Sarihusada Pecahkan 2 Rekor MURI Lewat Skrining Stunting, Dorong Orangtua Pantau Berat Badan Anak
Upaya pencegahan stunting di Indonesia terus didorong melalui berbagai gerakan edukasi dan skrining kesehatan anak secara masif.
Langkah yang dilakukan oleh PT Sarihusada Generasi Mahardhika ini membuahkan dua rekor MURI pada tahun 2025, melalui tingginya partisipasi peserta skrining daring maupun luring.
"Kami terus berkomitmen untuk mendukung tumbuh kembang optimal anak-anak Indonesia, khususnya dalam upaya mengatasi masalah gangguan pertumbuhan seperti kondisi berat badan kurang. Oleh karena itu, Sarihusada memiliki gerakan bernama ‘Generasi Maju Bebas Stunting (GMBS)’ yang pada 2025 lalu telah memecahkan dua Rekor MURI."
Hal ini diungkap CEO PT Sarihusada Generasi Mahardika, Joris Bernard, dalam acara Health Corner bertajuk "Pejuang Berat Badan Anak: Nutrisi Tepat, Tumbuh Hebat" di Jakarta Pusat, Jumat (6/3/2026).
Rekor MURI pertama adalah "Skrining Stunting secara Daring kepada Peserta Terbanyak", yang mana acara tersebut diikuti oleh 1,1 juta peserta. Sementara itu, rekor MURI kedua adalah "Penyuluhan dan Skrining Stunting secara Luring kepada Peserta Terbanyak", yang diikuti oleh 10.195 peserta.
"Pada tahun 2026 ini, komitmen tersebut terus kami lanjutkan dan diperkuat melalui kampanye 'Pejuang Berat Badan Anak', yang diharapkan dapat semakin memperluas upaya edukasi kepada masyarakat, mendorong deteksi dini, serta mendukung keluarga dalam mengoptimalkan tumbuh kembang anak yang hebat di masa depan," ucap Bernard.
CEO PT Sarihusada Generasi Mahardika, Joris Bernard.
Kampanye "Pejuang Berat Badan Anak"
Bertepatan dengan momentum Hari Gizi Nasional 2026, kampanye "Pejuang Berat Badan Anak" ini dirancang untuk mendampingi para orangtua dalam memantau asupan nutrisi buah hatinya.
Kampanye ini mengajak ayah dan ibu untuk lebih memahami pentingnya nutrisi seimbang, deteksi dini, dan pemantauan rutin agar anak mencapai berat badan ideal, serta terhindar dari gangguan pertumbuhan.
Bernard menambahkan, kampanye ini juga merupakan kelanjutan dari gerakan Generasi Maju Bebas Stunting (GMBS) dan kampanye "3 Langkah Maju" tahun lalu.
Healthcare Nutrition Marketing & Strategy Director Sarihusada, Angelia Susanto, mengatakan, bahwa kampanye "Pejuang Berat Badan Anak" ingin mengajak para orangtua melakukan deteksi dini lewat situs web bit.ly/pejuangbbanak-alodokter.
Di sana, orangtua bisa mengetahui apakah status gizi anak normal atau perlu diwaspadai. Caranya cukup dengan memasukkan data anak seperti nama, tanggal lahir, berat badan, dan tinggi badan. Nantinya, situs web yang bekerja sama dengan Alo Dokter ini akan memberi tahu status gizi anak.
"Kami berharap, kampanye ini bisa ikut berkontribusi mendukung pemerintah dalam upaya mengatasi permasalahan kesehatan anak Indonesia sedini mungkin, dan memberikan intervensi gizi yang tepat dalam mencegah dampak jangka panjang yang lebih serius ke depannya," ucap Angelia.
Pentingnya memantau status gizi anak
Program TJSL Pelindo Cabang Ambon berikan makanan tambahan bergizi selama 6 bulan untuk Balita di wilayah stunting tertinggi di Kota Ambon
Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi balita dengan berat badan kurang (underweight), terpantau meningkat dan menyentuh angka 16,8 persen. Ini meningkat dari 15,9 persen pada tahun 2023.
Kondisi ini menurut dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med Sc, Sp.A, menuntut perhatian serius karena asupan kalori dan protein yang tidak memadai berisiko mengganggu perkembangan fisik maupun kognitif anak di masa depan.
