Mau Ramadhan Paling Berkesan Seumur Hidup? Terapkan 3 Pesan dari Ustaz Abdul Somad
Ramadhan seringkali datang dan pergi begitu saja, menyisakan lelah tanpa perubahan karakter yang nyata. Banyak umat Muslim yang terjebak dalam euforia persiapan fisik, mulai dari stok makanan hingga baju baru, namun abai pada persiapan ruhani yang fundamental. Dalam tausiyah terbarunya bertajuk "Jadikan Ini Ramadhan Terbaikmu", Ustaz Abdul Somad (UAS) memberikan 'tamparan' keras bagi mereka yang hanya menjadikan ibadah sebagai rutinitas robotik.
"Banyak orang yang berpuasa, tapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan haus saja," ujar UAS yang dikutip dari YoTube Ustadz Abdul Somad.Official.
UAS pun menyitir hadits Nabi untuk menggambarkan betapa ruginya mereka yang kehilangan 'ruh' ibadah. Agar Ramadan kali ini tidak berakhir sia-sia, UAS membedah tiga strategi untuk meng-upgrade kualitas penghambaan kita:
1. Shalat Tarawih: Bukan Lomba Lari, Tapi Istirahatnya Jiwa
Fenomena shalat Tarawih kilat masih menjadi pemandangan umum di tanah air. UAS mengkritik tajam mentalitas "ingin cepat selesai" yang merusak esensi shalat. Beliau membongkar makna filosofis di balik kata Tarawih yang berakar dari kata Rahah, yang berarti santai, tenang, atau istirahat.
"Jangan jadikan Tarawih sebagai beban yang ingin cepat-cepat dilepaskan dari pundak. Tarawih itu waktu istirahat bagi jiwa yang sudah lelah dengan urusan dunia selama belas jam," tegas UAS dengan gaya bicaranya yang lugas.
Beliau menambahkan, jika shalat dilakukan terburu-buru, maka ketenangan yang dicari tidak akan pernah sampai ke hati. Shalat yang berkualitas adalah saat dahi menyentuh sajadah dengan penuh kesadaran bahwa kita sedang menghamba pada Sang Pencipta, bukan sedang balapan dengan imam.
2. Sedekah: Upaya Membunuh Sifat Kikir, Bukan Sekadar 'Buang Saldo'
Bagi UAS, sedekah di bulan suci bukan sekadar ritual memasukkan lembaran sisa di kantong ke kotak amal. Beliau menekankan bahwa kualitas sedekah bukan diukur dari nominal, melainkan dari sejauh mana pemberian itu mampu menyakiti ego dan sifat kikir dalam diri. Sedekah adalah terapi mental untuk menghancurkan keterikatan pada dunia.
"Sedekah itu bukan kasih uang sisa yang kalau hilang pun kita tak merasa rugi. Tapi bagaimana kau memberikan yang terbaik justru di saat kau sendiri sedang merasa butuh," jelas beliau.
Di bulan Ramadhan, sedekah berfungsi sebagai 'pencuci' harta dan pembersih jiwa. UAS mengingatkan bahwa tangan yang memberi dengan penuh kerelaan akan merasakan kenikmatan spiritual yang jauh lebih besar daripada mereka yang hanya memberi karena merasa wajib secara formalitas saja.
3. Interaksi Al-Qur'an: Hentikan 'Setoran' Khatam, Mulailah Bertanya pada Hati
Mengejar target khatam 30 juz adalah tradisi yang baik, namun UAS memberikan catatan penting: jangan sampai interaksi kita dengan Al-Qur'an hanya berhenti di tenggorokan. UAS menyoroti ironi orang yang khatam berkali-kali namun perilakunya tetap tajam menyakiti sesama atau tidak jujur dalam bekerja.
"Apa gunanya lidah fasih membaca ayat-ayat suci kalau hati masih buta akan maknanya? Al-Qur'an itu petunjuk hidup, bukan mantra yang hanya untuk dibaca cepat," pesan UAS.
Beliau mendorong jamaah untuk setidaknya merenungi satu atau dua ayat setiap malam, membawanya ke dalam renungan, dan bertanya pada diri sendiri: sudahkah ayat ini aku amalkan? Inilah yang disebut interaksi transformatif, ketika Al-Qur'an benar-benar mengubah cara pandang dan perilaku seseorang, bukan sekadar membasahi lidah.
Sebagai penutup yang paling emosional, UAS mengajak setiap Muslim untuk menanamkan mentalitas Wada' atau perpisahan. Beliau meminta kita membayangkan bahwa setelah Idul Fitri nanti, mungkin saja nama kita sudah terukir di batu nisan dan kain kafan sudah disiapkan.
"Kalau kau benar-benar sadar bahwa ini mungkin Ramadhan terakhirmu, mustahil kau shalat main-main. Mustahil kau pelit dalam bersedekah. Hiduplah dengan kesadaran bahwa maut tidak menunggu kita siap untuk bertaubat," tutup UAS.