Hidden Gems Asia: 8 Situs UNESCO yang Layak Dikunjungi Sekali Seumur Hidup
Ketika membicarakan Situs Warisan Dunia UNESCO di Asia, banyak orang langsung teringat Angkor Wat di Kamboja atau Taj Mahal di India.
Namun, dilansir dari The Star, Asia menyimpan banyak situs warisan lain yang tak kalah menarik, meski belum populer.
Mulai dari permukiman kuno, kuil suci, hingga hutan liar dan situs bawah tanah, masing-masing menyimpan kisah sejarah yang kuat.
Berikut delapan situs UNESCO di Asia yang layak dikunjungi:
1. Rani Ki Vav, India
Ilustrasi Rani Ki Vav di India
Rani Ki Vav terletak di Patan, negara bagian Gujarat, dan dikenal sebagai salah satu sumur bertingkat paling megah di India.
Dibangun pada abad ke-11 oleh Ratu Udayamati untuk mengenang suaminya, struktur bangunan ini terdiri dari tujuh tingkat yang dipenuhi pahatan batu.
Setiap tingkat menampilkan relief dewa-dewa Hindu, figur mitologis, hingga adegan kehidupan sehari-hari.
Selain berfungsi sebagai karya seni arsitektur, sumur ini juga menjadi sistem penyimpanan air, terutama saat musim kemarau.
Menariknya, konsep bangunan ini disebut sebagai “kuil terbalik” karena perjalanan spiritual pengunjung diarahkan turun ke bawah menuju sumber air.
Situs ini sempat terkubur lumpur selama berabad-abad sebelum ditemukan kembali pada 1940-an dan diakui oleh UNESCO pada 2014.
2. Gua Mogao, China
Ilustrasi Gua Mugao, China
Terletak di Provinsi Gansu, Gua Mogao merupakan kompleks gua bersejarah yang dipahat sejak abad ke-4.
Lebih dari 700 gua yang pernah ada, sekitar 492 masih bertahan hingga kini.
gua ini menyimpan mural, patung Buddha, dan artefak yang mencerminkan peradaban di sepanjang Jalur Sutra.
Salah satu yang terkenal adalah Gua 302 dengan lukisan kafilah unta, serta Gua 61 yang menampilkan peta visual Gunung Wutai.
Di dalam kompleks juga terdapat Gua 17 atau “Gua Perpustakaan” yang menyimpan naskah kuno penting, meski kini aksesnya dibatasi untuk wisatawan. Situs ini diakui UNESCO sejak tahun 1987.
3. Sambor Prei Kuk, Kamboja
Sambor Prei Kuk merupakan situs arkeologi yang terletak pada sekitar 200 kilometer dari Phnom Penh.
Situs ini berasal dari abad ke-7 dan pernah menjadi ibu kota Kekaisaran Chenla.
Sambor Prei Kuk dikelilingi oleh hutan lebat, kompleks ini juga memiliki lebih dari 100 candi yang tersebar.
Nama Sambor Prei Kuk sendiri berarti “kuil di tengah hutan lebat”, yang menggambarkan suasana alaminya.
Situs ini masuk daftar UNESCO pada 2017.
4. Kompleks Hutan Kaeng Krachan, Thailand
Berbeda dari situs arkeologi, Kaeng Krachan adalah kawasan hutan tropis luas yang mencakup lebih dari 405.000 hektar yang terletak di perbatasan Thailand dan Myanmar.
Kompleks ini meliputi tiga taman nasional dan menjadi habitat penting bagi berbagai satwa liar seperti gajah Asia, macan tutul, dan burung rangkong.
Selain itu, kawasan ini juga memiliki keanekaragaman flora.
Wisatawan dapat menjelajahi hutan melalui jalur trekking, mengamati burung, atau berkemah. Situs ini diakui UNESCO pada 2021 sebagai salah satu ekosistem penting di Asia Tenggara.
5. Fujian Tulou, China
Fujian Tulou adalah kompleks bangunan tanah liat yang terletak di pegunungan Provinsi Fujian.
Struktur ini dibangun oleh komunitas Hakka antara abad ke-15 hingga ke-20.
Bangunan berbentuk melingkar atau persegi ini dirancang untuk menampung satu klan besar, bahkan hingga ratusan orang.
Dindingnya tebal tanpa jendela di bagian bawah, dengan sistem keamanan yang dirancang untuk melindungi dari serangan.
Selain fungsi pertahanan, Tulou juga mencerminkan kehidupan komunal yang sangat erat.
Beberapa bangunan kini masih dihuni dan bahkan dijadikan homestay bagi wisatawan.
Situs ini diakui UNESCO pada 2008.
6. Hiraizumi, Jepang
Hiraizumi, Jepang
Hiraizumi adalah kota bersejarah di Prefektur Iwate yang berkembang pada abad ke-11 dan ke-12 sebagai pusat budaya dan politik di Jepang utara.
Yang membuatnya unik adalah konsep “Tanah Suci” dalam ajaran Buddha yang diwujudkan melalui tata ruang kota.
Kuil seperti Chuson-ji dengan aula emasnya, serta taman Motsu-ji, mencerminkan harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas.
Keindahan lanskapnya semakin terlihat saat musim gugur dengan warna daun maple atau saat musim semi ketika bunga sakura bermekaran.
Hiraizumi diakui UNESCO pada 2011.
7. Benteng Namhansanseong, Korea Selatan
Benteng Namhansanseong terletak sekitar 25 kilometer dari Seoul dan memiliki sejarah panjang sejak abad ke-7.
Benteng ini diperkuat pada abad ke-17 sebagai pertahanan Dinasti Joseon saat invasi Qing.
Struktur benteng menunjukkan perpaduan arsitektur Korea, China, dan Jepang.
Saat ini, kawasan ini menjadi destinasi wisata dengan jalur pendakian di sepanjang tembok benteng.
Di dalamnya terdapat kuil, bangunan administratif, dan titik pandang yang menawarkan panorama pegunungan.
Situs ini masuk daftar UNESCO pada 2014.
8. Sarazm, Tajikistan
Sarazm, Tajikistan
Sarazm merupakan situs arkeologi kuno di Tajikistan yang berusia lebih dari 5.000 tahun. Situs ini diyakini sebagai salah satu permukiman pertanian tertua di Asia Tengah.
Penggalian menemukan sisa rumah, bengkel, serta artefak seperti tembikar dan perhiasan yang menunjukkan kehidupan masyarakat prasejarah.
Sarazm juga memiliki kaitan dengan jalur perdagangan awal yang kemudian berkembang menjadi Jalur Sutra.
Meski tampak sederhana berupa gundukan tanah dan fondasi bangunan, nilai sejarahnya sangat tinggi. Situs ini diakui UNESCO pada 2010.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang