Meluruskan Paradigma Calistung dan Stimulasi Holistik pada Anak Usia Dini
Tren bimbingan belajar membaca, menulis, dan berhitung (calistung) bagi anak usia dini kian marak. Banyak orangtua meyakini bahwa agar anak diterima di sekolah dasar (SD), mereka harus lebih dulu menguasai calistung.
Padahal, sejak 2017, pemerintah melarang tes calistung sebagai syarat masuk SD melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 17 Tahun 2017.
Larangan itu bahkan kembali ditegaskan lewat Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 3 Tahun 2025.
Namun praktik di lapangan menunjukkan hal berbeda. Akibatnya, orangtua menilai bahwa anak harus menguasai calistung agar bisa masuk SD.
Kondisi tersebut mendorong banyak orangtua lebih memilih memasukkan anak mereka ke bimbingan belajar calistung daripada layanan pendidikan anak usia dini (PAUD) yang menekankan pendekatan bermain dalam belajar.
“Paradigma ini yang perlu diluruskan. Anak usia dini tidak seharusnya ditekan untuk menguasai calistung lewat metode drilling,” ujar anggota ECED Council sekaligus anggota Badan Akreditasi Nasional (BAN) PAUD dan Dikdasmen 2023–2028 Gutama.
Adapun drilling merupakan pendekatan latihan atau praktik berulang-ulang sehingga anak mampu calistung melalui hafalan, bukan belajar mengenal huruf dan angka melalui bermain ataupun mengembangkan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak.
"Masa PAUD adalah masa peletakan fondasi, bukan percepatan akademik," kata Gutama.
Tekanan yang salah kaprah
Dari luar anak memang tampak bisa membaca dan menulis lebih cepat, tetapi anak belum tentu paham betul konsepnya.
"Lebih berbahaya lagi, mereka bisa mengalami stres, kebosanan, bahkan hilang minat belajar jangka panjang, dan menghambat tumbuh kembang anak secara menyeluruh,” jelas Gutama.
Beberapa penelitian mendukung peringatan ini. Miller dan Almon (2009) serta Setiawan (2019) menemukan anak yang dipaksa mengikuti tes calistung cenderung cemas, takut salah, dan kehilangan rasa percaya diri.
Sementara itu, studi Lillard dkk (2013) menunjukkan, bermain imajinatif justru lebih bermanfaat bagi perkembangan anak dibanding pembelajaran akademik dini.
Fakta inilah yang mendorong pemerintah kembali menegaskan larangan tes calistung sebagai syarat masuk SD melalui Permendikdasmen Nomor 3 Tahun 2025, Pasal 11 ayat (5).
Stimulasi holistik lebih penting
Masa 0–6 tahun disebut sebagai usia emas karena otak anak berkembang paling pesat, membentuk jutaan sambungan saraf baru setiap detik.
Setiap pengalaman kecil akan berpengaruh pada kecerdasan, karakter, hingga keterampilan hidup anak pada masa depan.
“Stimulasi holistik yang mencakup fisik, bahasa, kognitif, sosial-emosional, hingga moral-spiritual jauh lebih menentukan kesiapan anak menghadapi SD daripada sekadar bisa membaca dan berhitung,” kata Gutama.
Anak yang mendapat stimulasi seimbang biasanya lebih percaya diri, berani mencoba, dan mampu berinteraksi sehat.
Sebaliknya, anak yang hanya fokus pada calistung kehilangan kesempatan mengasah motorik, empati, maupun keterampilan sosial.
“Kemampuan calistung tetap penting, tetapi sebaiknya diperoleh melalui aktivitas sehari-hari yang menyenangkan,” jelas Gutama.
Saat anak menggambar, meronce, atau bermain puzzle, Gutama menjelaskan, sebenarnya anak sedang melatih motorik halus dan logika berpikir yang merupakan fondasi penting sebelum bisa menulis dan berhitung.
“Anak belajar lebih bermakna ketika mereka menyanyi, mendengarkan dongeng, atau menghitung benda di sekitar, bukan lewat lembar kerja yang menekan,” kata Gutama.
Dengan cara ini, calistung hadir sebagai bagian dari pengalaman belajar yang menyenangkan. Anak tidak hanya menguasai keterampilan akademik, tetapi juga tumbuh mandiri, kritis, penuh rasa ingin tahu, dan memiliki dasar nilai moral-spiritual.
Kelebihan lain dari kegiatan stimulasi holistik adalah memperkuat ikatan emosional anak dengan orangtua maupun pendidik.
“Ikatan ini yang kemudian menjadi dasar rasa aman dan semangat anak untuk bereksplorasi sebagai bagian dari proses belajar yang tidak terbatas,” jelasnya.
Tiga keuntungan stimulasi holistik
Selain mendukung kesiapan akademik, stimulasi menyeluruh juga memberi manfaat jangka panjang:
1. Memperkaya pengalaman belajar
Anak belajar tidak hanya dari guru atau orangtua, tetapi juga dari alam, komunitas, dan budaya.
Aktivitas, seperti bermain di luar, mengenal tradisi, atau berinteraksi dengan sebaya memperkaya pengalaman belajar. Lingkungan beragam menumbuhkan kreativitas, keberanian, dan rasa memiliki.
2. Stimulasi dan deteksi dini tumbuh kembang
Aktivitas sehari-hari membantu orangtua atau pendidik mengenali keterlambatan perkembangan.
Deteksi dini memungkinkan intervensi cepat agar anak tetap sesuai tahap usianya. Stimulasi berfungsi ganda, yaitu mengembangkan potensi sekaligus melindungi dari risiko masalah perkembangan.
3. Fondasi kesehatan mental sejak dini
Pengalaman positif, interaksi hangat, dan dukungan emosional membentuk anak yang resilien. Beban akademik tanpa keseimbangan emosional bisa memicu kecemasan dan rendah diri. Stimulasi yang seimbang membuat anak siap belajar sekaligus siap menghadapi tantangan hidup.
Bukan seberapa cepat, tetapi seberapa siap
Gutama mengatakan, orangtua memiliki tugas memastikan faktor-faktor stimulasi tersebut terpenuhi.
“Tugas kita sebagai orangtua, pendidik, dan pembuat kebijakan adalah memastikan lingkungan penuh stimulasi, bukan tekanan,” kata Gutama.
Sebab, kesiapan anak masuk sekolah dasar tidak ditentukan oleh kecepatan membaca atau berhitung, melainkan oleh fondasi kokoh, yakni tubuh sehat, pikiran aktif, hati peka, dan karakter tangguh.
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.