Ahli Ungkap Obesitas Perlu Ditangani dengan Pendampingan
Kasus obesitas di Indonesia terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini tidak hanya terjadi pada orang dewasa, tetapi juga mulai banyak ditemukan pada remaja hingga anak-anak.
Ilustrasi diet
Obesitas sendiri merupakan penyakit kronis berupa penumpukan lemak berlebihan akibat asupan kalori yang lebih tinggi daripada yang dibakar, sering dipicu pola makan tidak sehat dan kurang aktivitas fisik.
Gejala Obesitas yang Perlu Diwaspadai
1. Berat Badan Naik Secara Berlebihan
Gejala paling umum tentu saja peningkatan berat badan yang signifikan dalam waktu tertentu. Lemak biasanya menumpuk di area perut, paha, pinggul, lengan, dan wajah.
2. Mudah Lelah Saat Beraktivitas
Penderita obesitas sering merasa cepat lelah meski hanya melakukan aktivitas ringan seperti berjalan, naik tangga, atau berdiri terlalu lama. Hal ini terjadi karena tubuh harus bekerja lebih keras menopang berat badan berlebih.
3. Sesak Napas
Lemak berlebih dapat menekan sistem pernapasan sehingga penderita mudah mengalami sesak napas, terutama saat bergerak atau tidur.
4. Nyeri Sendi dan Punggung
Berat badan yang berlebih memberi tekanan besar pada lutut, pinggul, dan tulang belakang. Akibatnya, nyeri sendi dan sakit punggung menjadi keluhan yang sering muncul.
5. Gangguan Tidur
Obesitas dapat memicu sleep apnea, yaitu gangguan tidur yang menyebabkan napas berhenti sesaat saat tidur. Gejalanya berupa mendengkur keras, tidur tidak nyenyak, dan mengantuk di siang hari.
Oleh karena itu, banyak para ahli kesehatan menilai obesitas tidak bisa ditangani hanya dengan pola diet singkat atau tren penurunan berat badan instan, melainkan membutuhkan pendampingan jangka panjang dan perubahan gaya hidup yang konsisten.
Bahkan obesitas diharuskan untuk reset pola makan (bukan hanya sekedar atur pola makan) yang memerlukan program weight management yang terstruktur. Pada beberapa pasien, operasi bariatrik dapat menjadi pilihan saat dirasa risiko mempertahankan obesitas lebih besar daripada risiko operasinya.
Dokter Spesialis Bedah Digestif, Handy Wing menjelaskan operasi bariatrik adalah bagian dari terapi penyakit metabolik, prosedur ini bekerja dengan mengubah anatomi saluran cerna sehingga membantu mengontrol rasa lapar, penyerapan kalori serta respon hormonal yang berkaitan dengan diabetes dan gangguan metabolik lainnya.
"Ada beberapa kriteria minimum BMI sesuai dengan latar belakang kesehatan pasien yang dapat terbantu melalui operasi bariatrik," kata Handy Wing.
Dalam kesempatan yang sama, Ahli Gizi, Veronica menyebut masa setelah operasi merupakan fase penting karena pasien harus beradaptasi dengan kebiasaan makan yang benar-benar baru.
Fokus pendampingan tidak hanya memastikan kebutuhan cairan dan protein terpenuhi, tetapi juga mencegah kekurangan vitamin dan mineral yang dapat muncul pascaoperasi.
"Oleh karena itu, pasien bariatrik memerlukan pendampingan berkelanjutan agar hasil operasi dapat optimal dan bertahan dalam jangka panjang," tambah Veronica.
Penanganan obesitas juga berkaitan erat dengan kesehatan mental. Sejumlah penelitian menunjukkan sebagian pasien bariatrik dapat mengalami gangguan psikologis seperti depresi akibat perubahan hormon dan proses adaptasi setelah operasi.
Ilustrasi Pendampingan Kesehatan untuk Obesitas
Psikolog klinis Tara de Thouars menjelaskan bahwa bagi sebagian orang, makan bukan sekadar kebutuhan biologis, tetapi juga cara menghadapi tekanan emosional.
Dengan pendekatan yang menyeluruh, penanganan obesitas diharapkan tidak hanya berfokus pada penurunan berat badan, tetapi juga membantu memperbaiki kualitas hidup dan kesehatan pasien dalam jangka panjang.