Niat, Hukum, hingga Penjelasan Mandi Wajib dan Keramas Sebelum Puasa Ramadhan
Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, umat Islam di Indonesia mulai mempersiapkan diri dengan berbagai tradisi.
Salah satu yang paling umum dilakukan adalah mandi besar atau mandi wajib sebelum memasuki hari pertama puasa sebagai simbol penyucian diri.
Tradisi ini dipandang sebagai bentuk kesiapan lahir dan batin dalam menyambut bulan penuh berkah.
Meskipun demikian, secara fikih tidak terdapat kewajiban khusus untuk mandi dalam rangka menyambut Ramadhan.
Namun, menjaga kebersihan diri dan memastikan diri dalam keadaan suci dari hadas besar merupakan bagian penting dalam ajaran Islam.
Lantas, bagaimana sebenarnya bacaan niat dan tata cara mandi wajib yang benar sesuai tuntunan syariat?
Apa Dasar Hukum Mandi Wajib dalam Islam?
Kewajiban mandi besar dalam Islam merujuk pada firman Allah SWT dalam Al-Qur'an Surat Al-Maidah ayat 6:
وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَٱطَّهَّرُوا۟
Wa in kuntum junuban faththahharū
Artinya: “Dan jika kamu junub maka mandilah.” (QS. Al-Maidah: 6).
Ayat tersebut menjadi dasar bahwa seseorang yang berada dalam kondisi junub atau memiliki hadas besar wajib melakukan mandi untuk kembali suci sebelum melaksanakan ibadah, termasuk salat dan puasa.
Mengutip penjelasan dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), mandi sebelum Ramadhan bukanlah kewajiban mutlak, melainkan bentuk kesiapan fisik dan batin untuk menjalankan ibadah besar.
Selama seseorang telah suci dari hadas besar, puasanya tetap dianggap sah tanpa harus mandi khusus untuk menyambut Ramadhan.
Apa Saja Bacaan Niat Mandi Wajib?
Niat merupakan rukun pertama yang harus dihadirkan dalam hati saat air pertama kali menyentuh tubuh. Berikut rincian bacaan niat mandi wajib sesuai penyebabnya:
1. Niat mandi wajib secara umum (junub atau janabah)
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَكْبَرِ مِنَ الْجَنَابَةِ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى
Nawaitul ghusla liraf’il hadatsil akbari minal janâbati fardhan lillâhi ta’âlâ.
Artinya: "Saya niat mandi wajib untuk menghilangkan hadas besar dari janabah, fardu karena Allah Ta’âlâ."
2. Niat mandi wajib setelah haid
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ حَدَثِ الْحَيْضِ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى
Nawaitul ghusla liraf’i hadatsil haidhi fardhan lillâhi ta’âlâ.
Artinya: "Saya niat mandi wajib untuk mensucikan hadas besar dari haid, fardu karena Allah Ta’âlâ."
3. Niat mandi wajib setelah nifas
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ حَدَثِ النِّفَاسِ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى
Nawaitul ghusla liraf’il hadatsin nifâsi fardhan lillâhi ta’âlâ.
Artinya: "Saya niat mandi wajib untuk mensucikan hadas besar dari nifas, fardu karena Allah Ta’âlâ."
4. Niat mandi wajib setelah melahirkan (wiladah)
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ حَدَثِ الْوِلاَدَةِ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى
Nawaitul ghusla liraf’i hadatsil wilâdah fardhan lillâhi ta’âlâ.
Artinya: "Saya niat mandi wajib untuk mensucikan hadas besar dari melahirkan, fardu karena Allah Ta’âlâ."
Bagaimana Rukun dan Tata Cara Mandi Wajib yang Benar?
Dalam pelaksanaannya, terdapat dua rukun utama agar mandi wajib dinilai sah menurut syariat:
- Berniat dalam hati saat pertama kali air menyentuh tubuh.
- Menyiramkan air ke seluruh tubuh secara merata tanpa terkecuali, termasuk bagian lipatan dan area tersembunyi.
Tuntunan mengenai tata cara mandi janabah juga dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Jabir bin Muth’im. Rasulullah SAW bersabda:
أَمَّا أَنَا فَأُخْذُ مِلْءَ كَفِّيَّ ثَلَاثًا فَأَصُبُّ عَلَى رَأْسِي ثُمَّ أُفِيضُهُ بَعْدُ عَلَى سَائِرِ جَسَدِي
Artinya: "Saya mengambil (air dengan) dua telapak tangan tiga kali, lalu saya siramkan pada kepala saya, kemudian saya tuangkan setelahnya pada seluruh tubuh saya."
Berdasarkan hadis tersebut, tata cara mandi wajib dapat dilakukan dengan langkah berikut:
- Membaca niat dalam hati.
- Membasuh kedua tangan.
- Membersihkan bagian tubuh yang terkena najis.
- Berwudu seperti hendak salat.
- Menyiram kepala sebanyak tiga kali hingga air merata sampai ke kulit kepala.
- Mengalirkan air ke seluruh tubuh, dimulai dari sisi kanan lalu kiri, hingga tidak ada bagian yang terlewat.
Walaupun tidak diwajibkan secara khusus untuk menyambut Ramadhan, mandi besar tetap menjadi langkah yang baik bagi Muslim yang sedang berada dalam kondisi hadas besar.
Selain sebagai bentuk ketaatan terhadap syariat, mandi juga mencerminkan kesiapan diri menyambut bulan ibadah.
Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum penyucian jiwa. Dengan memastikan diri dalam keadaan suci, seorang Muslim dapat menjalankan salat tarawih, membaca Al-Qur’an, dan ibadah lainnya dengan lebih tenang dan khusyuk.
Melakukan mandi besar menjelang Ramadhan 1447 Hijriah pada akhirnya merupakan bagian dari ikhtiar menyempurnakan ibadah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang