PBB Ungkap Angka Pengangguran Global Stabil, tapi Kemiskinan Ekstrem Masih Mengintai Gara-gara Ini
Tingkat pengangguran dunia pada 2026 dilaporkan stabil. Setelah dunia menghadapi berbagai guncangan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari perlambatan perdagangan hingga perubahan kebijakan global, pasar tenaga kerja tampak mampu bertahan lebih baik dari perkiraan awal.
Namun di balik angka yang terlihat stabil tersebut, tersimpan persoalan struktural yang jauh lebih dalam. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menilai bahwa kondisi pasar tenaga kerja global saat ini masih jauh dari kata sehat.
Stabilitas pengangguran justru menutupi kenyataan pahit berupa minimnya pekerjaan layak, tingginya angka kemiskinan pekerja, serta kerentanan kelompok muda dan perempuan di pasar kerja.
Dalam laporan terbarunya, International Labour Organization (ILO) menyebut tingkat pengangguran global diperkirakan tetap stabil pada 2026. Meski demikian, ILO memperingatkan bahwa stabilitas tersebut menyembunyikan kekurangan serius dalam kualitas pekerjaan.
Upaya untuk meningkatkan mutu pekerjaan global dinilai stagnan, menyebabkan ratusan juta pekerja tetap hidup dalam kemiskinan. Ketidakpastian perdagangan global juga berisiko menekan upah pekerja di berbagai negara.
Laporan ILO mencatat tingkat pengangguran global berada di kisaran 4,9 persen pada tahun lalu dan tahun sebelumnya, dan diproyeksikan bertahan di level serupa hingga 2027. Angka ini setara dengan sekitar 186 juta orang yang menganggur secara global pada tahun ini.
“Pasar tenaga kerja global terlihat stabil, tetapi stabilitas tersebut sangat rapuh,” kata Kepala Departemen Riset ILO, Caroline Fredrickson, sebagaimana dikutip dari RTE, Kamis, 15 Januari 2026.
Ribuan Pencari Kerja Padati Job Fair
Ia mengingatkan bahwa ketenangan yang tampak ini menutupi masalah yang lebih dalam dan belum terselesaikan. Laporan menyoroti meningkatnya risiko dari ketidakpastian kebijakan perdagangan global.
Di tengah kebijakan tarif tinggi yang diterapkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap berbagai negara, ILO memperingatkan bahwa gangguan akibat ketidakpastian perdagangan, dikombinasikan dengan transformasi jangka panjang dalam perdagangan global, dapat berdampak signifikan pada pasar tenaga kerja.
Ke depan, pemodelan ILO menunjukkan bahwa peningkatan moderat dalam ketidakpastian kebijakan perdagangan dapat mengurangi imbal hasil tenaga kerja dan, sebagai konsekuensinya, menurunkan upah riil bagi pekerja terampil maupun tidak terampil di seluruh sektor. Dampak ini diperkirakan paling terasa di Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Eropa.
Potensi perdagangan untuk menciptakan lapangan kerja baru juga semakin tertekan. Laporan tersebut mencatat bahwa pada 2024, sekitar 465 juta pekerjaan secara global bergantung pada permintaan luar negeri melalui ekspor barang dan jasa serta rantai pasok terkait.
Isu besar lain yang disoroti ILO adalah kualitas pekerjaan yang tersedia. Direktur Jenderal ILO, Gilbert Houngbo, menegaskan bahwa pertumbuhan yang tangguh dan angka pengangguran yang stabil tidak boleh mengalihkan perhatian dari kenyataan yang lebih dalam.
“Pertumbuhan yang tangguh dan angka pengangguran yang stabil seharusnya tidak mengalihkan perhatian kita dari kenyataan yang lebih dalam: ratusan juta pekerja masih terjebak dalam kemiskinan, sektor informal, dan keterpinggiran,” ujarnya.
Laporan tersebut menemukan bahwa hampir 300 juta pekerja masih hidup dalam kemiskinan ekstrem, dengan penghasilan kurang dari US$3 per hari atau setara sekitar Rp50.100 per hari. Selain itu, sekitar 2,1 miliar pekerja diperkirakan bekerja di sektor informal pada tahun ini, dengan akses terbatas terhadap perlindungan sosial, hak ketenagakerjaan, dan jaminan kerja.
Kelompok usia muda menjadi salah satu yang paling rentan. ILO memproyeksikan tingkat pengangguran usia 15 hingga 24 tahun mencapai 12,4 persen pada 2025. Sekitar 260 juta anak muda tercatat tidak terlibat dalam pendidikan, pekerjaan, maupun pelatihan.
ILO juga memperingatkan bahwa kecerdasan buatan dan otomatisasi berpotensi memperburuk tantangan tersebut, khususnya bagi kaum muda terdidik di negara maju yang tengah mencari pekerjaan pertama dengan keterampilan tinggi.
“Meski dampak penuh AI terhadap pekerjaan kaum muda masih belum pasti, potensi skalanya cukup besar sehingga perlu dipantau secara ketat,” demikian bunyi laporan tersebut.
Selain itu, ILO menyoroti ketimpangan gender yang masih mengakar, dengan perempuan hanya mencakup sekitar dua perlima dari total lapangan kerja global. “Pasar tenaga kerja yang stabil tidak selalu berarti sehat,” kata Fredrickson.
Ia menekankan pentingnya pilihan kebijakan domestik untuk memperkuat hasil pekerjaan layak. “Tanpa tindakan tegas, stabilitas hari ini berisiko berubah menjadi ketimpangan yang lebih dalam,” ujarnya.