NOC Indonesia Akan Kawal Investigasi Dugaan Pelecehan Seksual di FPTI
Safeguarding Officer, Tabitha Sumendap, sebagai bagian dari Komite Olimpiade Indonesia (KOI/NOC Indonesia) menyampaikan keprihatinan mendalam mengenai dugaan kekerasan fisik dan pelecehan seksual yang yang terjadi di lingkungan pemusatan latihan nasional (pelatnas) cabang olahraga panjat tebing.
NOC Indonesia memandang persoalan ini dengan serius dan menegaskan bahwa segala bentuk kekerasan, pelecehan, maupun intimidasi tidak dapat ditoleransi dalam kondisi apa pun.
Tindakan tersebut bertentangan langsung dengan nilai-nilai Olimpiade yang mencakup respect, excellence, dan friendship, serta prinsip dasar perlindungan atlet.
“Kami memandang isu ini sebagai persoalan yang sangat serius. Keselamatan, martabat, dan kesejahteraan atlet harus menjadi prioritas utama dalam setiap ekosistem olahraga,” ujar Safeguarding Officer NOC Indonesia, Tabitha Sumendap, dalam keterangan resmi NOC Indonesia, Sabtu (28/2/2026).
NOC Indonesia melalui Safeguarding Task Force akan terus mengawal proses investigasi yang saat ini sedang berlangsung sesuai mekanisme dan ketentuan yang berlaku.
Tabitha menekankan pentingnya proses yang objektif, serta berpihak pada perlindungan dan pemulihan korban.
“Safeguarding bukan sekadar program administratif, melainkan komitmen moral dan tanggung jawab institusional. Setiap atlet Indonesia berhak untuk berlatih, berkembang, dan berprestasi dalam lingkungan yang aman, inklusif, dan bebas dari ancaman dalam bentuk apa pun, termasuk harassment, insult and intimidation, sexual abuse, maupun psychological abuse,” ungkap Tabitha.
Implementasi Program Safeguarding
Sejak 2024, NOC Indonesia telah mengimplementasikan program Safeguarding sebagai langkah preventif dan sistematis untuk menciptakan lingkungan olahraga yang aman.
Surat resmi juga telah disampaikan kepada seluruh National Federation anggota NOC Indonesia guna memastikan edukasi, sosialisasi, serta penerapan kebijakan safeguarding berjalan secara konsisten dan terukur.
Tak hanya melalui Safeguarding, Komite Eksekutif Komite Olimpiade Indonesia (KOI/NOC Indonesia), Greysia Polii, menegaskan bahwa perlindungan atlet harus menjadi fondasi utama dalam sistem pembinaan olahraga nasional.
Baginya, setiap sudut dari lingkungan olahraga harus memberi rasa aman kepada seluruh pelakunya.
“Sebagai mantan atlet, saya memahami betul bahwa ruang latihan harus menjadi tempat yang aman dan mendukung, bukan ruang yang menghadirkan rasa takut," ujar Greysia.
Komite Eksekutif NOC Indonesia (KOI), Greysia Polii
"Tidak ada prestasi yang layak dibayar dengan hilangnya rasa aman dan martabat seorang atlet. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk memastikan hal ini tidak terjadi,” tegas Olimpian peraih medali emas bulu tangkis ganda putri.
Sementara itu, Komite Eksekutif NOC Indonesia lainnya, Josephine Tampubolon, turut menyampaikan empati mendalam kepada korban atas peristiwa yang terjadi.
NOC Indonesia berkomitmen menyeluruh untuk tidak hanya memastikan lingkungan olahraga aman bagi setiap pelakunya, terutama atlet, tetapi juga membantu membangun kesadaran yang lebih besar tentang Safe Sport Program dari IOC.
“Kami berkomitmen untuk terus memperkuat sistem perlindungan, membangun budaya saling menghormati, serta memastikan bahwa prestasi olahraga Indonesia selalu berjalan seiring dengan perlindungan hak dan martabat atlet sebagai manusia,” ucap Josephine.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang