Tendangan Kungfu di Liga 4 Jatim: Kecaman Perseta, Cedera Pemain, dan Hukuman Seumur Hidup

Insiden kekerasan dalam pertandingan Liga 4 PSSI Jawa Timur kembali memantik perhatian publik.
Aksi berbahaya yang terjadi pada laga Perseta 1970 Tulungagung melawan PS Putra Jaya Pasuruan di Stadion Gelora Bangkalan, Madura, Senin (5/1/2026), berujung sanksi berat dari Komite Disiplin (Komdis) PSSI Jawa Timur.
Seorang pemain PS Putra Jaya Pasuruan, Muh. Hilmi Gimnastiar, dijatuhi hukuman larangan beraktivitas di dunia sepak bola seumur hidup setelah dinilai melakukan tindakan kekerasan yang membahayakan keselamatan lawan.
Putusan sanksi
Korban dalam insiden tersebut adalah pemain Perseta 1970 Tulungagung, Firman Nugraha Ardhiansyah, yang sempat tidak sadarkan diri dan harus menjalani perawatan intensif.
Putusan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Komdis PSSI Jawa Timur Nomor 001/KOMDIS/PSSI-JTM/I/2026 tertanggal 6 Januari 2026.
Sidang dipimpin Ketua Komdis H. Samiadji Makin Rahmat, bersama dua anggota komite lainnya.
Tindakan Hilmi masuk pelanggaran berat
Hilmi menendang dada Firman saat pertandingan berlangsung di SGB Bangkalan kemarin.
Ketua Komdis PSSI Jawa Timur menegaskan bahwa tindakan yang dilakukan Hilmi masuk kategori pelanggaran berat.“Perbuatan tersebut tidak hanya mencederai nilai sportivitas, tetapi juga membahayakan keselamatan pemain lain. Oleh karena itu, Komite Disiplin memandang perlu menjatuhkan sanksi tegas,” kata Ketua Komdis PSSI Jatim Samiaji Makin Rahmat, dikutip , Selasa (6/1/2026).
Selain sanksi larangan seumur hidup, Hilmi juga dikenai denda sebesar Rp 2,5 juta yang harus dibayarkan melalui rekening Badan Liga Nusantara Provinsi Jawa Timur.
Komdis menyebutkan, pelanggaran tersebut sebagai violent conduct yang melanggar Pasal 48 juncto Pasal 49, serta Pasal 10 dan Pasal 19 Kode Disiplin PSSI 2025.
Awal mula insiden tendangan ke dada
Insiden itu sendiri terjadi pada menit ke-71 pertandingan babak 32 besar Grup CC Liga 4 Jawa Timur.
Saat itu, PS Putra Jaya Pasuruan tertinggal 0-4 dari Perseta 1970 Tulungagung.
Dalam situasi tersebut, Hilmi melakukan tendangan keras ke arah dada Firman Nugraha saat kedua pemain berebut bola.
Wasit langsung mengeluarkan kartu merah tanpa ragu.
Firman terkapar di lapangan dan harus mendapatkan penanganan medis sebelum akhirnya ditandu keluar.
Manajer Perseta 1970 Tulungagung, Rudi Iswahyudi, mengaku sangat prihatin dengan insiden tersebut dan menilai tekel yang dilakukan sudah melampaui batas permainan sepak bola.
“Itu benar-benar fatal, itu catatan buruk sekali dan saya akan protes keras itu,” ujar Rudi, dikutip , Selasa.
Ia juga menilai ketegasan wasit sejak awal pertandingan seharusnya bisa mencegah terjadinya insiden serius tersebut.
“Kalau wasit dari awal dia itu bisa mengendalikan permainan, mau bersikap tegas, kan, enggak kejadian sampai seperti ini,” kata Rudi.
Kondisi Firman Nugraha
Manajer tim Perseta 1970 Tulungagung Jawa Timur memberikan keterangan terkait kejadian yang menimpa pemainnya saat bertanding di Stadion Gelora Bangkalan Jawa Timur, Selasa (06/01/2026)---#
Firman Nugraha saat ini dilaporkan telah sadar, namun masih menjalani pengawasan medis di RSUD Bangkalan.
Berdasarkan hasil pemantauan tim, Firman diduga mengalami cedera serius di bagian dada dan berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang.
Manajemen Perseta pun tidak menutup kemungkinan membawa kasus ini ke jalur hukum.
Rudi menyebutkan, langkah tersebut masih dalam kajian dan telah dibicarakan bersama tim pelatih serta Asosiasi Sepak Bola Kabupaten (ASKAB).
“Ya, saya sangat menyesalkan sekali ya kejadian tersebut, itu sudah di luar dari konteks permainan,” ujar Rudi.
Ia juga menegaskan keyakinannya terhadap unsur kesengajaan dalam insiden tersebut.
“Saya melihat sendiri dari mata kepala saya, itu adalah unsur kesengajaan ya. Di video pun kita bisa menilai bahwa itu ada unsur kesengajaan,” lanjutnya.
Menurut manajemen Perseta, proses hukum penting sebagai bentuk pembelajaran agar kekerasan di lapangan tidak lagi dianggap sebagai bagian dari permainan.
“Karena selama ini kekerasan di lapangan itu semua orang memahami itu adalah konteks permainan. Saya berharap dengan kita membawa persoalan ini ke ranah hukum, semua akan belajar,” kata Rudi.
Komdis PSSI Jawa Timur menyatakan bahwa mekanisme banding tetap terbuka sesuai regulasi. Namun, keputusan ini diharapkan menjadi peringatan keras bagi seluruh insan sepak bola agar menjunjung tinggi prinsip fair play dan keselamatan pemain.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang