Blak-blakan! Dokter Tirta Ikut Sentil Sirkel Mohan Hazian yang Dinilai Membiarkan Dugaan Pelecehan
Sorotan terhadap dugaan pelecehan seksual yang menyeret nama Mohan Hazian belum mereda. Di tengah polemik yang terus bergulir, dokter Tirta kembali angkat suara dan mengarahkan kritik tajam bukan hanya pada terduga pelaku, tetapi juga pada lingkungan terdekatnya.
Dokter Tirta menilai respons orang-orang di sekitar Mohan justru memperparah situasi. Ia menyoroti sikap “netral” yang ditunjukkan sejumlah pihak dalam sirkel Mohan Hazian, yang menurutnya berpotensi menjadikan mereka sebagai pihak yang membiarkan atau bahkan mewajarkan tindakan bermasalah. Scroll untuk info lengkapnya, yuk!
"Intinya circle Mohan bawa-bawa kasus Gofar sebagai alesan mereka netral. Udah kujelasin, kena stay with victim dulu. Ya tetap ngeyel. Circle dia rata-rata ya owner brand lokal dan influencer skena fasyun,” kata dr Tirta melalui akun X @tirta_cipeng, dikutip Rabu 11 Februari 2026.
Menurut dr Tirta, sikap tersebut bukan sekadar soal perbedaan pandangan, melainkan sudah masuk ke ranah pembiaran terhadap isu sensitif yang menyangkut korban.
"Ini yang jadi masalah. Kesannya owner-owner brand lokal jadi enabler. Bajengan-bajengan,” tulis dr Tirta.
Pernyataan itu langsung memicu diskusi panas di media sosial. Banyak netizen sepakat dengan pandangan dr Tirta dan menilai sikap diam atau netral justru menunjukkan kurangnya empati terhadap korban.
"Bukan kesan, tapi emang enabler. Tutup mata dan cuci tangan, pura-pura enggak tahu. Pakai bawa kasus Gofar, lupa apa kalau Gofar juga rekam tanpa consent, pamer bodycount, dan nunjukin sex tapenya ke temen-temennya," tulis netizen.
"Yaa bukan 'kesannya' lagi itu mah, emang enabler! Mereka bisa toleransi rape culture asal duit tetap muter!" timpal yang lain.
"Setuju sama dr Tirta. Walaupun se-circle harusnya brand lokal bikin statement/sikap bahwa mereka stay with victim. Soal bener atau salah itu belakangan. Kalau sikapnya netral itu tanda enggak peka dengan apa yang dialami korban. Mau menjaga citra brand sih sah-sah aja, tapi jangan karena setia kawan (satu circle) terkesan jadi enabler," kata warganet.
Di tengah ramainya perbincangan, istilah enabler pun kembali mencuat dan menjadi perhatian publik. Secara umum, istilah ini digunakan untuk menggambarkan individu yang secara sadar maupun tidak sadar mendukung atau membiarkan perilaku bermasalah terus berlangsung.
Enabler sendiri kerap dikaitkan dengan pola hubungan yang memungkinkan perilaku merusak diri sendiri terus berlanjut. Meski sering dilekatkan pada konteks kecanduan, American Psychological Association menyebut istilah ini juga dapat merujuk pada hubungan dekat yang mendukung perilaku berbahaya atau bermasalah.
Dalam jangka panjang, sikap enabler justru dinilai merugikan karena membuat pelaku sulit menghadapi konsekuensi atas tindakannya dan menghambat proses pertanggungjawaban. Adapun ciri-ciri enabler antara lain mengabaikan perilaku bermasalah, membuat pembenaran, melindungi pihak terkait, hingga menyangkal adanya masalah.