Ngeri! Amazon Pakai AI untuk Rekrut Massal, Wawancara Kerja Tatap Muka Mulai Ditinggalkan
Amazon kembali memperluas penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam operasional bisnisnya. Kali ini, raksasa teknologi asal Amerika Serikat itu meluncurkan perangkat lunak baru yang dirancang untuk mempercepat proses rekrutmen massal tanpa banyak campur tangan manusia, termasuk mengurangi kebutuhan wawancara kerja tatap muka.
Langkah ini diumumkan Amazon dalam sebuah acara Amazon Web Services (AWS) di San Francisco pada Selasa, 28 April 2026. Perusahaan memperkenalkan software bernama Connect Talent yang ditujukan untuk membantu perusahaan mencari, menyaring, dan merekrut pekerja dalam jumlah besar, terutama saat musim belanja akhir tahun.
Amazon diketahui merekrut ratusan ribu pekerja setiap tahun untuk menghadapi lonjakan aktivitas selama musim liburan. Pada tahun lalu saja, perusahaan merekrut sekitar 250.000 pekerja musiman menjelang akhir tahun.
Melalui Connect Talent, proses wawancara dapat dilakukan sepenuhnya oleh AI selama 24 jam tanpa campur tangan manusia. Sistem ini juga mampu menyiapkan catatan hasil wawancara untuk perekrut secara otomatis.
Dengan kata lain, kandidat kerja tidak lagi harus selalu bertemu langsung dengan perekrut pada tahap awal seleksi.
Senior Vice President of Applied AI Solutions AWS, Colleen Aubrey, mengatakan para pelamar akan diberi tahu bahwa proses penyaringan dilakukan menggunakan AI. Ia juga mengakui teknologi tersebut masih terus disempurnakan agar terdengar lebih alami saat berinteraksi dengan manusia.
“Pengalamannya terus menjadi lebih baik di setiap pengembangan yang kami lakukan,” kata Aubrey sebagaimana dikutip dari Reuters, Rabu, 29 April 2026.
Selain Connect Talent, Amazon juga memperkenalkan filosofi baru dalam pengembangan AI yang mereka sebut sebagai “humorphism”. Konsep ini bertujuan membuat AI lebih manusiawi dan menyesuaikan diri dengan cara kerja manusia, bukan sebaliknya.
Amazon menyebut pendekatan ini sebagai upaya agar AI tidak terasa seperti pengganti manusia, melainkan alat bantu yang bekerja mengikuti pola kerja manusia sehari-hari.
“Bagaimana kami menerjemahkan perilaku manusia dalam bekerja bersama ke dalam sebuah produk?” ujar Aubrey. “Itulah yang sedang kami kejar dan semoga Anda bisa melihatnya,” tambahnya.
Fokus utamanya memang pada pengembangan AI otonom atau yang dikenal sebagai “agents”, yakni sistem AI yang mampu merencanakan, mengambil keputusan, dan menjalankan tugas sendiri dengan sedikit atau bahkan tanpa intervensi manusia.
Teknologi ini berkembang sangat cepat dan menjadi fokus baru banyak perusahaan teknologi besar seperti OpenAI, Alphabet Google, hingga Anthropic.
Amazon sendiri pada Februari lalu menyatakan akan berinvestasi hingga US$50 miliar atau setara Rp850 triliun (asumsi kurs Rp17.000 per dolar AS) di OpenAI. Sementara Microsoft juga dikabarkan akan kehilangan akses eksklusif terhadap sebagian teknologi OpenAI, membuka jalan bagi pembuat ChatGPT itu untuk menjual produknya ke perusahaan lain.
Meski AI dipromosikan sebagai alat bantu, kekhawatiran soal hilangnya lapangan kerja tetap menjadi perhatian besar. Amazon sendiri mengaitkan sebagian dari sekitar 30.000 pemutusan hubungan kerja (PHK) di divisi korporat sejak Oktober dengan efisiensi yang diperoleh dari penggunaan AI.
Artinya, semakin besar adopsi AI, semakin besar pula tekanan terhadap pekerjaan yang sebelumnya dilakukan manusia.
Selain untuk rekrutmen, Amazon juga meluncurkan produk baru bernama Connect Decisions yang dirancang untuk membantu perencanaan rantai pasok dan pembelian barang. Software tersebut dapat menganalisis serta menyusun data yang dibutuhkan perusahaan dalam pengambilan keputusan logistik dan pengadaan.
Menurut Aubrey, pengalaman Amazon dalam mengelola rantai pasok besar seperti kebutuhan material untuk jaringan gudang mereka menjadi dasar pengembangan produk tersebut. Melalui Connect Decisions, AI dapat bekerja di belakang layar untuk menyiapkan data penting yang dibutuhkan perencana bisnis.
“Perusahaan akan dapat membuat AI melakukan pekerjaan itu di belakang layar dan membekali perencana dengan data yang mereka butuhkan,” jelas Aubrey.