Nestapa Suderajat, Sudah Difitnah Soal Es Spons, Kini Dipersoalkan Tinggal di Kontrakan padahal Rumah Rusak

Sosok Suderajat (49), pedagang es gabus yang belakangan viral usai bertemu Gubernur Jawa Barat periode 2018-2023 Dedi Mulyadi, kini tengah menjadi sorotan publik.
Setelah sempat memanen simpati karena difitnah menjual es berbahan spons, kini ia justru menuai cemoohan akibat tudingan kebohongan terkait tempat tinggalnya.
Pihak Kecamatan Bojonggede akhirnya angkat bicara untuk meluruskan polemik yang berkembang di media sosial.
Alasan Suderajat Tinggal di Kontrakan
Camat Bojonggede, Tenny Ramdhani, menegaskan bahwa Suderajat bukan tidak memiliki rumah. Keputusannya tinggal di kontrakan bersifat sementara karena hunian pribadinya sedang dalam tahap perbaikan menyeluruh.
"Dari hasil asesmen, Pak Suderajat sebagai warga kategori miskin. Dia memang punya rumah sendiri. Tapi saat ini rumahnya rusak dan sedang diperbaiki oleh Pemkab melalui program Rutilahu (Rumah Tidak Layak Huni)," ujar Tenny kepada Kompas.com, Jumat (30/1/2026).
Tenny menjelaskan bahwa proses rehabilitasi rumah tersebut sudah berjalan sejak Desember 2025. Terlebih, rumah Suderajat sempat roboh akibat cuaca ekstrem pada awal tahun.
"Selama proses pembangunan berlangsung, Pak Suderajat diungsikan sementara ke kontrakan," tambahnya.
Indikasi Disabilitas dan Trauma
Mengenai pernyataan Suderajat yang dinilai publik sering berubah-ubah saat diwawancarai, Tenny mengungkapkan adanya temuan dari hasil asesmen lintas instansi. Suderajat dan istrinya diduga memiliki keterbatasan psikologis dan mental.
"Hasil dari asesmen kami, terdapat indikasi disabilitas, baik pada Pak Suderajat maupun istrinya. Ada dugaan gangguan mental pascatrauma," ungkap Tenny.
Kondisi ini membuat kemampuan komunikasi verbal keduanya sangat terbatas. Tekanan setelah kejadian fitnah aparat serta banyaknya orang yang mendatangi kediamannya diduga memperparah kondisi mental Suderajat.
"Jadi Pak Suderajat itu memerlukan perhatian khusus. Dia tidak terbiasa bertemu orang banyak," jelasnya lagi.
Bantahan Produsen, Spons Lebih Mahal dari Sagu
Di sisi lain, polemik mengenai bahan baku es gabus juga dijawab tegas oleh Narsumi, pemilik tempat produksi es gabus yang dijual Suderajat di kawasan Pancoran Mas, Kota Depok.
Narsumi menjamin produknya aman dan menggunakan bahan-bahan sederhana seperti sagu aren, gula pasir, vanili, dan pewarna makanan. Ia menepis keras isu penggunaan spons atau Polyurethane Foam (PU Foam).
"Enggak ada lah (spons). Spons itu lebih mahal daripada sagu aren," cetus Narsumi saat ditemui, Kamis (29/1/2026).
Narsumi menambahkan bahwa proses pembuatan es gabus sangat melelahkan dan memakan waktu berjam-jam, namun keuntungannya sangat minim.
"Capeknya setengah mati bikin es gabus, keuntungannya juga enggak ada. Ini cuma buat bantu orang-orang yang nganggur," katanya.
Kasus ini sempat ditangani oleh pihak kepolisian setelah laporan warga di Kemayoran, Jakarta Pusat. Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Heri Saputra memastikan hasil pemeriksaan medis menunjukkan dagangan Suderajat aman.
“Tim Dokkes Polda Metro Jaya memastikan seluruh sampel es gabus, es kue, agar-agar, dan cokelat meses aman dan layak dikonsumsi. Produk tersebut tidak mengandung zat berbahaya,” tegas Roby.
Kini, pemerintah kecamatan berharap masyarakat berhenti berspekulasi negatif dan melihat kondisi Suderajat secara utuh sebagai warga kurang mampu yang membutuhkan perlindungan
Sebagian Artikel Telah Tayang di Kompas. com dengan Judul
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang