Sehat Mental Tidak Berarti Bebas Gangguan Jiwa, Ini Penjelasan Psikiater IPB

Kesehatan Jiwa, sehat mental, gangguan jiwa, kesehatan jiwa, Institut Pertanian Bogor, tanda sehat mental, Sehat Mental Tidak Berarti Bebas Gangguan Jiwa, Ini Penjelasan Psikiater IPB

Psikiater sekaligus dosen Fakultas Kedokteran (FK) Institut Pertanian Bogor (IPB) dr Riati Sri Hartini, SpKJ, MSc mengatakan, sehat secara mental tidak berarti seseorang bebas dari gangguan jiwa.

Pernyataan tersebut disampaikan Riati sebagai respons atas maraknya kasus bullying di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir.

Di antaranya, peristiwa santri yang membakar asrama laki-laki di Aceh, meninggalnya korban perundungan di SMPN 19 Tangerang Selatan, serta dugaan bullying terhadap pelaku pengeboman SMAN 72 Jakarta.

Riati menegaskan bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai kondisi sejahtera secara fisik, mental, dan emosi.

Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa juga menyebutkan bahwa seseorang yang sehat secara mental dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial.

Individu dengan kesehatan mental yang baik juga mampu menyadari kemampuan dirinya dan bekerja secara produktif.

“Dalam konteks remaja, sehat mental berarti mampu mengenali dan mengelola emosi, menjalin hubungan positif, serta beradaptasi terhadap tekanan hidup,” ujar Riati dalam keterangan resmi IPB yang diterima Kompas.com, Selasa (18/11/2025).

Penyebab Remaja Alami Gangguan Mental

Riati menjelaskan bahwa kunci penanganan krisis kesehatan mental adalah memahami karakter dan fase perkembangan remaja.

Remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa ketika seseorang mengalami perubahan besar pada aspek fisik, mental, emosional, dan sosial.

“Masa ini dikenal sebagai periode pencarian jati diri. Remaja mulai memahami siapa dirinya dan perannya dalam masyarakat” jelas Riati.

Jika remaja mengalami gangguan mental, hal ini umumnya tercermin dari perilaku mereka, seperti menarik diri dari lingkungan sosial, pikiran negatif berkepanjangan, mudah marah, melanggar aturan, hingga keluhan fisik tanpa sebab jelas.

Beberapa remaja juga mungkin merokok atau mengonsumsi alkohol dan obat-obatan untuk meredakan stres.

Pemicu stres dapat berasal dari tekanan teman sebaya, pencarian identitas diri, pengaruh media sosial, norma gender, hubungan keluarga yang tidak harmonis, hingga kekerasan di lingkungan sekitar.

Riati menambahkan bahwa WHO telah mencatat beberapa jenis gangguan yang kerap dialami remaja, seperti gangguan emosional, perilaku, pola makan, psikosis, hingga perilaku menyakiti diri.

Ciri Remaja Sehat Mental

Riati menegaskan bahwa remaja yang sehat secara mental bukan berarti tidak memiliki masalah, melainkan mampu menghadapi tantangan hidup dengan bijak.

Ia memaparkan sejumlah ciri remaja dengan kesehatan mental baik, seperti mampu menyelesaikan konflik dengan cara sehat, menunjukkan empati, dan berpikir positif.

Ciri lainnya adalah merasa bahagia, menerima diri sendiri, dan mampu menjalankan perannya sebagai makhluk Tuhan.

“Kesehatan mental remaja adalah fondasi penting bagi terbentuknya generasi yang tangguh di masa depan,” ujarnya.

“Bila sejak dini mereka belajar mencintai diri sendiri dan berani meminta bantuan ketika membutuhkan, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang lebih sehat dan produktif,” pungkas Riati.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.