jika kamu curiga ada masalah hormon, Hannah menyarankan menjalani tes fungsi hormonal. Sementara itu, pemeriksaan darah rutin yang tersedia lewat layanan kesehatan juga bisa memberi gambaran dasar.
“Hormon stres seperti kortisol bisa diukur untuk menilai tingkat stres dan keseimbangan hormon, yang berpengaruh pada gairah seksual,” katanya.
Kondisi seperti PCOS atau endometriosis juga bisa menyebabkan ketidakseimbangan hormon, tetapi biasanya dapat dikelola dengan baik. Konsultasikan dengan dokter untuk penanganan yang sesuai.
2. Sulit mencapai kepuasan dalam berhubungan intim
Penelitian menunjukkan rata-rata wanita hanya mencapai orgasme 31–40 persen dari total hubungan intim yang mereka lakukan. Survei lain dari LloydsPharmacy Online Doctor menemukan 85 persen wanita pernah kesulitan mencapai orgasme.
“Tidak apa-apa kok kalau kamu tidak selalu mencapai orgasme setiap kali berhubungan,” kata Hannah.
Tapi jika tiba-tiba orgasme jadi sulit dicapai, itu bisa jadi tanda FSD.
Cara mengatasinya:
Beberapa obat seperti antidepresan dan KB hormonal bisa menurunkan respons seksual. Kekurangan nutrisi seperti vitamin D, magnesium, vitamin B, dan zat besi juga bisa berpengaruh.
Konsultasikan ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Pemerintah Inggris bahkan merekomendasikan semua orang untuk mengonsumsi vitamin D dari Oktober hingga Maret.
Kamu juga bisa meminta pasangan lebih fokus pada stimulasi klitoris.
“Jumlah wanita yang mencapai orgasme meningkat hingga 51–60 persen jika mendapatkan stimulasi klitoris, dan turun menjadi 21–30 persen tanpa stimulasi,” kata Dr Shah
Kurang tidur juga bisa menurunkan kemungkinan orgasme, jadi pastikan tidurmu cukup dan berkualitas.
3. Hubungan intim terasa menyakitkan
Kalau hubungan intim terasa tidak nyaman, wajar kalau kamu jadi malas melakukannya.
“Dyspareunia adalah istilah medis untuk nyeri saat atau setelah berhubungan,” jelas Dr Shah.
Ada banyak penyebab nyeri ini mulai dari infeksi, penyakit radang panggul (PID), vaginismus (ketegangan otot panggul), endometriosis, kista ovarium, penyakit Crohn atau IBS hingga vagina kering atau kurang pelumasan
Cara mengatasinya:
Menurut Dr Shah, penting untuk berkonsultasi dengan tenaga medis agar penyebabnya bisa ditemukan. Dokter bisa memberikan pengobatan, terapi psikologis, atau saran teknik seksual yang lebih nyaman.
Beberapa keluhan dapat membaik dengan langkah sederhana seperti mencoba posisi berbeda, meningkatkan foreplay hingga memakai pelumas.
Hannah juga menyarankan meningkatkan asupan omega-3 dari ikan berlemak dua sampai tiga kali seminggu, atau dari biji rami, chia, dan walnut untuk menjaga kesehatan jaringan vagina dan mengurangi inflamasi.
Makanan kaya probiotik seperti yoghurt dan sayuran fermentasi bisa membantu mencegah infeksi seperti keputihan atau ISK. Makanan kaya magnesium—misalnya sayuran hijau dan kacang-kacangan bisa membantu melemaskan otot panggul dan memperlancar aliran darah.
Minum dua liter air sehari dan konsumsi makanan kaya fitoestrogen seperti kedelai dan biji rami juga bisa membantu mengurangi kekeringan vagina dan menjaga elastisitas jaringan, terutama saat menopause atau menyusui.
Jika kamu mengalami perdarahan, keputihan atau gejala tidak biasa lainnya, nyeri yang menetap lebih dari seminggu, atau rasa sakit yang mengganggu kehidupan sehari-hari maupun hubungan, segera periksakan diri ke dokter.
Meski jarang, nyeri saat berhubungan juga bisa menjadi tanda kanker ginekologis seperti kanker serviks, rahim, vagina, vulva, atau ovarium jadi penting untuk memeriksakannya lebih awal.