Menang Lotre Belasan Miliar, Wanita Ini Justru Pilih Dibayar Rp16 Juta per Minggu Seumur Hidup

Ilustrasi wanita menang lotre Rp16 miliar
Ilustrasi wanita menang lotre Rp16 miliar

 Memenangkan lotre sering kali identik dengan perubahan hidup yang instan. Uang tunai dalam jumlah besar dianggap sebagai jalan pintas menuju kebebasan finansial, rumah impian, hingga kehidupan tanpa beban ekonomi. 

Namun, tidak semua pemenang lotre memilih mengambil uang besar sekaligus. Seorang perempuan muda justru mengambil keputusan yang tidak biasa dan memicu perdebatan publik.

Perempuan berusia 20 tahun bernama Brenda Aubin-Vega menolak hadiah lotre dalam bentuk uang tunai sekaligus senilai US$1 juta atau setara Rp16,6 miliar. Sebagai gantinya, ia memilih opsi pembayaran US$1.000 atau setara Rp16,6 juta per minggu yang akan diterimanya seumur hidup.

Brenda memenangkan hadiah utama dari permainan kartu gosok Gagnant à Vie (Winner for Life) yang diselenggarakan oleh Loto Quebec. Dalam permainan ini, pemenang memang diberikan dua pilihan: menerima hadiah sekaligus atau menerima pembayaran rutin mingguan sepanjang hidup.

Menurut keterangan resmi Loto Quebec, Brenda sudah beberapa kali mencoba peruntungannya melalui permainan tersebut, meski sebelumnya belum pernah meraih hadiah utama. Keberuntungan datang saat ia membeli dua tiket di sebuah toko serba ada di Montréal ketika sedang beristirahat dari pekerjaannya.

Setelah kembali ke tempat kerja, Brenda menggosok tiket yang dibelinya dan menemukan tiga simbol celengan dalam satu permainan, yang mana itu adalah tanda kemenangan tertinggi.

“Brenda kemudian memeriksa hadiah yang terkait dengan simbol celengan tersebut dan menyadari bahwa ia memenangkan US$1.000 per minggu seumur hidup. Karena merasa sangat terkejut, ia meminta izin untuk mengambil sisa hari libur agar bisa mencerna kabar tersebut,” ungkap pihak Loto Quebec, sebagaimana dikutip dari MSN, Senin, 15 Desember 2025.

Brenda juga mengungkapkan bahwa ia sempat meragukan kemenangan tersebut. “Saya benar-benar tidak percaya dengan apa yang saya lihat. Saya memeriksa tiket itu berulang kali untuk memastikan bahwa saya benar-benar menang,” ujarnya.

Keputusan Brenda untuk menolak uang sekitar Rp16,6 miliar secara langsung membuat banyak orang terkejut. Tak sedikit yang mempertanyakan apakah pilihan tersebut masuk akal secara finansial, mengingat nilai pembayaran mingguan baru akan menyamai angka US$1 juta setelah puluhan tahun.

Namun bagi Brenda, pilihan itu didasarkan pada rencana jangka panjang. Ia memilih pembayaran mingguan karena ingin memiliki pemasukan yang stabil dan berkelanjutan. Brenda menyampaikan bahwa ia berencana membeli rumah di masa depan dan percaya bahwa kesabaran akan membantunya mencapai tujuan tersebut.

Pendekatan ini dinilai cukup bijak oleh para ahli keuangan. Vuvu Oreng’, seorang pakar keuangan yang berbasis di Nairobi, menjelaskan bahwa bagi individu muda, memilih skema anuitas atau pembayaran rutin sering kali memberikan hasil yang lebih positif.

Menurutnya, pembayaran mingguan dapat meminimalkan risiko pengeluaran berlebihan, memberikan stabilitas finansial, serta membuka peluang untuk perencanaan dan investasi jangka panjang.

“US$1.000 per minggu memang akan terkumpul lebih lambat dibandingkan US$1 juta yang diterima sekaligus, karena dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mencapai jumlah tersebut, belum memperhitungkan inflasi maupun potensi investasi. Namun apa pun pilihannya, Brenda tetap memiliki jaminan keamanan finansial,” jelas Vuvu.

Meski demikian, ia menambahkan bahwa jika Brenda memiliki orientasi bisnis yang kuat, mengambil dana besar sekaligus juga bisa dipertimbangkan untuk diinvestasikan atau dikembangkan.

Namun dengan usia yang masih sangat muda, Vuvu menilai keputusan Brenda sebagai pilihan yang matang. Dengan waktu hidup yang panjang di depan, pemasukan rutin sebesar Rp16,6 juta per minggu dinilai memberikan ruang yang lebih aman untuk merencanakan masa depan secara bertahap.

Kisah Brenda Aubin-Vega menjadi pengingat bahwa dalam mengelola keuangan, keputusan terbaik tidak selalu tentang nominal terbesar, melainkan tentang keberlanjutan, disiplin, dan rasa aman jangka panjang.