Siswa SD Negeri Kamal Yogyakarta Tewas Tenggelam Saat Kegiatan Pramuka, Ini 5 Faktanya

— Duka mendalam menyelimuti keluarga G (8), siswa kelas II SD Negeri Kamal, Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
G meninggal dunia setelah tenggelam di sungai saat mengikuti kegiatan Pramuka mencari daun obat pada Rabu (15/10/2025) siang.
Jenazah bocah kelas dua SD itu telah dimakamkan pada Rabu malam. Di rumah duka di Kamal RT 006/RW001, Wunung, Wonosari, keluarga dan warga sekitar masih terus berdatangan untuk menyampaikan belasungkawa.
Ayah korban, Supriyadi, tampak tegar meski sesekali terbata-bata saat menceritakan anak pertamanya.
“Masuk Pramuka jam 13.30 WIB, saya antar berangkat jam 13.00 WIB,” ujar Supriyadi, Kamis (16/10/2025).
Supriyadi mengaku tidak menyangka anaknya akan meninggal dunia dalam kegiatan sekolah yang seharusnya aman. Ia mengatakan, G tidak bisa berenang sehingga seharusnya berada dalam pengawasan ketat orang dewasa.
Saat dirinya pulang menjelang Maghrib, anaknya belum kembali ke rumah. Ia hanya menemukan sepatu dan tas G.
“Hanya sepatu dan tas, seragamnya tidak ada, masih dipakai,” katanya dengan suara bergetar.
Pencarian dilakukan hingga malam hari. Sekitar pukul 20.00 WIB, G akhirnya ditemukan di sungai dalam kondisi sudah tidak bernyawa.
ini 5 fakta kematian siswa SD di Yogyakarta:
1. Tenggelam Saat Kegiatan Pramuka di Sekitar Sungai
Kepala Dinas Pendidikan Gunungkidul, Nunuk Setyowati, membenarkan peristiwa tersebut. Menurutnya, kegiatan Pramuka itu bukan kegiatan susur sungai, melainkan pengenalan tanaman obat-obatan.
“Benar, tetapi bukan outbound, itu setelah mengikuti kegiatan pramuka mencari daun obat-obatan dalam perjalanan menuju sekitar sungai,” ujar Nunuk saat dihubungi, Kamis (16/10/2025).
Nunuk menjelaskan, kegiatan berlangsung sejak pukul 13.30 hingga 15.00 WIB. Peristiwa baru diketahui sore hari setelah korban tak kunjung pulang ke rumah.
Pencarian kemudian dilakukan di sekitar sekolah dan sungai hingga akhirnya G ditemukan sekitar pukul 20.00 WIB dalam kondisi meninggal dunia.
2. Diikuti 80 Siswa dan Dua Pembina
Kapolsek Wonosari Kompol Edy Purnomo mengungkapkan, kegiatan Pramuka diikuti sekitar 80 siswa dari kelas I hingga VI, dengan dua pembina yaitu Sugiyono dan Heri Setiyawan.
Kegiatan dimulai sekitar pukul 13.00 WIB dan bertujuan untuk mengenalkan alam, hewan, serta tumbuhan kepada para siswa.
“Untuk tujuan pengenalan alam, hewan dan tumbuhan, siswa berjalan kaki sekitar 2,5 kilometer dari sekolah menuju lokasi,” jelas Edy.
Sekitar pukul 14.15 WIB, para siswa mengamati lingkungan sekitar sungai. Beberapa anak berada di tepi sungai, sementara yang lain turun ke bagian dangkal untuk mengamati kepiting.
3. Korban Ditemukan Tak Bernyawa Sekitar Pukul 20.00 WIB
Setelah kegiatan selesai, para siswa kembali ke sekolah dan sebagian dijemput orangtua mereka di perjalanan.
Namun, saat pembina Heri Setiyawan hendak memeriksa kehadiran siswa, ia menemukan tas dan sepatu milik G tertinggal di sekolah.
Awalnya, tidak ada yang mencurigai apa pun. Heri bahkan meminta teman G untuk mengantarkan barang tersebut ke rumah korban. Namun, hingga menjelang Maghrib, G tak kunjung pulang.
Supriyadi kemudian ikut melakukan pencarian bersama warga.
“Pas pencarian saya datang jam 19.00 WIB, saya lari ke sungai, terus menyusuri sepanjang sungai, nggak ketemu,” kenangnya. G akhirnya ditemukan sekitar pukul 20.00 WIB.
4. Ada Luka di Kepala, tapi Polisi Pastikan Tak Ada Tanda Penganiayaan
Kapolsek Wonosari Kompol Edy Purnomo menyebut, dari hasil pemeriksaan medis, korban diperkirakan meninggal lebih dari dua jam sebelum ditemukan.
“Kondisi pemeriksaan sudah ada lebam mayat, mengeluarkan darah di bagian lubang telinga sebelah kiri, diduga ada benturan di kepala sebelah kiri,” ungkap Edy.
Meski begitu, polisi menegaskan tidak ada tanda-tanda penganiayaan dalam peristiwa ini. Jenazah korban langsung dibawa ke RSUD Wonosari untuk pemeriksaan lebih lanjut.
5. Dinas Pendidikan Akan Evaluasi dan Bina Pembina Pramuka
Kepala Dinas Pendidikan Gunungkidul, Nunuk Setyowati, mengatakan pihaknya akan melakukan pembinaan terhadap dua pembina kegiatan Pramuka di SD Negeri Kamal.
“Sudah kita bina semuanya, termasuk gurunya,” ujar Nunuk.
Ia menjelaskan bahwa pembina utama, Sugiyono (62), memiliki sertifikat pembina nasional, sementara Heri Setiyawan adalah penjaga sekolah yang membantu kegiatan Pramuka.
Nunuk menekankan pentingnya evaluasi kegiatan luar kelas agar memperhatikan kemampuan fisik siswa serta manajemen risiko.
“Harus melihat kemampuan anak. Harus juga manajemen risiko,” tegasnya.
Ia menambahkan, kegiatan pengenalan tanaman obat memang tercantum dalam kurikulum, namun perlu pengawasan ekstra terutama jika berada di sekitar area berbahaya seperti sungai.
Sebagian Artikel Ini Telah Tayang di Kompas.com dengan Judul
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.