"Status gizi anak adalah salah satu tolak ukur penilaian tercukupinya kebutuhan asupan gizi harian serta penggunaan zat gizi tersebut oleh tubuh. Dan berat badan dan tinggi badan merupakan dua parameter penting dalam penilaian status gizi anak," jelas dokter spesialis anak yang berpraktik di Tzu Chi Hospital PIK ini.
Ia menuturkan bahwa pemenuhan asupan nutrisi yang optimal sangat menentukan keberhasilan tumbuh kembang anak. Sebaliknya, kekurangan gizi pada masa kecil berisiko memicu masalah kesehatan yang berdampak panjang hingga anak beranjak dewasa.
"Jika asupan nutrisi anak senantiasa terpenuhi dan digunakan seoptimal mungkin, tentu tumbuh kembangnya akan optimal. Namun jika sebaliknya, status gizi si kecil bisa saja bermasalah sehingga berisiko memengaruhi tumbuh kembangnya hingga dewasa kelak," terang dr. Ian.
"Oleh karena itu, gejala berat badan kurang atau berat badan anak sulit naik pada anak perlu diwaspadai karena hal ini dapat menandakan gangguan pertumbuhan," lanjut dia.
Cegah gagal tumbuh lewat deteksi dini
dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med Sc, Sp.A (ujung kanan) dalam acara Health Corner bertajuk Pejuang Berat Badan Anak: Nutrisi Tepat, Tumbuh Hebat di Jakarta Pusat, Jumat (6/3/2026).
Mengatasi kendala kekurangan berat badan wajib diimbangi dengan rutinitas pemberian menu seimbang yang mencakup karbohidrat, protein hewani, sayuran, dan lemak sehat, alias gizi seimbang.
Menurut dr. Ian, protein hewani seperti telur, ikan, ayam, atau daging serta susu, sangat penting untuk mendukung pertumbuhan.
Selain disiplin menjaga porsi makan harian, pemantauan angka timbangan secara berkala di fasilitas kesehatan terdekat sangat krusial untuk mencegah risiko gagal tumbuh.
Untuk itu, orangtua dianjurkan menimbang berat badan anak minimal sebulan sekali pada anak berusia di bawah setahun, dan minimal tiga bulan sekali sampai anak berusia dua tahun. Pada anak berusia lima tahun, berat badan minimal sebulan sekali diperiksa oleh petugas kesehatan.
"Deteksi dini memungkinkan intervensi lebih cepat, sehingga risiko masalah kesehatan gizi anak dan dampak jangka panjang terhadap tumbuh kembang anak dapat dicegah," ungkap dr. Ian.
"Jika diperlukan, pada kondisi berat badan rendah dan berat badan seret atau sulit naik, biasanya dokter juga bisa merekomendasikan pemberian konsumsi susu tinggi kalori (sutingkal) untuk mengejar kenaikan berat badan," lanjut dia.
Kendati demikian, pemberian susu tinggi kalori harus berdasarkan rekomendasi, dan berada di bawah pemantauan dokter spesialis anak. Orangtua tidak boleh sembarangan memberikan susu tinggi kalori.
Ilustrasi susu, susu sapi.
Pentingnya dukungan bagi para orangtua
Proses menaikkan berat badan buah hati memang kerap menjadi tantangan yang memicu kekhawatiran tersendiri bagi para ibu di rumah.
Ketersediaan akses informasi yang tepat dan fasilitas pengecekan yang mudah dijangkau sangat dibutuhkan, agar orang tua tidak merasa berjuang sendirian.
Kekhawatiran akan berat badan si kecil turut dirasakan oleh seorang aktris sekaligus ibu dua anak, Cut Meyriska. Sama seperti orangtua lainnya, berat badan anak seret menjadi kekhawatiran utamanya.
"Dari pengalaman saya saat anak mengalami berat badan seret, yang terpenting adalah tetap tenang, pantau pertumbuhan anak secara rutin, penuhi kebutuhan gizinya dengan optimal, dan jangan ragu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan," ucap Cut Meyriska.
Ia turut mengapresiasi kampanye "Pejuang Berat Badan Anak" karena membuat para orangtua yang sedang memperjuangkan berat badan sang buah hati, tidak merasa sendirian.
"Melalu kampanye ini, para orangtua di Indonesia yang sedang mengalami tantangan yang sama bisa mendapatkan kemudahan akses edukasi, dan cek pertumbuhan si kecil," kata Cut Meyriska.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang